A Lil' Step to... Warsaw - Poland

Dinginnya lantai lobby airport Skavsta Stockholm malam itu perlahan-lahan menembus bentangan jas hujan yang saya gelar di samping deretan bangku ruang tunggu airport. Ditambah dengan berisiknya celotehan sekelompok mahasiswi Spanyol yang juga bermalam di airport saat itu, menambah mata ini sulit terpejam. Sepertinya saya benar-benar harus punya sleeping bag nih, untuk saat-saat traveling seperti ini, yang mengharuskan bermalam di airport. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya tidur di airport, saya sudah pernah beberapa kali bermalam di airport bahkan terminal bus juga. Namun saya yang backpacker kere ini memang tidak punya sleeping bag untuk bermalam darurat. Hanya bermodalkan selembar jas hujan dan kadang handuk lebar buat selimut. So far sih survive aja ya, tapi malam itu koq rasanya semalaman saya tidak bisa nyenyak tidur seperti biasa. Berisiknya obrolan orang Spanyol di sebelah terdengar seperti sekumpulan bebek yang kelaparan. Dengan intonasi tinggi dan kecepatan bicara 80km/jam itu, membuat orang Spanyol selalu dikategorikan sebagai manusia tercerewet! Haha...

Jadwal penerbangan saya hari itu jam 6 pagi, rute Stockholm - Warsaw, menggunakan pesawat Ryanair. Sebuah perjalanan yang sebetulnya tidak betul-betul direncanakan. Karena sebetulnya rencana saya ngetrip di musim gugur ini adalah pergi ke Sweden dan Norway. Namun saat sedang hunting tiket 2 minggu yang lalu, mata ini terpaku pada iklan pop-up Ryanair yang bertuliskan “Less than €5 to Warsaw” dengan huruf besar berwarna kuning gonjreng! Wow... Siapa yang tak mau ke Poland hanya dengan tiket seharga secangkir Starbucks? Langsung saja saya eksekusi tiket tersebut, yang rupanya harga promo tersebut hanya berlaku untuk keberangkatan dari Stockholm-Sweden. Ah, nggak masalah menurut saya. Toh saya juga berencana mengunjung Stockholm pada liburan saya kali ini. Jadilah akhirnya saya rubah planning Autumn Trip saya, dan mengunjungi Poland selama seminggu lamanya akhirnya menjadi sebuah trip dengan persiapan kilat. Dengan tiket seharga €4,80 saya pun terbang dari Stockholm-Sweden ke Warsaw-Poland. Sangat murah bukan? Ya, Ryanair memang setipe dengan AirAsia dalam hal obral-obralan tiket. 

Pesawat yang saya tumpangi seharusnya landing di Warsaw Modlin Airport, namun karena buruknya cuaca pada pagi hari itu akhirnya pesawat dialihkan ke Frederic Chopin Airport setelah terlebih dahulu berputar-putar di udara selama 45 menit yang menegangkan. Setelah mendapat konfirmasi bahwa pesawat akan mendarat di Chopin, saya pun bertanya-tanya dalam hati, Lho ini trus bagaimana dengan tiket shuttle Modlin Bus yang sudah saya booking? Saya yang sudah terlanjur membeli tiket Modlin Bus via online beberapa hari lalu pun terpaksa tidak bisa menggunakan tiket saya untuk pergi ke pusat kota karena Modlin Bus hanya beroperasi di jalur Modlin - Warsaw, tidak melalui Chopin. Hmmm... yasudah deh, tiket seharga 29 itupun mubazir dan tidak bisa di refund pula. Bisa mendarat dengan selamat tanpa dihantam badai saja saya sudah bersyukur sekali. Dan benar saja, saat pesawat mendarat, kabut pekat terlihat menyelimuti airport, plus dinginnya angin yang menusuk. Padahal masih Oktober, tapi pemandangan didepan mata terlihat seolah Poland sudah kedatangan winter duluan.
Kabut pekat di airport Chopin Warsaw
Warsaw City Centre
 
