Tales From The Borders

Bicara tentang border, selalu membuat saya excited! Lahir dan besar disebuah negara kepulauan yang notabene hampir seluruh batas negara berupa samudera (Kecuali Kalimantan & Papua) membuat saya selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuh garis batas antar negara. Dan kesempatan itu saya dapatkan selama di Eropa. Tiga kali merasakan pengalaman menyentuh tugu batas negara, belum membuat rasa penasaran saya tuntas. Pertama kali merasakan berdiri di titik perbatasan 3 negara Belanda-Belgia-Jerman (baca postingan Drielandenpunt disini) rasanya sangat luar biasa! Pengalaman itu membuat saya ingin kembali merasakan menyeberangi border negara Belanda baik yang ke Belgia maupun ke Jerman secara terpisah melalui jalur darat, dengan berjalan kaki. Pasti sensasinya akan sangat seru sekali bisa merentangkan dua kaki di dua negara, hehehe...

Summer time, Camping time! Ya, awal Agustus lalu saya dan beberapa teman memutuskan untuk berkemah alias kemping di sebuah campsite di provinsi Noord-Brabant, dekat perbatasan Belgia. Well, actually kami tidak benar-benar bermalam disebuah tenda yang dipancangkan dengan tali, melainkan kami menyewa sebuah mini log hut atau rumah kayu, dengan 5 tempat tidur di dalam nya. Rumah mungil ini berkapasitas maksimum 5 orang, lengkap dengan living room, sofa, dapur, dan kulkas. Hmmm... cukup lengkap, mirip seperti rumah tinggal. Bedanya hanya log hut ini terletak di depan sebuah padang rumput, dengan danau kecil tak jauh di bawahnya. Harga sewa log hut ini semalam €75 yang bisa dibagi ber-5 dengan teman. Lumayan murah bukan? Dengan fasilitas pendukung seperti kamar mandi, listrik, dan Wi-Fi (yang ternyata tidak terkoneksi. sigh!). Di campsite ini pengunjung juga bisa menggunakan tenda, baik yang personal tent maupun tipitent, sebuah tenda kerucut besar ala suku Indian yang bisa muat sekeluarga. Info lengkap, bisa dilihat di http://www.dehoevens.nl/

Saya, Jerry, Phil, Asri, & Guido @ Landgoed de Hoevens

Siang itu, cuaca cukup cerah. Setelah menaruh barang-barang di dalam rumah kayu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mulai mengeksplore daerah sekitar campsite. Mulai dari danau, hutan, hingga ke perbatasan Belgia. Berenang merasakan sejuknya air danau, blusuk'an di hutan memetik buah-buah wild berry, berjalan keluar masuk hutan mengikuti jalur hiking yang tertera di peta, sampai akhirnya tiba di pinggiran negara Belanda yang berupa areal ladang sayuran. Di tepi ladang kol tersebut terdapat sungai kecil (siring; bahasa jawa nya, hehehe) dengan jembatan putih diatasnya, yang ternyata merupakan batas negara Belanda-Belgia. Di samping jembatan terdapat sebuah tugu setinggi 1 meter berwarna putih, yang merupakan tugu border, dan di sisi satunya terdapat sebuah patung berbentuk klompen (sepatu khas Belanda) yang terbuat dari kayu. Dan setelah saya perhatikan, terlihat sebuah tanda yang lumayan mencolok di aspal jalan yang melintasi sungai kecil tersebut. Terlihat aspal bagian Belanda berwarna lebih terang dari aspal di bagian Belgia yang berwarna lebih gelap dan bertekstur kasar. Well, jadi sekarang saya tahu, dimana garis pembatas itu berada saat melihat perbedaan aspal tersebut. Di sebelah border ini terdapat sebuah desa kecil bernama Aarle, yang merupakan wilayah dari Ravels - Belgium. Tujuan kami ke Aarle untuk apa? Selain mau merasakan sensasi menyeberangi batas negara dengan berjalan kaki, kami juga iseng-iseng mencari tukang es krim! Hehehe.... maklumlah, perjalanan sejauh 3,8km di cuaca panas membuat sebuah kata 'es krim' terdengar begitu menggiurkan. Luckily, kami menemukan sebuah cafe kecil di dekat border, yang ternyata juga menjual homemade gelato. Jadilah hari itu kami nyebrang ke Belgia demi gelato, hehehe....

