Wandering Indonesia... Catching Blue Fire! (Banyuwangi edition)

Menjadi orang Indonesia yang sebelumnya kurang begitu mengeksplore Nusantara, membuat saya kadang merasa inferior saat bertemu warga negara asing yang dengan fasih menceritakan setiap jengkal keindahan alam Indonesia. Maka, sejak kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu, saya bertekad dalam hati untuk lebih banyak menjelajahi kepulauan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Dan kesempatan berpetualang pertama saya sejak kembali, adalah mengeksplore Banyuwangi, baik kuliner maupun alamnya. Perjanjian tidak tertulis dengan orang tua saya untuk mengerem hobby jalan-jalan pun kembali saya langgar dengan mengeksekusi selembar tiket PP tujuan Surabaya. Kali ini saya pergi bersama sahabat saya, Asri beserta keluarga sepupunya. Total 5 orang; 4 dewasa dan 1 anak-anak. Lho, backpackingan koq bawa anak kecil? Saya awalnya sempat sangsi, tetapi kesangsian saya akhirnya rontok saat bertemu keluarga kecil ini di Bandara International Juanda Surabaya pada hari H.
Flight to Surabaya

Penerbangan saya menggunakan Garuda Indonesia rute Denpasar – Surabaya, tiba di Juanda sore hari. Sedangkan Asri dan rombongan datang dari Jakarta, dengan waktu kedatangan yang sama. Agenda sore itu adalah wisata kuliner di Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Banyuwangi. Kami dijemput sopir yang kami sewa, dan langsung diantar menuju Rawon Setan yang terkenal seantero negeri. Namun sayang, Rawon Setan nya masih tutup, saat itu baru pukul 17:00, dan baru buka pukul 18:30. Akhirnya kami beralih ke depot rawon lain yang tak kalah terkenalnya, gara-gara pernah masuk di acara kuliner salah satu stasiun tv swasta di Indonesia. Namanya Rawon Kalkulator. Kenapa dinamakan kalkulator? Karena tempat ini mempunyai ciri khas unik yaitu pegawainya mampu menghitung bill pembeli dengan sangat cepat dalam hitungan detik, berapapun banyaknya pesanan pembeli. Kecepatan dan ketepatan menghitungnya itulah yang membuat rawon ini dijuluki kalkulator. Rasa? Lumayan enak meski untuk sambal nya menurut saya masih kurang cetar membahana. Hehehe… Selesai berurusan dengan rawon, kami mulai icip-icip berbagai gerobak makanan yang tersebar di sekitar Taman Bungkul, Surabaya.
Rawon Kalkulator
Pentol / Cilok
Lumpia
Rujak soto khas Banyuwangi

Kali ini kami menggunakan jasa tour operator khusus backpacker untuk menghandle perjalanan eksplorasi kami, yaitu operator amazingbanyuwangi(dot)jigsy(dot)com. Dengan harapan segala urusan transportasi dan surat-surat perijinan serta tiket masuk wisata akan lebih mudah terorganisir dan kami hanya tinggal menikmati keindahan alam saja. Karena rencana kami adalah tidak hanya mengeksplorasi Banyuwangi saja, namun juga underwater Pulau Menjangan di kawasan Bali Barat. Mengingat juga keterbatasan waktu yang kami miliki (4 hari) makanya kami sepakat memakai jasa TO ini. Namun ekspektasi kami rupanya menemui kendala dan berujung pada kekecewaan dan hilangnya kepercayaan kami pada TO tersebut. Kronologisnya akan tertuang dalam keseluruhan cerita ini.
Dari Surabaya kami start jam 22:30 menuju Banyuwangi, dan malam itu kami pun tidur di mobil selama perjalanan. Tiba di desa Jajag, Banyuwangi pukul 05:00 pagi dengan kondisi cuaca hujan deras. Kami yang masih tertidur pulas tiba-tiba dibangunkan oleh sopir untuk pindah mobil (lagi). Sebelumnya kami sudah di oper mobil pada saat di Surabaya, dan ini adalah kali kedua kami harus pindah mobil dan mengusung barang bawaan kami. Sungguh tidak nyaman tentu saja. Dan itu sudah membuat kami sedikit mengerutkan dahi atas keprofesionalan TO yang kami pakai tersebut. Untung saja sopir kami berikutnya ini, Pak Syam, sangat baik dan sabar. Beliau mengantar kami ke tempat tujuan wisata dan juga berwisata kuliner di Banyuwangi. Pak Syam ini sangat saya rekomendasikan jika anda ingin mengeksplore kota Banyuwangi dan Jawa Timur. (no.telp nya bisa minta ke saya) ;)