So, here I am… Menjejakkan kaki di negara ke-10 Uni Eropa (dalam list Eurotrip saya), Poland! Pusat kota Warsaw, seperti ibukota pada umumnya dimana banyak terdapat gedung-gedung tinggi nan modern dengan beberapa bangunan klasik menyembul di antaranya. Sesaat setelah turun dari bus didepan Warszawa Centralna Train Station, saya sedikit linglung dan disoriented. mata ini langsung tertuju pada bangunan putih lancip yang menjulang di sebelah station. Bangunan yang tak lain adalah gedung Palace of Culture and Science atau Pałac Kultury i Nauki dalam bahasa Polish ini, merupakan gedung tertinggi di Poland dan ke-6 tertinggi di wilayah Uni Eropa. Sembari mempelajari peta yang didapat dari airport, saya berjalan menuju arah Chillout hostel yang telah saya booking. Dalam perjalanan, terlihat ada banyak Carrefour Express dan minimarket yang uniknya ada tulisan “Alcohol 24 hours”. Oh wow, ok… Welcome to Vodka land! Selain Russia, Poland juga terkenal dengan Vodka nya. Tak heran banyak kita jumpai di toko-toko terpampang berjejer minuman alcohol, yang umumnya buka 24jam. Iseng-iseng saya masuk ke salah satu Carrefour Express, bukan untuk beli Vodka, tapi untuk cari cemilan pengganjal perut yang sudah mulai teriak-teriak kelaparan.  Saya pun menemukan sebuah makanan khas Polish, berupa ikan goreng dengan campuran semacam tumis lobak manis, yang rasanya enak sekali! Sempet berbinar melihat harga-harga di Carrefour Express tersebut, murah-murah banget! Ok… (again) Welcome to a cheap land!

Chillout Hostel, terletak di jalan ul. Poznanska 7/7, sekitar 5 menit jalan kaki dari pusat kota dan central station, namun agak jauh dari Old Town, meski tetap bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 20 menit. Dengan tarif 40 per malam, saya mendapat tempat di 8 mix dorm room. Hari itu kebetulan kamar yang saya tempati lumayan penuh, ada 2 gadis Australia, sepasang muda-mudi Poland, satu cowok Colombia, satu cewek UK, saya sendiri Indonesia, serta seorang kakek-kakek Yahudi dari Israel. Apa? Kakek? Yaaaa.... seorang kakek berumur sekitar 70an yang sedang dalam perjalanan ziarah ke Poland. Sayangnya si kakek ini tidak bisa berbahasa Inggris, jadi saat dia berceloteh dengan menggunakan bahasa Yahudi dan Russia, tak satupun dari kami yang mengerti. Haha...

Jam makan siang membuat saya tak mau berlama-lama di hostel. Setelah menaruh ransel, saya pun mulai mengeksplore kota Warsaw dengan berbekal peta dan sebuah buku Lonely Planet pinjaman dari perpus. Hal menarik pertama yang saya tangkap dari kota ini adalah sistem transportasinya yang sudah teratur dan nyaman. Sistem transportasi dalam kotanya didukung oleh kenyamanan metro, tram, dan bus, yang kesemuanya bisa diakses dengan sebuah single ticket. Saya menggunakan day pass 24jam seharga 25 untuk naik tram-metro-bus di Warsaw. Meski kebanyakan saya jalan kaki karena ingin lebih menikmati tiap sudut cantik kota ini.

Salah satu sudut cantik di Warsaw

Menyusuri jalanan pusat kota yang dimulai dari Centrum menuju Ulica Nowy Świat, sebuah boulevard yang wajib disusuri untuk menuju Old Town Stare Miasto. Di sepanjang jalan ini banyak terdapat bangunan klasik bersejarah serta café dan restaurant yang harganya ramah di kantong. Tak tahan rasanya untuk tidak segera hinggap di salah satu outdoor café tersebut untuk menuntaskan urusan perut. Mendekati area Stare Miasto, saya mampir di sebuah café dan memesan salah satu menu makanan Polish yaitu Kielbasa (Sosis khas Polish) serta tak ketinggalan menjajal salah satu beer favorit Polish yaitu Kasztelan. Seporsi makan siang jumbo dan setengah liter beer hanya seharga 25 alias sekitar 5-6. Wow… Dari Scandinavia ke Poland rasanya tiba-tiba jadi orang kaya! Hahaha…



