Summer Trip Preparation

Apa yang akan kamu lakukan jika punya libur 4 minggu di musim panas? Saya bertanya pada diri sendiri pada akhir musim gugur 2013 lalu. Hmmm.... tentu saja jawaban tercepat yang melintas di kepala dengan kecepatan 120km/jam saat itu adalah Traveling! Kemana lagi? Hmmm.... mungkin kini saatnya mewujudkan mimpi untuk menginjak tanah Yunani seperti yang telah saya impikan bertahun-tahun silam. Santorini, tempat impian yang merupakan salah satu misi utama saya saat pindah ke Eropa. Maka dimulailah pematangan niat dan rencana untuk berlibur ke pulau putih biru nan cantik itu pada musim panas 2014.

Namun, bukan Fransisca namanya kalau tidak punya ide embel-embel lainnya. Berhubung saya bukan tipe wisatawan yang doyan leyeh-leyeh di pantai dan berjemur berhari-hari (well, kulit saya sudah cukup eksotik untuk itu! hehe) dan menghabiskan beberapa minggu hanya di satu tempat saja untuk relaksasi - seperti para bule pada umumnya - maka saya pun berencana untuk mengunjungi negara lain selain Yunani. Eropa Tengah dan Eropa Timur telah lama menggelitik jiwa penjelajah saya. Keindahan alam dan keunikan budaya nya membuat saya makin penasaran, apalagi setelah mengunjungi Czech, Hungary, dan Poland sebelumnya. Ada sesuatu yang membuat saya selalu ingin kembali ke Eropa bagian timur, yang tidak saya rasakan pada wilayah Eropa bagian barat (kecuali Belanda tentunya... hehe).

Pada Desember 2013, saya menyusun rencana untuk menuju Santorini terlebih dahulu sebagai tujuan utama dalam rencana summer big trip itu. Pergi sendiri alias ber-solo traveling adalah pilihan saya. Hunting tiket pun dimulai. Dengan bekal sedikit uang di tabungan, dengan sabar saya memilah-milah promo tiket pesawat dari hari ke hari hingga pada akhir Januari 2014 saya akhirnya mendapat sebuah tiket one way direct flight dari Copenhagen ke Santorini seharga 200 Euro. Memang bukan tiket yang murah walau itu sudah termasuk harga promo, mengingat tanggal keberangkatan saya memang pada the highest season, bulan Juli. Dan jujur saja, tiket Copenhagen-Santorini ini adalah tiket termahal yang pernah saya beli dalam sejarah blusukan saya di Eropa selama ini. Hahaha... Ya nggak apa-apa lah ya, demi mewujudkan mimpi!

Setelah tiket berangkat terbeli, saya mulai menyusun rute 3 minggu perjalanan, karena saya berencana menghabiskan 1 minggu lainnya untuk 'pulang kampung' ke Belanda terlebih dahulu sebelum mulai ngetrip ke Eropa Timur. Rute yang disusun pun mengalami perombakan berkali-kali karena pertimbangan masalah visa dan keamanan dari beberapa negara Eropa Timur yang masih belum bisa saya pastikan. Yang awalnya, rencana saya mengunjungi Macedonia, Romania, dan Serbia, akhirnya berubah karena saran dari beberapa teman yang pernah kesana, menyarankan untuk tidak bepergian seorang diri bagi seorang wanita. Akhirnya pelan-pelan, sambil menabung dan nyicil beli tiket dari satu negara ke negara lainnya, fix route perjalanan saya pun tersusun rapi (makan waktu 3 bulan untuk menyusun fix itinerary ini!).

Pertengahan April 2014, tepat pada ulang tahun saya yang ke 17 (++), saya memanjatkan permohonan doa yang tidak main-main yaitu: "Minta dilancarkan rencana dan rejekinya untuk rencana besar summer trip nanti." :) Dan pada akhir April, dengan bulat tekad saya mengukuhkan rute perjalanan saya sebagai berikut: Copenhagen - Greece/Yunani (Santorini & Athens) - Italy (Rome, Pisa, Cinque Terre, Florence & Venice) - Vatican - Slovenia (Ljubljana & Bled) - Croatia (Zagreb & Plitvice) - Austria (Vienna) - Slovakia (Bratislava) - Latvia (Riga) - Copenhagen. Mengunjungi 8 negara selama 21 hari kedengarannya cukup gila dan melelahkan! Ya memang... Tapi tunggu cerita saya saat mengulas satu per satu kunjungan saya nanti ya... ;)

