A Lil' Step to... Krakow - Poland

Polski Bus perlahan bergerak keluar lapangan parkir terminal Wilanowska - Warsaw, menuju ke arah barat Poland. Bus ini yang akan membawa saya ke kota selanjutnya - Krakow - yang merupakan kota terbesar kedua di Poland setelah Warsaw. Perjalanan memakan waktu 5 jam, dengan satu kali berhenti di kota Kielce untuk menaikkan penumpang dan berganti sopir. Bus ini sangat nyaman dengan fasilitas penunjang seperti electricity plug dan juga wifi. Jadi sepanjang perjalanan bisa online dan gak mati gaya deh! Hehe... Perjalanan selama 5 jam terasa begitu cepat berlalu dan tibalah saya di kota Krakow yang dulunya pernah menjadi Ibu Kota Poland sebelum akhirnya dipindahkan ke Warsaw.


Pemandangan jalanan berkabut menuju Krakow

Keluar dari bus, saya masuk ke lobby terminal Krakow Główny bermaksud mencari tahu jadwal keberangkatan minibus tujuan Auschwitz untuk esok hari. Sempat celingak celinguk memperhatikan papan pengumuman besar yang tertempel di belakang deretan bangku ruang tunggu. Saya mencari tulisan Auschwitz tapi gak ketemu. Lalu akhirnya saya ingat pernah diberi tahu teman, bahwa di Poland, Auschwitz (yang notabene bahasa Jerman) disebut dengan Oświęcim (dalam bahasa Polish). Oke, here it is! Saya pun menemukan jadwal ke Oświęcim tersebut besok paling pagi jam 07:10. Baiklah, catat! Sekarang waktunya mencari jalan menuju ke One World Hostel, sebuah hostel rekomendasi teman, yang katanya murah dan memuaskan. Saya sudah membooking hostel ini sejak seminggu yang lalu, dan sudah menghafalkan rute jalannya di kepala. Akhirnya dengan mudah saya bisa menemukan hostel tersebut di jalan Westerplatte, tinggal jalan lurus dari Mall Galeria Krakowska ke arah Old Town.

Saya menempati kamar Mix Dorm 12 beds seharga €6/malam plus free breakfast. Saya suka dengan hostel ini, karena disini saya mendapat banyak teman baru. Fasilitas pun lengkap. Mulai dari free breakfast, free internet (wifi & pc), living room, kitchen, laundry, dan resepsionis yang ramah serta helpful. Selama saya tinggal disini, saya sering masak dinner dan sharing ke sesama penghuni hostel. Dari situlah akhirnya terjalin pertemanan baru. You know what? Start everything with a food, and let the tummy involves heart and mind! Intinya, kalau perut kenyang hati pun senang dan pikiran tenang, suasana jd relax dan lebih akrab satu sama lain. Rata-rata teman-teman baru yang saya dapat di hostel ini pada bilang "Kamu jago masak ya! Masakannya enak. Besok gantian aku yg traktir kamu minum deh". Hehe... Padahal saya cuma masak sop, tumis wortel, sama ayam lada paprika. Menu sederhana yang mampu mencairkan suasana :)

Malam itu juga setelah late check in di hostel (jam 21:15) saya langsung buru-buru ke daerah Old Town, mencari sebuah restaurant bernama Yellow Dog. Sepintas, mungkin orang akan berpikir tentang Hot Dog saat mendengar nama restaurant ini. Namun ini bukanlah kios Hot Dog ataupun fast food lainnya, melainkan sebuah restaurant yang menyediakan menu Asia termasuk Rendang! Nah, berbulan-bulan rindu masakan Indonesia, membuat saya bergegas bahkan hampir berlari mencari si Yellow Dog ini. Bukan hanya karena saking sudah lapar, namun mengingat jam tutup resto ini hanya sampai jam 10 malam. Sampai di Yellow Dog, saya masih diperbolehkan memesan makanan sebagai last order malam itu (setelah saya jelaskan - sambil ngos ngosan - bahwa saya jauh-jauh datang dari Copenhagen untuk mencoba rendang nya Yellow Dog), maka sambil tersenyum senang (atau bangga) si mas pelayan resto pun mempersilahkan saya duduk dan memesan makanan. Saya pesan nasi putih, seporsi rendang, dan segelas chamomile & fruit compote. Total seharga 55zł alias €13, tergolong kategori mid range sih harganya. Rasa rendang nya sendiri pun sebenarnya jauh banget dari rasa Rendang khas Indonesia. Rendang Yellow Dog tidak memakai santan kental dan bumbu cabai, melainkan pakai Lada hitam. Jadi pedas nya itu pedas lada, pokoknya jauh deh dari citarasa rendang yang ada dalam bayangan saya saat masuk ke resto ini. Sedikit kecewa sih karena hasrat makan rendang saya terpatahkan oleh daging kecoklatan rasa lada itu. Hehe... Tapi okelah, at least sudah pernah menjajal seperti apa rasanya resto Yellow Dog hasil rekomendasi salah seorang teman tersebut.