Pak Syam, sopir baik hati yang telah mengantar kami melihat indahnya Banyuwangi

Tiba di Banyuwangi kami berhenti sebentar untuk sarapan dan langsung menuju Teluk Hijau atau Green Bay, di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Pemandangan sepanjang perjalanan didominasi persawahan dan perkebunan buah naga, karena memang daerah Banyuwangi Selatan ini terkenal sebagai sentra penghasil buah naga. Medan perjalanan semakin menantang saat mulai memasuki kawasan desa Sukamade, dimana kondisi jalanan yang rusak berlubang dimana-mana. Sepertinya untuk kesini memang paling cocok pakai mobil Jeep atau Trooper deh. Namun hal tersebut tidak membuat kami menciut karena kami dihibur oleh pemandangan hijau nan teduh sepanjang jalan.
Tiba di Pantai Rajegwesi  jam 10 pagi, kami langsung memulai trekking ke Green Bay sejauh kurang lebih 3km dengan rute sedikit menanjak. Kami bisa saja menyeberang ke Green Bay menggunakan perahu nelayan atau menyewa jasa ojek. Tapi kurang seru donk ya kalau tidak mencoba medan sesungguhnya dengan kaki sendiri. Kami pun berjalan melintasi bukit dan sesekali bertemu monyet-monyet liar yang bergelantungan di pepohonan. Pantai pertama yang kami temukan adalah Stone Shore atau Pantai Batu. Sesuai namanya, tidak ada pasir di pantai ini melainkan batu-batu pipih (pebbles) memenuhi sepanjang garis pantai. Deburan ombak nya cukup besar dan dengan ganasnya menghantam batu-batu karang di pinggir pantai. Sangat tidak direkomendasikan untuk berenang disini!

Desa Sukamade

Stone Shore

Green Bay

Kami melanjutkan perjalanan menuju Green Bay yang terletak bersebelahan dengan Stone Shore. Tiba di Green Bay, suasana pantai langsung berubah. Wajah pantai yang semula terkesan keras dan tidak ramah karena dipenuhi bebatuan dan karang, kini berganti ramah dengan hamparan pasir lembut dan air laut hijau kebiruan. Memang ombak masih tergolong besar, namun oke untuk sekedar mencelupkan diri di air laut, asal tidak nekat berenang. Di pantai ini juga terdapat sebuah air terjun setinggi kurang lebih 8m, namun hanya mengalirkan air saat musim hujan saja. Jadi setelah puas bermain air laut, kita bisa membasuh diri di air terjun ini. Segar sekali rasanya, meski kami hanya menjumpai aliran air yang sangat kecil mengalir turun dari tebing batu. Haha…
Kami memilih menggunakan kapal nelayan jenis jukung untuk perjalanan kembali ke Rajegwesi, dengan membayar tarif Rp.25.000/orang. Cuaca mendung dan berangin sore itu sukses membuat kami terombang-ambing dahsyat didalam perahu nelayan yang sempit itu. Antara ngeri dan seru bercampur jadi satu setiap kali ombak menghempas dan membasahi seisi perahu. Mendebarkan sekali!

Serunya terombang-ambing naik Jukung

Kami lanjut menuju ke Pulau Merah, di kecamatan Pesanggrahan – Banyuwangi. Pulau Merah ini sebenarnya adalah bukit hijau bertanah merah di tengah laut, yang bisa dicapai jika air sedang surut. Pulau ini akan terlihat merah terutama saat matahari tenggelam, karena pantulan cahaya matahari yang menimpa bebatuan dan tanah di pulau itu merefleksikan warna merah yang indah. Itulah mengapa pulau ini disebut dengan nama Pulau Merah. Kami tidak berlama-lama di pulau ini, sehingga kami tidak sempat menyaksikan sunsetnya.

Keceriaan anak-anak menemukan kerang

Pulau Merah

Para pencari kerang di Pulau Merah

Saat air sedang surut, bisa menyeberang ke Pulau Merah

Saya dan Asri di Pulau Merah

Malam itu kami menginap di sebuah hotel di tepi pantai, Hotel Baru Dua Beach. Untuk paket backpacker yang kami bayarkan, hotel ini termasuk lumayan karena punya nilai plus yaitu terletak di pinggir laut. Deburan ombak pun langsung menghantam tembok pagar hotel. Dan bonusnya adalah sunrise indah di pagi hari dapat dengan mudah dinikmati dari balkon hotel. Jangan bandingkan dengan hotel berbintang, karena hotel ini adalah tipe akomodasi simple dengan fasilitas minimalis. Kami sih tidak masalah, kan cuma dipakai untuk tidur saja, karena siang hari waktu kami habiskan di luar.