Nowy Świat Boulevard
 
Salah satu gereja cantik di area Old Town

Makan siang jumbo seharga 33zl

Urusan perut selesai, saya kembali menyusuri boulevard menuju bangunan warna-warni pastel yang seolah bertumpuk-tumpuk di kejauhan. Ya, itulah Stare Miasto atau Old Town, area kota tua yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya Unesco, yang merupakan salah satu atraksi wajib kunjung saat berada di Warsaw. Dari lapangan Plac Zamkowy atau Castle Square, terlihat di kejauhan bangunan stadion Norodowy yang pernah menjadi tuan rumah event akbar sepak bola Euro 2012.  Di sebelah lapangan ini, terdapat bangunan berwarna maroon yang tak lain adalah Royal Castle yang kini berfungsi sebagai museum dengan salah satu koleksi lukisan dari Rembrandt. Namun saya lebih berminat menyusuri gang-gang sempit tempo doeloe ketimbang masuk ke Royal Castle tersebut. Jadilah saya menyusuri jalanan berbatu, keluar masuk gang-gang kecil dengan bangunan-banguanan tua bercat kusam mengapit di kanan-kiri nya. Kota tua nan klasik, yang pernah luluh lantak oleh bom pada masa Perang Dunia II, untuk kemudian dibangun kembali serupa aslinya, kini menjadi tujuan wajib para wisatawan di Warsaw. Kios-kios souvenir dan café – café menawarkan keunikannya masing-masing. Saya tertarik mencoba soft ice berbentuk spiral panjang dengan rasa coklat dan vanilla, yang menurut saya rasanya sih biasa saja, masih enakan Gelato kemana-mana! Hehehe… Serta snack wafer berbentuk roll dengan isi whip cream beku didalamnya, bernama Rurki, yang belakangan menjadi snack favorit saya selama di Poland. 
Rurkie

spiral soft ice
 
Norodowy Stadium - terlihat di kejauhan

Royal Castle

Monumen di Plac Zamkowy
Plac Zakomwy - Stare Miasto
Barbican Foretress

Menyusuri setiap jengkal kota tua Stare Miasto hingga ke Barbican Foretress, sebuah benteng pertahanan yang dulunya dibangun di abad ke-16 sebagai salah satu system pertahanan kota. Kemudian napak tilas jalur pedestrian yang pernah dilalui oleh Napoleon Bonaparte saat beliau mengunjungi kota ini, termasuk sebuah tangga batu yang terkenal dengan nama “Napoleon’s Stone Steps”. Melihat sebuah rumah tersempit di Kanonia triangle square, yang sebenarnya tidaklah sesempit kelihatannya. Menyentuh dan mengitari sebuah lonceng dari abad pertengahan yang dipercaya akan membawa keberuntungan jika mengitarinya sebanyak 3x. Menemukan spot menarik viewpoint di belakang gereja Virgin Mary di daerah Nove Miasto, dengan bangku-bangku menghadap ke Multimedia Fountain Park di tepi sungai Vistula. Tempat saya akhirnya duduk terkantuk-kantuk dibawah pepohonan yang mulai merontokkan daunnya. 






Lonceng Keberuntungan

The Narrowest House in Poland (in the middle)

Napoleon's Stone Steps

Monument of the Fallen & Murdered
Sebelum jatuh tertidur diatas caldera tepian sungai Vistula, saya kembali menyeret langkah dengan terkantuk-kantuk. Tak sengaja menemukan sebuah café pinggir jalan yang cantik, mampirlah saya untuk menikmati secangkir besar vanilla latte dengan harga  11 atau 2,5 saja. Luar biasa murahnya negara ini, dibandingkan dengan Copenhagen tempat saya tinggal, yang mematok harga secangkir kecil kopi 30kr atau 4! Sambil ngopi, saya pun menekuni peta dan LP untuk mencari dimana posisi saya saat itu dan adakah tempat menarik yang bisa dilihat disekitarnya. Rupanya saya sedang berada di daerah sekitar Nove Miasto, atau New Town. Dekat-dekat sini ada sebuah monumen yang bentuknya unik, membuat saya penasaran ingin melihatnya. Dan benar saja, setelah sempat nyasar ke sebuah panti rehabilitasi, saya akhirnya menemukan Pomnik Poległym i Pomordowanym na Wschodzie, atau Monument of the Fallen and Murdered in The East. Sebuah monumen yang menggambarkan kereta pengangkut batu nisan berbentuk salib, dengan nama-nama warga Poland korban perang Soviet yang terukir di sepanjang jalur rel nya. Monumen ini dibangun untuk mengenang para korban perang semasa Uni Soviet.
 
