Lucky I'm in love with... Nature!

Pagi ini, saya bangun pagi meski ini hari Sabtu yang artinya hari libur. Karena saya sudah berencana akan berburu kabut dan sunrise di hutan. Namun, hujan mengguyur Copenhagen dan tak kunjung berhenti juga. Sambil memangku laptop di kasur, ingatan saya terlempar ke sebuah tempat yang saya rindukan... Indonesia!

Bahagia nya saat nyemplung ke sungai nan jernih...

Negara kepulauan, dengan 18.307 pulau, yang terdiri dari 5 pulau utama, dan ribuan pulau eksotis lainnya. Indonesia, dengan bangga saya menyebutnya sebagai tanah kelahiran dan tempat saya dibesarkan ditengah keindahan alamnya, baik hutan pegunungan maupun pantai lautnya. 

Lahir di sebuah desa kecil, di provinsi ujung timur pulau Sumatera, provinsi Lampung. Saya yang berdarah Jogja, wong Jowo asli, dahulu seringkali menyesalkan mengapa saya harus lahir di Lampung, kenapa bukan di Jogja saja? Kan akan terdengar lebih keren jika saya menyebut Jogja sebagai tanah kelahiran saya. Namun yah, saat orok dalam perut mana bisa saya request ke orang tua saya untuk beli tiket bus ke Jogja dan lahir disana. Haha... Dan jadilah saya lahir dan besar di tempat dimana Bapak saya bertugas sebagai PNS kala itu.

Desaku yang ku cinta... (doc. 2010)

Rumah orang tua tempat saya tumbuh di masa kecil, terletak di sebuah desa, tak jauh dari pegunungan, di Lampung bagaian utara. Seperti layaknya desa pada umumnya, jalanan batu berdebu serta hamparan sawah dan ladang sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Jika anak-anak di kota sangat antusias melihat sapi dan kambing hanya saat hari raya Idul Adha, saya bisa melihat mereka setiap hari lalu lalang lewat jalanan depan rumah. Jika anak-anak di kota harus ikut field trip dulu untuk bisa merasakan berinteraksi langsung dengan sawah atau sungai, saya dengan mudah bisa tinggal nyemplung ke sawah atau sungai mana yang saya mau di sekitar rumah. 

Ada air terjun sekitar 5km dari rumah, yang semasa kecil merupakan tempat berpetualang paling mengasyikkan sekaligus mendebarkan buat saya. Dari desa terakhir di kaki gunung, saya harus berjalan kaki sekitar 2km untuk bisa mencapai air terjun itu. Menyusuri aliran sungai bergemericik deras, menapaki jalan setapak berbatu yang kadang terputus oleh aliran sungai kecil atau tunggul kayu mati, mendaki lereng dengan kemiringan yang lumayan bikin jantung deg-degan saat saya masih kecil dulu, berjumpa dengan beberapa siamang hitam di puncak-puncak pohon tinggi (jika beruntung), bahkan saya pernah melihat seekor dua ekor rusa sedang minum dari air kolam di air terjun. Ya pengalaman masa kecil menjelajahi alam sekitar desa itu membuat saya selalu berimajinasi untuk menjelajahi hutan-hutan lain yang lebih luas dan bahkan yang seperti terlihat dalam film-film asing yang saya tonton. Saya pun melabeli diri saya dengan sebutan "anak hutan".

Air Terjun Klawas, Desa Subik. Kotabumi, Lampung Utara.

Tempat petualangan semasa kecil (doc. 2010)

Beranjak ke masa remaja, saya tidak lagi tinggal di desa tempat saya dilahirkan. Semasa SMP saya tinggal di kota kabupaten, yang notabene tidak ada alam yang bisa dijelajahi di sekitar saya. Dan sepertinya naluri 'ke-hutan-an' saya pun luntur. Saat SMA saya tinggal di pusat kota Bandar Lampung, yang terletak dekat pesisir pantai. Kesempatan untuk menjelajahi alam pun datang kembali. Namun kali ini lebih banyak ke area pesisir pantai, keluar masuk pantai tak bernama, mulai dari yang masih bersih tak terjamah hingga yang penuh sesak dengan manusia dan... sampah! Duh, miris melihatnya... Saat sedang menikmati damainya tiupan angin pantai dengan kaki diselonjorkan kedalam ombak, tiba-tiba ada bungkus kacang terbawa ombak yang nyangkut ke jempol kaki! :(

Menjelajah alam menuju air terjun (doc. 2010)


Saat tiba acara Orientasi Ekstra Kurikuler, saya sangat bersemangat sampai tidak bisa tidur memikirkannya. Kenapa? Karena itulah kesempatan saya bisa kembali ke alam hijau, tidur dibawah tenda, dan menjelajahi sungai serta pepohonan disekitar bumi perkemahan. Acara orientasi (atau perploncoan, jaman dulu disebutnya) dilakukan malam hari, dan inaugurasi atau pelantikan anggota baru dilakukan keesokan harinya. Sangat seru saat jadi senior, baik di tahun kedua maupun tahun ketiga, karena bisa ngerjain junior. hehehe.... 