Rendang ala Yellow Dog

Saat di Yellow Dog ini, saya janjian sama salah seorang teman yang kenal di Couchsurfing. Dia sangat tertarik ketemu saya karena saya orang Indonesia, dan dia pernah tinggal di Indonesia selama beberapa bulan. Namanya Michal, seorang pemuda Polish yang ramah dan hangat serta sangat antusias mempelajari bahasa Indonesia. Atas permintaan Michal, jadilah malam itu kami ngobrol memakai Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan alias EYD! Nah lhooo.... saya yang sejak lahir sampai besar tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia EYD dalam kehidupan sehari-hari, kecuali saat acara resmi macam meeting atau presentasi, kontan menjadi sangat kaku saat berbicara. Ya, bayangkan saja saya harus mengucapkan kalimat bersusunan S-P-O-K dengan benar. Haha... Berasa kaya lagi ngomong sama klien perusahaan tapi dengan topik pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari. Akhirnya lama kelamaan nyerah juga saya bicara pakai bahasa Indonesia baku, secara kalimat sempurna bahasa Indonesia kan panjang-panjang. Dan kalau saya pakai slang word atau bahasa pergaulan sehari-hari, Michal nggak ngerti. Jadilah balik lagi ke bahasa Inggris, lebih lancar komunikasinya tanpa harus mikir dulu sebelum ngomong, baik saya maupun si Michal ini. Haha... pokoknya lucu deh saya mendengar diri sendiri berbicara dengan bahasa baku begitu sama teman.

Michal mengajak saya ke salah satu bar di daerah Old Town untuk mengenalkan saya pada beer khas Poland dan bagaimana cara minum beer di Poland bagi kebanyakan orang. Well, saya memang pernah dengar kalau kebanyakan orang di Poland punya cara unik untuk minum beer, yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Yaitu dengan mencampur beer dengan syrup kemudian minum pakai sedotan, layaknya sedang minum juice. Wah, penasaran juga sih pengen coba. Michal mengajak saya ke sebuah bar nyempil di komplek bangunan tua klasik. Disana saya ditawari mau beer yang mana dan rasa apa. Duh, bingung juga saat lihat daftar berbagai syrup yang bisa dicampur ke dalam beer. Namun menurut si bartender, syrup Raspberry lah yang paling umum dipakai, dan beer nya pun dipilihkan dari sebuah merk brewery autentik di Poland yang sayangnya saya lupa apa namanya. Sebuah gelas ukuran setengah liter berisi beer yang telah dicampur syrup Raspberry pun tersaji di depan hidung saya, plus dengan sedotan! Hmmm... terlihat enak. Seteguk, dua teguk, lima teguk, dan.... oke, I'm done! Saya hanya meminum 1/2 dari isi gelas berisi cairan rasa aneh tersebut. Hahaha.... Jujur, lebih enak minum beer asli tanpa dicampur syrup begini. Namun saya heran juga, di bar itu cewe-cewe nya memang semua minum beer dengan cara seperti itu. Mungkin hanya saya saja perempuan yang tidak doyan beer syrup tersebut. Hehe...


Fruity beer favoritnya Polish girls (namun bukan fav saya) :p

Teman baru saya tersebut kemudian menantang saya untuk menjajal Vodka yang notabene terkenal di Poland. Saya pun oke-oke saja asal jangan disuruh minum shot pakai sedotan juga! Haha... Vodka pertama rasa plain, kemudian citron, coklat, dan terakhir vanilla. Semuanya enak, dan setelah shot ke-8 saya minta bonus 1 shot Tequila sebagai penutup. Setelah ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar pukul 2 dini hari, saya pun ngantuk dan kembali ke hostel di tengah malam yang berkabut di kota tua Krakow tersebut. Suasana malam yang sedikit sepi dan berkabut itu membuat pemandangan seputaran Rynek Glowny terlihat mistis namun cantik!


Keesokan harinya, alarm pukul 6 pagi membangunkan saya. Bersemangat saya bangun dari bunkbed dormitory room dan meluncur ke kamar mandi. Tapi, yaaaahhhh..... guyuran hujan deras di luar jendela membuat saya bengong sesaat. Padahal hari ini rencananya mau eksplore Auschwitz, tapi kalau hujan deras begini bagaimana? Hmmm... cek punya cek ke accuweather.com ternyata hari ini Krakow akan diguyur hujan seharian! Wah, terpaksa rencana ke Auschwitz saya undur dulu, daripada tidak bisa menikmati karena repot payungan.