Sunrise dari balkon hotel

Ombak yang menghantam langsung dibawah balkon hotel

Esok harinya, kami seharusnya menyeberang ke Pulau Menjangan untuk acara snorkeling seharian. Namun kami menerima kabar kurang mengenakkan dari TO (yang disampaikan melalui Pak sopir) yang menyatakan bahwa kami tidak bisa ke Menjangan hari itu. Alasannya ada demonstrasi para nelayan di Menjangan yang menolak kunjungan wisatawan dari Banyuwangi. Kecewa? Tentu. Tapi TO akhirnya mengganti dengan trip ke Pulau Tabuhan, sebuah pulau kecil tidak jauh dari Menjangan. Ya okelah, daripada tidak melakukan apa-apa. Kami pun berangkat ke Pulau Tabuhan dengan perahu yang rupanya disewa dadakan oleh pak sopir atas permintaan si TO. Jika dalam paket tertera bahwa peralatan snorkeling lengkap dan makan siang telah disediakan oleh TO, kenyataan nya tidak! Kami membeli sendiri makan siang kami dan menyewa alat snorkeling sendiri. Suasana hati kami (khususnya saya!) pun mulai berubah bete. Bayangan indah bisa menikmati underwater Menjangan pun kandas, bahkan masih harus mengeluarkan biaya untuk snorkeling dan makan siang, yang seharusnya ditanggung oleh TO.
Tetapi keindahan pantai Pulau Tabuhan lumayan berhasil menyurutkan emosi kami. Jernihnya air hijau turquoise dan pasir putih nan bersih mampu mengembalikan mood yang berantakan. Meski pemandangan bawah air nya kurang beragam, baik karang maupun ikan nya.
Tengah hari, sang nelayan yang mengemudikan kapal kami memberi kabar bahwa kami bisa masuk ke kawasan Menjangan dengan membayar tambahan biaya Rp.700.000. What??? Awalnya kami heran, koq pihak TO bilang bahwa kami tidak bisa masuk ke Menjangan karena ada demo, tapi nelayan ini bilang bisa. Kami pun penasaran dan melakukan tawar menawar. Harga disepakati dan kami meluncur penuh semangat ke Pulau Menjangan. Kan sayang kalau sudah jauh-jauh kesini tapi tidak ke Menjangan yang notabene terpampang tak jauh di depan mata.

Asyik main air

Pulau Tabuhan, 01 June 2015
(Photo courtesy by Reginald)

Wandering the island
(captured by Asri Zefanya)

Tiba di Menjangan, kami wajib lapor ke penjaga pulau dan membayar tiket masuk sebesar Rp.25.000/orang. Kami pun meminta penjelasan dari petugas penjaga pulau mengenai kabar ditutupnya Menjangan hari itu karena ada demo nelayan. Ternyata kabar tersebut tidaklah benar. Yang benar adalah, ikatan travel agent di Bali melakukan mogok mengirimkan wisatawan asing ke Menjangan dikarenakan adanya kenaikan tarif tiket masuk menjangan bagi turis asing. Sedangkan wisatawan lokal tetap dapat mengunjungi Menjangan dengan tarif yang tidak berubah. Nah, berarti  kan si TO yang menghandle perjalanan kami itu tidak menyaring berita secara benar, malah dengan seenaknya sendiri merubah-rubah itinerary yang kami susun. Kami sudah bayar full untuk tujuan Menjangan ini ke TO, tapi malah dialihkan ke Pulau Tabuhan. Hingga akhirnya kami sewa perahu sendiri untuk ke Menjangan.  Kan curang namanya!
Di Pulau Menjangan, kami asyik ber-snorkeling di sekitar dermaga pulau. Underwater nya WOW! Meski cuma di pinggir-pinggir, kualitas terumbu karang dan keragaman ikan nya mampu bikin mulut ternganga. Bayangkan jika menyelam, pasti akan jauuuuuh lebih indah lagi! Tak bosan rasanya bercengkrama dengan teman-teman bawah laut itu. Mungkin kami akan masih terus bermain di air selama berjam-jam jika rombongan ubur-ubur tidak genit mencium-cium kami. Haha… Ya, banyak sekali ubur-ubur kecil yang ikut bercengkrama dengan kami sampai kami pun menyerah gatal-gatal disengat ubur-ubur mini itu.