Untuk urusan tiket AKAPAN 'Antar Kota Antar Provinsi Antar Negara' (yaelah, macam bus aja AKAP! hahaha), saya mengkombinasikan pesawat, kereta, dan bus. Untuk urusan akomodasi, saya menggunakan lebih banyak couchsurfing dan lebih sedikit hostel serta tak lupa juga tidur di airport. Itulah nikmatnya solo traveling, mau tidur dimana saja bebas, nggak perlu khawatir travel mate nya nggak comfort atau complain diajak ngemper di airport atau terminal sekalipun! Hehe... Perburuan Couchsurfing sudah saya lakukan sejak pertengahan Mei. Saya mendapat 7 host, 4 hostel, 1 campsite, dan 2 airport sebagai tempat menginap saya selama 21 hari perjalanan. Semua pembayaran tiket dan bookingan hostel telah saya selesaikan sebelum Juli, jadi nanti pas jalan nggak perlu kepikiran deh belum bayar ini itu.

Mengenai perlengkapan yang akan dibawa, saya seperti biasa hanya akan menyandang sebuah backpack dan sebuah tote bag. Kebetulan backpack Deuter ACT Trail 24lt saya lumayan mampu menampung kebutuhan selama satu bulan perjalanan. Mulai dari baju-baju (total 15 potong), travel towel, toiletries, obat-obatan, teh + kopi + gula + nutella sachet, sendok + garpu, lunch box kecil, tripod, gadget + segala printilan kabel dan charger nya, payung, sandal, buku, topi, kacamata, persediaan urusan kewanitaan, dan sendal jepit. Tak lupa juga money belt untuk menyimpan uang dan dokumen penting seperti paspor atau ID card yang dipasang di bawah baju. Kelihatannya banyak banget ya? Memang. Dan keahlian packing pun sangat dibutuhkan dalam hal ini. Namun akhirnya saya pun berhasil mengepak seluruh barang bawaan ke dalam sebuah ransel (tote bag pun masuk ke ransel), sehingga saya tidak perlu membayar biaya bagasi di pesawat. Cabin size (maksa) sudah cukup buat saya. :) #ngirit


Persiapan fisik dan stamina pun perlu. Lho? Buat apa? Kan bukannya mau naik gunung? Iya sih memang bukan mau naik gunung, tetapi saya nantinya akan banyak berjalan kaki selama menjelajahi belasan kota di beberapa negara tersebut. Kalau stamina tidak dijaga, nanti bisa-bisa drop dan jatuh sakit di perjalanan. Kan repot... Persiapan yang saya lakukan sebelum berangkat hanya seputar bersepeda rutin setiap hari, berenang dua hari sekali, dan minum suplemen vitamin C.

Asuransi perjalanan bagaimana? Nah, jika sebelumnya saya tidak pernah menggunakan yang namanya travel insurance selama traveling di Asia dan Eropa, namun kali ini saya berpikir untuk memakai travel insurance. Karena kali ini saya akan traveling bukan satu atau dua hari, melainkan sebulan. Jadi ada baiknya berjaga-jaga kan. Saya mulai mencari referensi beberapa travel insurance, mulai dari yang berkantor di Denmark tempat saya berdomisili, hingga travel insurance online yang kantor nya ada di negara lain. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Single Trip Travel Insurance dari World Wide Insure, dengan premi sebesar £25 (sekitar Rp.500.000) untuk 30 hari. Coverage nya mencakup baggage lost, delayed flight, theft, accident, hospital stay, medical treatment, winter sport, dan outdoor activities lainnya. Termasuk lengkap dan murah. Bahkan WWI ini juga menyediakan paket budget travel insurance untuk backpacker, yang harganya lebih murah dengan coverage terbatas.


Setelah semua persiapan matang dan memastikan semua akomodasi selama perjalanan telah siap, baik para host Couchsurfing dan hostel, saya pun memulai perjalanan summer trip saya dengan langkah mantap. Diawali dengan perjalanan overland pulang kampung ke Belanda terlebih dahulu selama seminggu. Puas wisata kuliner, leyeh-leyeh, dan bertemu teman-teman di Belanda, saya kembali ke Copenhagen untuk terbang ke Yunani. Cerita lengkap selama perjalanan summer trip akan saya tuangkan di kisah-kisah selanjutnya. Stay tune! ;)

Bawaan selama sebulan ngetrip: 7kg backpack kapasitas 24L! :) #travellight

Comments

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)