Salah satu sudut cantik di Praga
Tujuan saya selanjutnya adalah mengintip suasana malam di Praga, area di seberang sungai Vistula. Dengan menaiki tram, saya pun menuju Praga, yang konon katanya cukup happening dengan night life nya. Turun di Jagiellonska, iseng-iseng mampir ke Praski park, tempat dimana saya menemukan jejeran pohon dengan dedaunan kuning yang mulai rontok menutupi jalanan setapak di bawahnya. Indah sekali! The perfect autumn experience ever. Lanjut jalan kaki mengitari area Praga yang ‘katanya’ rame kalau malam itu. Namun entah karena masih sore (jam 8 malam saat itu) atau saya yang kurang mblusuk-mblusuk ke gang-gang nya, saya tidak menemukan sesuatu yang cukup bisa dikategorikan ‘happening’ disana. Well, mungkin memang harus mengajak orang lokal yang tahu area ini. Saya yang jalan sendirian malam itu sebenarnya lumayan menghindari jalanan redup dan sepi, jadi mungkin itulah sebabnya saya tidak menemukan club-club yang kemungkinan letaknya sedikit tersembunyi di balik gedung-gedung besar disana.

Plac Zakomwy di malam hari
Saya memutuskan kembali ke Stare Miasto untuk mencari makan malam. Menyusuri kota tua di malam hari benar-benar menimbulkan sensasi yang luar biasa, membuat seolah-olah terlempar ke masa lalu. Berjalan di jalanan sempit berbatu dan berlampu temaram sambil membayangkan dulunya di jalanan ini banyak kereta kuda lalu lalang dengan penumpang berpakaian abad pertengahan di atasnya. Wow… Saya sangat bersyukur bisa merasakan hidup di sebuah benua dengan peradaban tertua di dunia ini. Benua yang menyisakan bangunan-bangunan klasik tua, saksi bisu betapa Eropa ini memang sudah sangat cantik sejak dahulu kala.

Stare Miasto di malam hari

Setelah muter-muter sejenak di seputaran Old Town, saya menemukan bahwa area Stare Miasto ini tercover dengan fasilitas free wifi. Wah, langsung saja ngedeprok di pelataran monumen dekat jalan Podwale untuk online sejenak check in Path dan socmed lainnya. Haha… Tetep donk ya, as any other Asian, we’re addicted to be exist in every social media! Puas pamer posisi di dunia maya, saya memutuskan mencoba salah satu resto otentik di kota Warsaw, namanya Zapiecek, yang mengklaim dirinya memiliki Pierogi terenak di kota itu. Ya, Pierogi – sebutan untuk Polish dumpling yang diadopsi dari kebudayaan Rusia. Di Zapiecek ini terdapat berbagai macam jenis Pierogi, mulai dari yang klasik khas Rusia sampai yang sudah dimodifikasi. Pierogi klasik biasanya berisi sauerkrout atau mash potatoes dan direbus. Kali ini saya mencoba Pierogi Omma’s Style dengan isi daging cincang yang digoreng, dan segelas Dried Fruit Compote yang merupakan rebusan beberapa buah kering seperti apel, pear, kismis, serta kayu manis. Minuman ini enak sekali, bikin badan langsung terasa hangat. Kalau di Indonesia kita akrab dengan Bajigur, di Poland mereka punya Fruit Compote ini. Seporsi besar Pierogi dan segelas fruit compote dihargai 33zl saja. Dan malam itupun saya tidur nyenyak kekenyangan, tak peduli dibawah ranjang saya ada kakek-kakek yang mendengkur sepanjang malam. Hehe...
 