Pulau Tabuhan & Semeru as the background

just enjoying the clear calm water

we made it to Menjangan!

Kami tidur siang dulu ya :)

exploring Menjangan underwater
teman bawah laut kita
(photo courtesy by Reginald)

Gabriel Given, si bocah petualang

Menjangan underwater
(photo courtesy by Reginald)

Sore hari, dalam perjalanan kembali ke hotel, kami disuguhi indahnya gunung Semeru yang menjulang dengan puncak Mahameru berselimut awan. Sungguh megah dan indah alam Indonesia ini.
Semeru berselimut salju... eh, awan! :p

Tiba di pantai, ternyata ketidakberuntungan kami masih berlanjut. Pak sopir memberitahukan bahwa kami harus pindah hotel dikarenakan pihak TO hanya membooking hotel Baru Dua Beach selama 1 malam saja, dan mengalihkan kami ke hotel lain di malam berikutnya. Apa lagi ini?! Dalam paket yang kami bayarkan, tidak ada disebutkan bahwa kami akan ditempatkan di dua hotel berbeda, namun kini saat sudah disini kami harus pindah-pindah hotel begini! Sangat mengecewakan. Emosi di kepala yang sudah ditahan-tahan sejak pagi plus kebanyakan menelan air laut saat snorkeling tadi, membuat tensi darah saya naik dan kemarahan pun meledak. Pihak TO tidak mau menemui saya dan hanya menanggapi complain saya melalui telepon, itu pun berakhir secara tidak baik-baik. Saya complain mengenai kunjungan ke Menjangan yang seharusnya dapat dilaksanakan namun dengan sengaja dialihkan ke Pulau Tabuhan sehingga mengakibatkan kami membayar tambahan biaya sebesar Rp.600.000 untuk bisa sampai di Menjangan. Namun bukannya meminta maaf atas ketidak-transparan mereka sebagai TO, saya malah dituduh menyalahi aturan dan melakukan perjalanan illegal ke Menjangan. Lho? Illegal darimana? Kami kan melapor dan membayar bea masuk Menjangan saat tiba di pulau tersebut kepada pihak resmi penjaga pulau/hutan (ranger) di sana! Koq bisa-bisanya saya disebut pengunjung illegal? TO bahkan menantang saya untuk membawa masalah ini ke pihak polisi. Lho? Saya ini kan cuma customer yang complain karena merasa kecewa tripnya berantakan dan kecewa karena harus menambah biaya cukup besar untuk sampai Menjangan. Saya tidak ada niatan sedikit pun untuk bawa-bawa ke jalur hukum. Saya hanya minta pertanggung jawaban pihak TO atas ketidaknyamanan yang kami tanggung. Kami pun tidak meminta full refund. Uang bukanlah masalah besar bagi kami, namun tanggung jawab dan keprofesionalan lah yang kami butuhkan dalam kasus ini. Namun tidak ada itikad baik permintaan maaf atau nada yang menenangkan dari pihak TO. Padahal, jika saja mereka mau berlapang dada dengan mengakui kelalaian mereka dan meminta maaf, kami pun pasti akan menutup masalah ini baik-baik. Percakapan telepon bernada tinggi selama setengah jam tersebut akhirnya berakhir dengan kesepakatan TO akan mengembalikan uang senilai Rp.50.000/orang sebagai ganti rugi gagal nya trip ke Menjangan melalui organizer mereka.
Sesampai di Hotel Baru Dua Beach, dimana kami diharuskan angkat kaki dan pindah ke hotel Berlian Abadi, kembali terjadi hal yang sangat mengecewakan kami. Kami dikenakan charge untuk late check out karena kami tiba di hotel jam 18:00. Hello??? Ini kesalahan siapa kah? Dari awal kami tidak diberitahukan bahwa kami akan dipindahkan ke hotel lain. Dari awal kami tidak diberitahu itinerary pasti mengenai jam berapa kami harus kembali ke daratan setelah snorkeling ke Pulau Tabuhan. Dan sesuai itinerary paket yang telah kami setujui, hari itu kami seharusnya kembali ke daratan di sore hari. Plus, kami kan bukan booking open trip, kami ini bayar harga PRIVATE TRIP dimana seharusnya kami berhak menentukan perjalanan kami sendiri, tidak terikat dengan ketentuan peserta lain karena memang trip ini hanya untuk kami ber-5 saja! Kemarahan yang sempat reda pun kembali meledak di kepala saya. Saya menelepon kembali TO yang berakhir pada ditutupnya telepon saya oleh TO pada saat saya masih berbicara. Apakah hal tersebut sopan? Apakah sebagai seorang Travel Organizer yang menyediakan jasa melayani pariwisata, dapat berkelakuan seperti itu? Saya bertahun-tahun bekerja di dunia pariwisata baik outbound maupun inbound, haram hukumnya meng-insulting customer sedemikian rupa! Tetapi perlakuan yang saya terima kali ini benar-benar membuat saya kecewa dan sedih, ternyata masih ada pihak-pihak yang secara tidak professional mengelola bisnis pariwisata di Indonesia!!
