Canola Hunting


Pernah melihat iklan permen pelega tenggorokan Ricola? Ingat salah satu scene nya diambil di tengah hamparan kebun bunga kuning? Atau saat menonton drama Korea yang mengambil setting di Jeju Island saat musim semi, terihat hamparan bunga kuning yng sangat cantik bukan? Ya, itulah yang disebut Canola atau Rapeseed, bunga kuning penghasil minyak Canola. Di belahan bumi beriklim empat musim, bunga ini mekar saat musim semi dan dipanen sebelum musim panas tiba. Jika dilihat perbatang, bunga ini tidaklah begitu menarik ditambah lagi dengan baunya yang tidak wangi. Namun jika melihat hamparan berhektar-hektar lahan berbunga kuning tersebut, hati pun akan langsung jatuh cinta dan mengaguminya. Dan itu pulalah yang saya rasakan. :)

Pertama kali melihat hamparan bunga kuning itu di iklan Ricola, sudah membuat saya jatuh cinta. Hingga akhirnya melihat langsung dengan mata kepala sendiri, saat dalam perjalanan overland Denmark - Belanda musim semi lalu. Bukit-bukit landai tertutup hamparan kuning membuat mata tak lelah memandang dan mulut tak henti menganga. Saya yang penggemar bunga ini pun dibuat terkagum-kagum dengan keindahan landskap alam tersebut.

Hingga tergelitik menggoogling dan mencari tahu apakah ada kebun bunga Canola di kawasan sekitar Copenhagen tempat saya tinggal. Berdasarkan hasil ngubek-ngubek Instagram, akhirnya saya menemukan bahwa ada sebuah kawasan perkebunan Canola di daerah countryside Denmark, tak jauh dari Copenhagen. Tepatnya di kota Nivå, sekitar 34,5km dari Copenhagen. Kebetulan saya tinggal di area Hellerup, dengan jarak yang sedikit lebih dekat ke kota Nivå tersebut. Maka saya memutuskan untuk mencoba mencari lahan perkebunan itu dengan bersepeda.

Pada suatu hari di musim semi, sekitar jam 8 malam, saya mulai menggenjot sepeda saya berbekal Google Earth di handphone, menuju Nivå. Google Earth menunjukkan bahwa jarak dari rumah saya ke Nivå hanya sejauh 9 Mil saja, maka saya pun bersemangat mengayuh sepeda dengan kecepatan lumayan, karena berniat untuk sampai di kebun Canola sebelum sunset. Karena saat itu musim semi, matahari tenggelam sekitar jam 8:45 malam.

Menyusuri jalanan Strandvejen yang mengikuti garis pantai sebelah timur pulau Zealand, dengan pemandangan indah rumah-rumah cantik dan hamparan pantai. Perjalanan terasa mudah pada awalnya, sampai ketika jalan itu mulai naik turun dengan tidak sopannya, hingga membuat saya nyaris pingsan menggenjot sekuat tenaga! Mil demi mil berlalu, namun tak kunjung terlihat tanda-tanda penampakan kebun bunga kuning itu. Sedikit pesimis, saya kembali menelusuri Google Earth yang menunjukkan bahwa saya ada di jalur yang benar. Oke lah, saya pun kembali melanjutkan perjalanan hingga pada satu titik, jalur sepeda berbelok memisahkan diri dari jalur mobil yang selama ini saya ikuti. Jam 9 malam, memasuki sebuah kawasan sepi, dengan hanya rerumputan di kanan kiri jalan, saya terus mengayuh sepeda dengan sisa keremangan cahaya matahari yang sudah terbenam. 

Jalur sepeda menuju ke arah hutan, dimana akhirnya saya stuck! :p


Satu jam sudah saya mengayuh sepeda, dengan jarak 18km sesuai tertera di GPS, namun belum juga terlihat tanda-tanda saya akan tiba di Nivå. Hari mulai gelap saat saya memasuki kawasan hutan antah berantah. Sedikit menyesal juga karena memutuskan bersepeda malam-malam begini. Jalanan sepi, pepohonan di kanan kiri jalan makin rapat... makin gelap... Duh! Tiba-tiba sinyal 3G di handphone hilang! GPS tidak mau jalan dan saya sendirian di tengah hutan! Sendirian!!! Nyali pun langsung menciut saat sadar bahwa saya sedang sendirian di antah berantah tanpa tahu harus menuju arah mana. Kelebatan bayangan-bayangan fantasi dalam kepala saya pun mulai unjuk gigi. Berbagai pertanyaan "What if..." terlintas di kepala, mulai dari yang seram sampai yang nyeleneh nggak masuk akal. Sembari sedikit panik, saya berdoa dalam hati dan memutar balik sepeda, kemudian melaju kencang keluar dari hutan, kembali ke arah saya tiba tadi. Akhirnya sekitar setengah jam kemudian, saya menemukan jalan raya besar dan yang lebih menggembirakan lagi, saya melihat plang dengan tulisan "Station 2km"! Wohooo.... Thank God!!! Akhirnya saya menemukan sebuah stasiun kereta dengan jarak sekitar 6km dari Nivå. Saya memutuskan untuk menghentikan perburuan Canola saya hari itu setelah bersepeda sejauh 21km. Lagipula kaki ini sudah sangat lelah dan tak sanggup untuk bersepeda lagi meski hanya sejauh 6km, saya pun kembali pulang dengan naik kereta.

Dua hari kemudian, setelah tahu pasti dimana letak kebun Canola tersebut (berdasarkan hasil tanya-tanya ke Instagramer Copenhagen), dengan membawa serta sepeda saya naik kereta dengan tujuan Nivå. Sampai di stasiun Nivå jam 11 siang, dengan matahari bersinar cerah, membuat hati ini tak sabar untuk menemukan yang dicari-cari. Dengan bersepeda sebentar dari stasiun Nivå, akhirnya si kuning itu pun terlihat menghampar di depan mata. Yippiieeeee..... Gembira nian hati ini akhirnya bisa berdiri ditengah-tengah hamparan luas bunga kuning itu! Meski tak berbau sedap dan serbuk bunganya lumayan bikin kotor pakaian saat blusukan disana, hamparan Canola itu memang seindah di iklan Ricola. Dan perjuangan saya menemukan kebun Canola itu terbayar sudah dengan foto-foto cantik, baik foto landscape maupun selfie. Hehehe... Silahkan ditonton di bawah ini ;)



Comments

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)