Border Belanda - Belgia


Wild Berries


Klompen kayu raksasa

 
Tugu border

Tinggi tugu border hampir setinggi saya :D


Melangkahi border Belgia, sudah. Kini saatnya melangkahi border Jerman! Hari ini di penghujung bulan Agustus, saya dan Vania memutuskan untuk nyebrang ke Jerman melalui Venlo, sebuah kota di provinsi Noord-Brabant - Belanda. Dari Rotterdam, naik kereta selama 2 jam, kemudian lanjut jalan kaki sejauh 7,8km ke arah timur menuju sebuah desa kecil bernama Am Wittsee di Jerman. Well, sebetulnya kami bisa saja naik bus, tapi memang dasarnya otak bolang, saya memilih berjalan kaki selama 1,5jam demi mencapai sebuah danau di Am Wittsee ini. Bukannya apa, saya memang lebih suka berjalan kaki menikmati setiap medan dan pemandangan sepanjang jalan, daripada duduk anteng di dalam bus, kurang gereget rasanya. Hehe...

Untuk mencapai Am Wittsee, kami harus melalui sebuah daerah pemukiman bernama Schwanenhaus yang terbelah dua oleh garis batas negara. Jadi ada Schwanenhaus di bagian Venlo (Belanda) dan sebagian di area Kaldenkirchen (Jerman). Titik batas yang terdapat di Schwanenhaus ini merupakan border tua penyeberangan antara Belanda-Jerman. Namun semenjak dibangunnya highway A61 yang menghubungkan Belanda dan Jerman, maka border tua di Schwanenhaus ini ditutup untuk mobil, dan hanya bisa dilalui oleh sepeda serta pejalan kaki saja. Yang tersisa kini dari border tua tersebut hanya 3 buah tugu batu bulat yang berdiri diantara rerimbunan tanaman perdu pembatas. Sama halnya dengan border yang saya jumpai di Belgia sebelumnya, disini pun aspal kedua negara berbeda. Di bagian Belanda, jalanan terbuat dari paving blocks, sedangkan di bagian Jerman terbuat dari aspal kelabu kasar. Konon katanya, perbedaan layout dan tekstur ini pun terlihat di highway A61, tepat di garis batas pemisah dua negara tersebut. Namun sayang, saya tidak punya cukup waktu untuk investigasi ke jalan tol tersebut. Dengan ditiadakannya pemeriksaan passport di perbatasan negara-negara Uni Eropa pada 1 Januari 1993 , banyak marka-marka perbatasan yang dihilangkan atau diminimalisasikan. Sehingga yang tertinggal kini hanya tugu-tugu batu tua, yang beberapa bahkan tersembunyi di balik rimbunnya tanaman perdu. Namun, saya cukup bersyukur kembali bisa melangkahkan kaki melewati border dua negara yang notabene adalah rival bebuyutan, bagai Indonesia vs Malaysia. Hehehe...


Border Belanda - Jerman

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke desa Am Wittsee untuk mencari danau Gro├čer de Witt-See, dan rencananya mau makan siang disana, dengan bekal yang saya bawa. Lho, ngapain jauh-jauh makan siang ke Jerman? Bukannya di dekat rumah di Rotterdam juga ada danau? Well, memang sih di dekat rumah juga ada danau, dan lebih cantik malah. Namun seperti saya bilang, memang dasarnya saya ini nggak bisa diam di rumah dan senangnya blusuk'an ke tempat-tempat un-touristy, jadi ya senang saja jalan kaki 8km selama 1,5jam. Demi makan nasi goreng, telur dadar, dan sambel terasi, di pinggir danau in the middle of nowhere di Jerman! Wong sinting!:D
Makan siang ala backpacker kere :p