Saat kami berniat membayar biaya late check out, pihak hotel mengambil jalan tegas dengan memberitahukan ke TO bahwa late check out charge kami akan dibebankan ke TO sebagai penalty akan kelalaian TO mengorganisir perjalanan kami sesuai ketentuan. Tak hanya itu, pihak hotel pun menyatakan akan mem-black list TO dari daftar klien mereka, karena kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Kami bukan korban pertama rupanya! Hm… Lesson learned. Lain kali harus betul-betul berhati-hati dalam memilih TO. Salah pilih bisa berakibat bete selama liburan.
Akhirnya untuk meredakan emosi, kami berwisata kuliner di Banyuwangi. Kami makan Rawon, Rujak Soto, dan Tahu Petis. Perut kenyang, emosi pun reda, hehe… Tiba di hotel, kami hanya punya waktu 3 jam untuk beristirahat sebelum memulai perjalanan ke Gunung Ijen. Ya, tujuan utama kami ke Banyuwangi memang untuk melihat Ijen Blue Fire (Api Biru) di kawah Ijen. Jam 23:30 kami start menuju Ijen, dilanjutkan dengan hiking selama 1 jam 45 menit menuju puncak Ijen. Pintu pos Ijen dibuka pada pukul 01:30. Kami dengan semangat mulai mendaki jalanan menanjak yang makin lama makin tajam. Kami ber-5 (4 dewasa dan 1 bocah umur 5 tahun) ditemani seorang guide. Seperti saya sebutkan di awal, kakak sepupu Asri membawa anak nya yang masih berumur 5 tahun, bernama Gabriel Given. Anak kecil ini menjadi satu-satunya peserta pendakian termuda. Given bukan sembarang anak kecil. Dia telah mendaki beberapa gunung di pulau Jawa sejak berumur 3 tahun. Sebut saja Papandayan, Salak, Gede, dan Bromo. Tak hanya itu, dia juga sangat suka berarung jeram di sungai-sungai berarus deras seperti Citarik, Citatih, dan Sungai Baru di BogorMengarungi laut di Teluk Kiluan Lampung untuk melihat lumba-lumba dan memancing di laut lepas pun sudah pernah dialaminya. Meski usianya tergolong masih sangat muda, namun jiwa adventure sudah melekat di dirinya, terbawa dari hobby ayahnya yang memang suka blusukan di penjuru Nusantara. Saya merasa beruntung bisa mengenal keluarga petualang ini. Dan selama beberapa hari bersama mereka, tak sekalipun saya lihat Given menangis rewel dalam perjalanan. Dia selalu ceria, cenderung error (cekikikan sendiri) malah kalau kecapean hahaha! Dan malam itu pun saya dibuat terkesima melihat bocah 5 tahun itu berjalan mendaki Ijen setinggi 2.443m, dari Paltuding sampai ke bibir kawah Ijen, tanpa di gendong! Saya yang orang dewasa ini saja ngos-ngosan dan kewalahan.

Keluarga petualang :)
Reginald, Isty, & Given

Like father like son!

naik naik ke puncak gunung

Sampai di puncak Ijen, kami disarankan untuk memakai masker ala penjinak bom di film-film (bukan masker dokter) karena asap belerang yang pekat dapat berbahaya bagi yang tidak kuat menghirupnya. Kami melanjutkan sisa 800m perjalanan menuruni kawah dengan trek yang cukup ekstrim berbatu, menuju ke jantung kawah dimana kami dapat menyaksikan Blue Fire. Nah di trek ini, Given baru di gendong, karena medan nya sangat berbahaya bagi anak-anak, yang sebenarnya sangat tidak disarankan untuk ikut turun ke kawah. Perjalanan yang seolah tak berujung itu saya gambarkan seperti perjalanan Frodo melewati Emyn Muil ke Mordor dan menuruni Doom Creek di Orodruin. Berbatu, terjal, berasap pekat, dan penuh bahaya. Hehe… (Maafkan fantasi LOTR saya yang berlebihan ini).