Makan malam seharga 33zl
Day 2
Jam 8 pagi saya sudah rapi menggendong ransel untuk check out dari hostel, mengingat hari ini jam 4 sore saya sudah harus meninggalkan Warsaw menuju Krakow. Jadi saya mau memanfaatkan hari terakhir di Warsaw untuk kembali lagi ke Stare Miasto! Bukan untuk sightseeing lagi, melainkan untuk duduk ngopi dan makan, sambil memperhatikan warga lokal yang sibuk lalu lalang di hari Selasa pagi tersebut. Saya memilih salah satu café di dekat Pomnik Mikołaja Kopernika, sebuah monumen dengan patung Nicolaus Copernicus duduk ditengah-tengah orbit galaksi Bimasakti, tepatnya didepan gereja Holy Cross Church, di ujung boulevard Nowy Świat. Secangkir besar Caffe Latte dan sepotong Cheese Cake jadi menu sarapan saya pagi itu. Duduk di teras café sambil memperhatikan para pelajar dan orang kantoran yang sedang bergegas untuk memulai hari mereka. Ini masih bulan Oktober, suhu masih kisaran 8-10’C yang menurut saya masih tergolong hangat. Saya saja masih tahan cuma berjaket kulit doank, namun para wanita di Warsaw ini sudah terlihat seliweran dengan fall/winter coat dan syal wol tebal. Hmmm… stylish sih memang. Mungkin juga karena mereka ini para sosialita di Ibu Kota kali yaaa… Jadi semacam gaya gitu, layaknya di Jakarta. Hehe…

Nongkrong kelamaan di café ternyata lumayan membuat saya akhirnya terburu-buru mengejar tram yang menuju Okopowa, ke tujuan saya selanjutnya yaitu Jewish Cemetery. Hah? Ke kuburan? Nggak salah? Hehe… Memang tujuan saya ke kuburan warga Yahudi terbesar di kota Warsaw. Bukan karena saya pecinta horror atau mistis, namun lebih ke keunikan areal pemakaman di Eropa yang rata-rata bercita rasa klasik di tiap nisannya. Sama seperti saat saya mengunjungi pemakaman di Montmartre Cemetery - Paris, bukannya merinding saya malah terkagum-kagum oleh kecantikan nisan-nisan bergaya Perancis itu. Nah, lain halnya dengan Jewish cemetery atau Pemakaman Yahudi yang saya datangi kali ini. Di pintu masuk area ini tertulis jelas peraturan bahwa kaum pria harus menggunakan penutup kepala saat memasuki area pemakaman. Karena menurut kepercayaan agama Yahudi, memakai penutup kepala bagi pria merupakan symbol penghormatan, sama halnya seperti saat mereka sedang beribadah. Namun bagi wanita tidak diharuskan memakai kerudung, hanya berpakaian sopan sudah cukup. Memasuki pintu gerbang pemakaman Yahudi tersebut, saya disambut ramah oleh dua orang security berbadan tegap dan berwajah Israel. Saya dengan santai balas tersenyum dan memasang hoodie di kepala, meski tidak wajib mengenakan tutup kepala, namun saya hanya ingin turut menghormati upacara keagamaan Yahudi yang tengah berlangsung disana. Kebetulan hari itu sedang berlangsung semacam upacara pengiriman doa di salah satu makam, dimana terlihat puluhan pria Yahudi berdiri membentuk lingkaran dan melantunkan nyanyian doa dengan khusyuk. Saya dan dua orang wisatawan lain perlahan-lahan menyusuri setiap sudut pemakaman yang lumayan creepy untuk foto-foto. 
Area Jewish Cemetery

Upacara keagamaan Yahudi

Salah satu nisan cantik :)

Saya tak mau berlama-lama di tempat ini, selain karena aura yang sedikit creepy, saya juga sudah harus segera menuju Wilanowska untuk melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, Krakow. Dengan berlari-lari kecil, saya menuju halte tram didepan pemakaman. Namun sialnya, saya ketinggalan tram yang hanya lewat setiap 20 menit sekali tersebut. Duh! Hati pun kebat-kebit mengingat jam sudah menunjukkan pukul 2:55 sore. Perjalanan dari Okopowa menuju Wilanowska memakan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan tram dan metro. Dan Polskibus yang akan membawa saya ke Krakow akan berangkat pukul 4 sore. Huwaaaa…. Kejar-kejaran dengan waktu itu rasanya lebih horror daripada blusukan di dalam pemakaman Yahudi tadi. Namun Tuhan selalu mencukupkan di setiap kekurangan. Berkat sistem transportasi Warsaw yang tepat waktu, saya tiba di terminal bus Wilanowska tepat 10 menit sebelum bus meninggalkan terminal. Fiiuuhh…. Lega rasanya!

Comments

  1. serunya jalan-jalan ke polandia...pengin...salam

    ReplyDelete
  2. serunya jalan-jalan ke polandia...pengin...salam

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)