A Lil' Step to... Auschwitz, Poland.


Rintik hujan jam 6:30 pagi itu menambah dinginnya udara pagi yang menusuk tulang saat saya berjalan ke arah terminal Krakow Główny. Jadwal keberangkatan bus pertama menuju Auschwitz adalah jam 7:10 pagi. Alasan mengapa saya sengaja mengambil jadwal paling pagi adalah karena saya ingin menelusuri setiap jengkal Auschwitz I dan II (Birkenau) seharian. Dengan berbekal beberapa potong roti yang saya beli dari sebuah toko Polish bakery, saya pun duduk anteng didalam minivan yang membawa saya menembus jalanan berkabut menuju Auschwitz. Lama perjalanan sekitar satu jam, dengan diselingi hujan rintik-rintik.

Saya tiba di Auschwitz berbarengan dengan rombongan pengunjung pertama hari itu. Sekelompok siswa ABG yang (seperti biasa) berisik dan saling dorong di pintu masuk. Suasana pagi yang berkabut dan dingin, menambah aura 'murung' yang menggantung pekat di atmosfer. Setelah mengantri di loket pembelian tiket masuk museum Auschwitz, yang ternyata FREE jika datang sebelum jam 10:00 pagi dan tanpa menyewa tour guide, saya melenggang masuk dengan bebas dan memulai eksplorasi saya di dalam museum yang dulunya merupakan penjara dan tempat pembantaian warga Yahudi pada masa Perang Dunia II.

Auschwitz I
Auschwitz main gate

Tiba di depan gerbang terkenal yang bertuliskan "Arbeit Macht Frei" (yang artinya "work makes you free), saya berhenti sejenak. Selain untuk mengabadikan wajah gerbang maut tersebut, saya juga mengheningkan cipta sejenak memanjatkan doa bagi ratusan ribu jiwa yang hilang di tempat itu. Suasana pagi berkabut dingin membuat suasana komplek penjara itu terasa makin mencekam. Saya memasuki bangsal demi bangsal, yang berisikan berbagai saksi bisu dan foto-foto kondisi penjara saat masih aktif digunakan. Ada bangsal yang isinya kumpulan berbagai benda dan isi koper dari ribuan orang Yahudi yang digiring ke Auschwitz tanpa tahu kalau mereka akan berakhir di penjara maut itu. Benda-benda tersebut ditumpuk menggunung dalam aquarium, dan dipisahkan menurut kategori jenis bendanya. Ada aquarium kaca yang berisi tumpukan kacamata, sepatu, alat makan, bahkan sisir rambut.

Tumpukan sepatu para tahanan Auschwitz

Barak-barak tempat tinggal para tahanan

In memoriam.....

Ada dua buah bangsal yang memiliki aura sangat kuat bahkan sejak kaki ini melangkah melewati pintu masuknya, yaitu bangsal no.15 dan bangsal rumah sakit. Aura aneh itu seolah menyergap badan saya ketika saya masuk dan seketika membuat kaki ini terhuyung dan leher meremang. Rasanya gelap, dingin, dan meski tak terlihat namun terasa sangat kuat membayangi saat berada di dalam kedua bangsal tersebut. Terutama pada saat saya memandang ke arah deretan baju-baju piyama bergaris, seragam tahanan khas Auschwitz, yang menggantung lusuh berjejer di tepi koridor! Tak mau berlama-lama di dalamnya, saya cepat-cepat keluar mencari sinar matahari dan udara terbuka untuk melegakan dada yang terasa sesak terhimpit oleh aura aneh tadi.

Bangsal No.15 yang misterius

Isi bangsal no.15
Lorong penjara bawah tanah

Salah satu kamar penjara di ruang bawah tanah 

Bangsal Rumah Sakit

Diantara bangsal no.10 dan 11, terdapat sebuah pekarangan yang saya sebut sebagai "Courtyard of Terror". Di pekarangan ini, terdapat tiang-tiang penyiksaan hukum cambuk dan sebuah dinding persegi tempat ribuan manusia dieksekusi mati oleh tentara SS Nazi antara tahun 1941-1943. Saat memasuki gerbang pekarangan, meski cuaca terang namun tetap terasa ada mendung tak kasat mata yang menaungi pekarangan maut itu. Kita diminta mengheningkan cipta untuk menghormati ribuan jiwa yang tercabut paksa di depan dinding eksekusi tersebut. Di dinding itu bahkan masih terlihat ratusan lubang bekas peluru yang menembus badan korban eksekusi mati. Tanpa disadari, air mata pun sempat menitik saat saya termangu di depan dinding terror tersebut.

Dibalik gerbang ini, ribuan jiwa telah dicabut...