Kawah Ijen

jurang menganga yang tertutup kabut

foto Blue Fire paling lumayan yang berhasil didapat
(captured by Asri Zefanya)

Sampai di dasar kawah, terlihat kobaran si Api Biru / Blue Fire itu menjilat-jilat setinggi kurang lebih 5m ke udara. Sungguh maha dahsyat alam ciptaan Tuhan. Ternyata api biru tak hanya ada di kompor Ibu di rumah, di kawah Ijen ini, fenomena alam Blue Fire merupakan yang terbesar di dunia. Banyak peneliti, fotografer, dan pecinta alam berbondong-bondong kesini untuk menyaksikan fenomena alam tersebut. Kami bertahan selama kurang lebih 15 menit di dasar kawah untuk mencoba mengambil foto Blue Fire. Namun angin bertiup tak menentu mengakibatkan dasar kawah dipenuhi asap belerang pekat yang menyebar dengan cepat. Kami pun diinstruksikan untuk cepat-cepat kembali ke atas. Mendaki bibir kawah memerlukan tenaga ekstra dan ketajaman mata. Salah-salah menapak, bisa terpeleset dan berakhir fatal. Sungguh saya seolah merasakan perjuangan Frodo dan Sam Gamgee dalam misi mereka memusnahkan The One Ring! Hehe… :D

Dead valley

sulfur mining porter

Jam 05:00 kami tiba di puncak kawah dan beristirahat sejenak sambil makan tahu petis dingin. Meski dingin dan tidak crispy lagi, tetap saja terasa enak karena rasa lapar bercampur lelah dan dinginnya udara. Setelah mengumpulkan stamina kembali, kami pun mulai menuruni gunung untuk kembali ke Paltuding. Kami melalui jalan setapak berkabut yang menurun. Dan ketika angin bertiup menyibak kabut, kami disuguhi pemandangan indah luar biasa! Jurang membentang di depan kami dengan latar belakang gunung-gunung berselimut awan. Gunung Meranti dan Raung terlihat berdiri anggun dengan puncak yang disinari semburat cahaya matahari. Hanya decak kagum dan rasa syukur yang terucap. Alam ciptaan Tuhan sungguh luar biasa indahnya! Ini merupakan pendakian gunung pertama dalam hidup saya. Dan feel yang saya dapatkan membuat saya berniat mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia. Next? Rinjani! :)

menuruni Ijen

Selamat pagi, Indonesia!

Gabriel Given, bocah 5 tahun pendaki gunung-gunung di tanah Jawa!

lukisan tangan Tuhan

admiring the view

Climb the mountain not to plant your flag, but to embrace the challenge, enjoy the air and behold the view. Climb it so you can see the world, not so the world can see you.” _ David McCullough Jr._

Dunia terlalu indah untuk tidak dijelajahi! :)


Comments

  1. "Organizer Liburan Terbaik Anda di Banyuwangi" itu yang jadi jargon TO-nya. Hmm nyatanya jauh banget ya.

    Ikutan geram baca tulisan ini. Itu yang dari awal gak bisa ke Menjangan jangan-jangan sudah kongkalikong ya Sis. Hadeeeeh.

    Btw, foto-fotonya keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya Om! Tipu-tipu banget tuh TO!
      Thanks sudah mampir ya ;)

      Delete
  2. Replies
    1. Hi, Thanks :)
      Next? hmmm.... still hard to decide what's my next adventure will be. haha
      But, I'm planning for Rinjani on October ;)

      Delete
  3. Baru sempet baca hehe...
    Great writing nying. Buruan ambil license diving yaaa...
    hahaha...

    ReplyDelete
  4. kalau kemenjangan sewa langsung kapal ke nelayan bisa ? berapa ?.... karena kl lewat telp Rp.1.500.000,- mahal euy buat back pecker macam kami...
    ada yg nyewain Alat snorkling juga kan ?.... tks.

    ReplyDelete
  5. ke menjangannya lewat pantai watu dodol kan? rencana tanggal 13-15/7 ini mau kesana .... tks

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)