Sedikit intermezzo akan kegiatan ekskul semasa SMA:
Kecintaan saya pada alam, tidak lantas membuat saya bergabung dalam ekskul Pecinta Alam, yang para anggotanya terihat keren dengan style 'anak gunung' mereka. Saya memang kagum dengan anak-anak 'PA' tersebut, namun saya memutuskan untuk bergabung di Kelompok Ilmiah Remaja (science club) dan Tae Kwon Do. Lho, kenapa? Apakah saya tergolong anak intelek? No no no... tidak. Saya bukan tergolong anak dengan nilai A dalam ilmu pengetahuan alam seperti Fisika, Kimia, maupun Biologi. Saya bahkan anak jurusan IPS semasa SMA. Namun rasa penasaran tingkat tinggi akan klasifikasi tumbuhan, rentang galaksi dan hal-hal outerspace, serta keunikan partikel kimia, membuat saya sangat cinta pada ekskul KIR itu. Dan kenapa Tae Kwon Do, bukannya basket atau olahraga populer 'perempuan' lainnya? Hmmm... Jujur dulu saya tertarik ikut TKD karena (biasalaaahhh...) kesemsem sama salah satu anggotanya. Hahaha (ketauan deeeh....) Tapi itu hanya awalnya, karena setelah saya menekuninya, saya jatuh cinta pada seni bela diri itu sendiri, bukan kepada orang-orangnya. Dan sejak kecil memang saya kepengen banget bisa tendang-tendangan ala jagoan pembela kebenaran. Dan salah satu film Indonesia masa kecil favorit saya adalah 'Jacklyn'. Entah apakah kalian juga masih ingat serial film action ini.

Hobby sejak SMA :)

saat berarung jeram di Jawa Barat (2009)

Beranjak dewasa di ibukota Jakarta, saya masih suka sekali dengan pantai maupun pegunungan. Hasrat itu sering saya tuntaskan dengan mengunjungi pantai sekitaran Jakarta, dan juga daerah puncak serta kaki gunung Salak dan Gede. Aktifitas pun melebar, dari yang semula cuma senang main-main di pinggir pantai, kini mulai doyan berenang dan snorkeling dari pulau ke pulau. Mulai dari Kepulauan Seribu hingga Karimun Jawa, bahkan Phi-Phi island di Thailand. Intensitas ke pantai yang belakangan jauh lebih tinggi dari ke gunung, membuat saya akhirnya melabeli diri saya sebagai 'anak pantai'.

Kaki gunung Gede Pangrango (doc. 2011)

Menikmati bawah laut Karimun Jawa (2012)

Sepertinya saya ini seorang pecinta alam yang masih labil. Terlihat dari bagaimana saya menyebut atau melabeli diri saya hanya based on dari apa yang sering saya lakukan. Haha... Tapi itu dulu...
Sekarang saya sadar, mau 'anak hutan' kek, atau 'anak pantai' kek, nggak penting. Karena saya cinta keduanya! Dan saya tak bisa hidup tanpa keduanya.

Saat saya hijrah ke Eropa pada 2012 silam, naluri pantai membuat saya berhasrat mengunjungi sebuah pantai di Belanda, pantai Scheveningen. Namun impian saya melihat pasir putih dan laut biru dikandaskan oleh hamparan pasir abu-abu dan laut kelabu. Meh! Saya pun tak pernah lagi menikmati pantai atau laut yang sesungguhnya selama dua tahun. Sampai akhirnya saya menjejakkan kaki di Yunani pada musim panas 2014, dimana saya bisa merasakan pantai yang sesungguhnya. Namun indahnya alam di Eropa, menarik saya masuk blusuk'an ke daerah countryside, dengan hamparan rumput hijau serta hutan-hutan empat musimnya. Keindahan hutan Eropa yang selalu berganti rupa mengikuti musim, membuat saya betah dan tak bosan untuk blusuk'an didalamnya. Berburu kabut ataupun sunrise, mampu membangunkan saya pagi-pagi hanya untuk bersepeda menembus dinginnya suhu Scandinavia, menuju hutan dan padang rumput indah menawan hati.

Blusuk'an di Hareskov Forest - Denmark (Oct 2014)

Canoeing di Danau Bled - Slovenia (Juli 2014)

Jadi, dengan hobi baru saya yang senang keluyuran ke hutan, apakah saya akan kembali melabeli diri dengan sebutan 'anak hutan'? Hohoho... tentu tidak... Saya sekarang sudah bukan remaja labil lagi, namun sudah cukup dewasa dalam menilai diri saya sendiri. Meski saya bukan tergolong anak pecinta alam ekstrim, yang kerjaan nya kemping melulu atau naik gunung melulu, atau bahkan diving melulu (kalau yang terakhir ini sih jujur saya juga pengen hehehe), namun saya tahu bahwa saya sangat mencintai alam ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Dan selama saya masih hidup dan bernafas, ingin sekali rasanya melihat keindahan alam di seluruh penjuru bumi, tentu tak lupa juga menjaga kelestariannya.

"Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill nothing but time, Burn nothing but spirit."

Salam Lestari!!!

Mencari Wild Berries di hutan. Belgia (Juli 2013)

Hareskov, Denmark (2014)

Hamparan Canola. NivÄ, Denmark. (April 2014)

Padang rumput Farum - Denmark. (2014)

Hareskov - Denmark (Oct 2014)

Plitvice - Croatia. (2014)
Leyeh-leyeh makan siang di hutan

Padang rumput berkabut di Kalvebold, Denmark. (2014)

Makhluk hutan di Charlottenlund - Denmark. (2014)

Red Beach. Pulau Santorini, Yunani. (Juli 2014)

Plitvice Lake - Croatia. (abaikan tampang lecek saya hehe)

Comments

  1. nice story sis.. kalau judah pulang Indo kita menjelajah alam bareng yaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. with my pleasure ibu reporter cantik! ;)
      you know what? You're one of inspiring people in my life lhoooo....
      Dulu melihatmu jumpalitan dilayar kaca dari Sabang sampe Merauke bikin diriku ngilerrrrr n pengen bisa menjelajah Indonesia seperti dirimu hihihi....
      Ayo lah kapan2 jalan areng kita :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)