Di pinggir danau itu terdapat sebuah Restaurant yang bernama sama dengan tempat itu sendiri, restaurant Am Wittsee. Saat saya hendak kembali ke Venlo (niatnya mau hitch hike kali ini, karena sudah menjelang malam untuk jalan kaki 8km lagi), saya sempat melewati restaurant ini, dan tiba-tiba dipanggil oleh dua orang bapak-bapak setengah baya. Dua orang bapak tua, seorang ibu paruh baya, dan seorang pemuda sedang duduk di sebuah meja bulat dengan beberapa gelas beer di atasnya. Mereka menyapa saya dan Vania dengan bertanya "Hello, how was the lake? Is it nice?" Dilanjutkan dengan basa-basi umum tentang danau dan cuaca, sampai tiba saat mereka bertanya asal kami dari mana. Saat kami menyebut "Indonesia", mereka langsung excited dan menerangkan bahwa mereka pernah ke Indonesia beberapa kali. Jadilah obrolan makin panjang dan lama, plus ditraktir beer dan coke juga. Mereka menyatakan bahwa Indonesia sangatlah indah dan penduduknya ramah :) Wah, bangga juga nih sebagai warga negara Indonesia! Hehe... Singkat kata, setelah ngobrol ngalor ngidul selama beberapa saat, salah seorang bapak ini tiba-tiba menyodorkan selembar uang €50 kepada kami dan bilang "Take it, use this money for taxi to Venlo. Don't walk again." Hah??? Saya dan Vania sampai terbengong-bengong. Namun jiwa 'Asia' saya yang masih tahu 'unggah-ungguh' alias tata krama, dengan halus menolak uang tersebut dengan dalih kami masih bisa mendapatkan tumpangan mobil di perjalanan pulang nanti. Namun dua bapak tua itu tetap memaksa, karena mereka menganggap Indonesia sudah sangat baik kepada mereka saat mereka berkunjung kesana, dan kini lah saatnya mereka balik berbuat baik kepada orang Indonesia yang datang ke tanah mereka, Jerman. Well, terharu sekali saya dibuatnya. Akhir kata setelah ngobrol banyak tentang Indonesia (bahkan sejarah Bung Karno pun mereka hafal), mereka sepakat untuk memesan dan membayar sebuah taxi untuk mengantar saya dan Vania sampai Venlo. Oh my God... Tuhan sungguh baik! Hari ini kami sangatlah beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik yang sangat menghargai bangsa Indonesia. Bahkan dari kejadian ini, saya bercermin kepada diri saya sendiri, sudah sejauh manakah saya kenal bangsa saya sendiri, Indonesia. Bahkan pelajaran sejarah Indonesia pun saya sudah banyak yang lupa. Namun ini orang asing, orang Jerman, malah tahu tentang sejarah penjajahan Belanda dan kemerdekaan RI segala. Terbukti, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang respect terhadap Indonesia. Dan dari kejadian ini pula lah, persepsi saya ke orang Jerman (berdasarkan my bad experience with Germans) menjadi berubah, ternyata masih ada orang Jerman yang baik dan tulus. :)

wandelen alias jalan kaki
 

Comments

  1. Luxcu juga yaa kalo perbatasan nya kayak gitu, berarti sama kayak indonesia malaysia yg cuman di patok dengan batu dan batu itu sekarang sudah bergeser

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau di Eropa, gak ada gontok2an batas negara :) selalu damai berdampingan... sedih jg ya denger Indonesia Malaysia gak pernah akur gitu :(

      Delete
  2. seneng deh baca ceritanyaaa... aku suka banget sama apapun yang ada di belandaa, pengen kesana tapi selalu berat sama ongkosnyaa hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. :) makasih....
      just keep dream - believe - and make it happen ;)
      itu aja kuncinya :D banyak jalan menuju Roma, bukan?
      so, keep optimist n semangaatttt ;)

      Delete
  3. Suka ceritanya, jadi terinspirasi untuk liat liat perbatasan negara juga.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)