Akhirnya saya memutuskan untuk muter-muter kota bersama seorang gadis remaja asal Australia, Alice. Kami mulai mengeksplore dari mall Galeria Krakowsa, Old Town Stare Miasto, Wawel Castle, dan the main square Rynek Glowny yang merupakan main square terbesar di Eropa Timur. Di tengah Rynek Glowny ini, terdapat sebuah bangunan memanjang bernama Sukiennice atau Cloth Hall, yang merupakan pusat dagang beberapa ratus tahun lalu. Namun kini, bangunan itu dipakai sebagai pusat souvenir khas Krakow Poland, sekaligus tempat dimana saya mampu beli asesoris berhiaskan batu Amber dengan harga super miring. Hehehe.... 



Wawel Castle

Salah satu sudut Wawel Castle

Hujan setiap hari selama saya di Krakow :(

Sukiennice / The Cloth Hall

Rinai hujan menyertai langkah kaki kami menyusuri tiap sudut kota. Lapar dan dingin akhirnya mengantar kami ke sebuah restaurant hasil rekomendasi hostel, yang katanya enak dengan harga terjangkau. Kami pun memasuki Restaurant Gospoda Koko yang unik itu, terletak di jalan Gołębia 8, 31-007 Kraków, tak jauh dari Rynek Glowny square. Unik karena letaknya di bawah tanah, dengan lorong bagai gua yang menjorok ke dalam, ke dalam ruang-ruang makan berdinding batu kuno. Cahaya remang pun menambah keeksotisan tempat itu. Kami memesan dua porsi Pierogi (Polish Dumpling), seporsi Gołąbki (Nasi campur daging cincang yang dibungkus lembaran kol), serta teh hangat. Total hanya menghabiskan €6 saja untuk makan berdua dengan porsi besar tersebut (yang akhirnya kami bungkus sebagian karena tak sanggup menghabiskannya).


Suasana ruang makan bawah tanah di Gospoda Koko


Total hanya 6 euro!!

Sungguh Poland memang surganya para backpacker, karena semua harga sangat terjangkau. Saya menghabiskan malam-malam di Krakow dengan pub crawl dan menikmati night life sepanjang malam tanpa harus merogoh kocek yang dalam untuk menikmati vodka dan cocktail. Vodka yang paling terkenal di Poland adalah Żubrówka atau Bison Grass Vodka, dengan 40% alcohol didalamnya. Namun favorit saya adalah Wściekły Pies atau Mad Dog Vodka shot, yang merupakan perpaduan dari Raspberry Syrup, Tabasco, dan Vodka yang disusun per layer dalam segelas shot. Sensasinya luar biasa! Mulai dari pedasnya Tabasco yang pertama kali mengalir di tenggorokan, disusul panasnya Vodka, kemudian diakhiri dengan dingin dan manisnya Raspberry syrup di akhir. Silahkan bayangkan sendiri. Hehehe...


The famous Mad Dog Vodka :)

Empat hari di Krakow ternyata berlalu dengan sangat singkat, hingga saya memutuskan untuk extend 1 hari lagi disana. Selain menikmati kota tua Krakow itu sendiri, saya juga tak lupa mengunjungi the famous Auschwitz, camp konsentrasi Nazi terbesar sekaligus tempat pembantaian masal kaum Yahudi. Saya juga menyempatkan diri menelusuri jejak sejarah kaum Polish-Jews dan juga ikut tour Schindler's List movie. (Dua topik tersebut akan saya bahas di postingan terpisah)


Suatu sore di pinggiran kota Krakow

Salah satu jembatan yang (lagi-lagi) dihiasi gembok cinta :p

Note: Dikarenakan hari-hari hujan selama di Krakow, saya tidak dapat menghasilkan foto yg cukup bagus untuk dipampangkan disini. Terutama kecantikan Rynek Glowny yang (bodohnya) luput dari jepretan kamera saya karena saya terlalu sibuk berkeliaran di luar area pusat turistik itu. :p
Namun,akan saya cantumkan satu foto Rynek Glowny yang saya ambil dari Google.



Rynek Glowny, square terbesar di Eropa Timur.
(photo courtesy from Google)

Comments

  1. gw harus kesini pokoknya pas euro trip,,hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, harusssss :D
      Nginep di hostel One World deh, udah murah deket kemana2 pula ;)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)