Tiang untuk hukuman cambuk

Courtyard of terror

Dinding eksekusi mati
sudut cantik nan horror

Di beberapa sudut komplek penjara, terlihat tiang-tiang gantungan tempat eksekusi mati lainnya. Teronggok diam diterpa hembusan angin berkabut pagi, membuat tiang-tiang itu terlihat sama menyeramkannya seperti di film-film horor! Di sisi kanan komplek penjara, ada sebuah ruangan yang dibangun dibawah gundukan tanah berbukit. Rupanya tempat tersebut adalah The Gas Chamber, dimana ratusan orang dimasukkan kesana dalam keadaan telanjang, dikunci, dan kemudian gas beracun disemprotkan ke dalam ruangan tanpa ventilasi tersebut. Jerit kesakitan dan teriakan maut seolah masih terdengar samar-samar saat saya berdiri diam dengan tenggorokan tercekat tangis di depan sebuah karangan bunga di tengah ruangan maut itu. Bayangan mengerikan seperti digambarkan dalam film "The Boy in the Striped Pajamas" pun terlintas jelas di benak saya. Dapatkah anda bayangkan ribuan nyawa melayang dengan tragis di dalam ruangan segi empat bersegel ini? Di sebelah gas chamber terdapat ruang kremasi, dengan tungku-tungku berisi keranda besi tempat membakar jasad-jasad eksekusi dan meleburnya menjadi abu.

Tiang hukuman gantung

tiang lainnya...

tiang lainnya...
The Gas Chamber

Ruang di dalam gas chamber, tempat ribuan manusia dibunuh dengan gas Hydrogen Cyanide (Racun Sianida)

Crematorium; Oven dengan keranda besi tempat pembakaran mayat

Keluar dari gas chamber, saya berjalan dalam diam menuju pintu keluar dengan melewati deretan pagar-pagar kawat besi yang dulunya dialiri listrik bertegangan tinggi, agar para tahanan tidak bisa kabur dari camp. Deretan pagar kawat yang sudah berkarat itu merupakan saksi bisu betapa mengerikannya aktivitas di dalam camp pada masa Holocaust kala itu. Hembusan angin musim gugur menyerakkan dedaunan di sela langkah kaki saya, membisikkan jerit tangis tak terdengar dari jiwa-jiwa tak terlihat yang saya yakin masih menempati camp pembantaian tersebut. Julukan "The most terrifying place in the world" memang sangatlah tepat disematkan di belakang nama Auschwitz.

Wire of Terror

STOP!!

Kawat berduri, saksi bisu kekejaman sejarah perang di masa lalu

Pagar berduri yang dialiri listrik bertegangan tinggi di masa lalu

Selesai menelusuri jejak kepedihan sejarah di Auschwitz, saya melanjutkan penelusuran ke Birkenau, sebuah camp konsentrasi Nazi tak jauh dari Auschwitz. Birkenau ini juga disebut dengan Auschwitz II. Area camp ini jauh lebih besar dari Auschwitz I, dengan jumlah korban pembantaian yang juga jauh lebih banyak. Puluhan bangsal dan gas chamber pernah di bangun di sana. Namun pada saat Perang Dunia II berakhir, areal Birkenau pun diratakan dengan tanah oleh Soviet. Tinggal tersisa puluhan fondasi bangsal dan beberapa bangsal yang masih utuh. Di Birkenau terdapat rel kereta, yang dulunya dipakai oleh lokomotif-lokomotif pengangkut manusia ke tempat penjagalan. Bahkan masih ada sebuah lokomotif yang diletakkan di tengah areal camp, sebagai memori dan pengingat bahwa dulu ratusan ribu orang Yahudi dan kriminal diangkut kesini dan dijebloskan ke bangsal untuk kemudian dimusnahkan di dalam gas chamber. Di bagian belakang Birkenau, berdiri sebuah monumen peringatan akan pembantaian terbesar umat manusia di muka bumi di tempat itu.

Birkenau (Auschwitz II)

Birkenau main gate

Railway to the death camp! (Ada di film Schindler's List)
Monument peringatan pembantaian Holocaust Auschwitz
Bagian dalam komplek Birkenau

Menara penjaga

Sisa-sisa bangsal yang luput dari serangan Soviet

lokomotif pengangkut tahanan ke death camp

Railway to the death camp!

Atmosfer duka yang menggantung sejak pagi dalam perjalanan kilas balik sejarah hari itu membuat kaki saya terasa cepat lelah meski sore belum juga menjelang. Saya memutuskan menyudahi eksplorasi saya hari itu pada jam 14:00 siang, dan kembali ke Krakow untuk beristirahat. Saya yang biasanya enjoy dan ceria tiap kali traveling, entah kenapa hari itu tak mampu tersenyum. Emosi batin saya telah dibolak-balik tak menentu menyaksikan bukti kekejaman perang pada umat manusia. Duka, sedih, dan kelam. Itulah yang saya rasakan dalam perjalanan saya kali itu.

5 years of mass genocide

Sisa-sisa kekejaman Birkenau

Pagar kawat berlistrik di Birkenau

The Death Gate

Meski perjalanan ke Auschwitz telah saya lakukan pada Oktober 2013, namun saat menuangkan nya dalam tulisan hari ini, dada ini masih bisa merasakan sesak yang sama seperti saat saya berdiri di sana, dua tahun lalu...

Birkenau, October 2013

Comments

  1. Wooww.. Wisata horor.. Serem bener trip nya mbak..

    http://ranseltravel.com/nbjv

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya lebih suka menyebutnya "wisata sejarah rasa horror" hehe

      Delete
  2. Seru bgt ya mbak udh traveling kmna2 pengen bgt sharing2 gmna awalnya sampe bsa traveling kmna2

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)