A Lil' Step to... Germany

Aku berkesempatan mengunjungi negara tetangga ini pada liburan Natal tahun lalu, Desember 2012. Letaknya yang bersebelahan dengan Belanda membuatnya mudah dicapai baik melalui darat maupun udara. Kali ini aku menggunakan jalur kereta yang hanya memakan waktu 3 jam dari Rotterdam menuju Düsseldorf, Jerman. Dengan tiket seharga €17.5 yang sudah aku booking sejak beberapa minggu sebelumnya, aku memulai petualangan bolang ke tiga kota di provinsi North-Rhine Westphalia yaitu Düsseldorf, Duisburg, dan Köln.

Düsseldorf HBF Station

Kereta dari Belanda tidak ada yang langsung menuju Jerman melainkan harus transit dulu di Venlo, sebuah kota di perbatasan Belanda-Jerman. Dari Belanda aku naik si kuning-biru Nederlandse Spoorwegen (NS) Intercity, kemudian berganti kereta Deutsche Bahn (DB) tujuan Düsseldorf. Saat berganti kereta, jelas terasa perbedaannya, antara lain bahasa yang digunakan sebagai petunjuk didalam kereta menggunakan bahasa Jerman, begitu pula pengumuman dari pengeras suara. Kereta DB hari itu penuh sekali, sangat berbeda dengan suasana kereta NS sebelumnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam, dengan satu kali transit di Moenchengladbach.

Tiba di Düsseldorf, suasana natal langsung menyeruak di langit-langit stasiun kereta The Düsseldorf Hauptbahnhof (HBF). Ratusan sparkling lamps menggantung lembut di setiap sudut, dengan beberapa pohon natal menghiasi pintu masuk, serta seorang berpakaian Santa sedang sibuk membagi-bagikan coklat dan permen di main hall. Keluar dari stasiun, langsung ketemu dengan beberapa kios snack&coffee yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan dedaunan Holly serta krans natal, sangat cantik. Aku bertemu dengan salah seorang teman dari Couchsurfing, Danell, seorang asal Venezuela yang bekerja di Düsseldorf selama beberapa tahun. Dia berbaik hati menemani dan mengantarkan aku dan teman-teman untuk keliling (well, sebagian kecil) kota Düsseldorf, terutama mengunjungi berbagai Christmas Market Bubble disana. Namun sayangnya cuaca hari itu sedang tidak bersahabat, gerimis dan hujan mengiringi perjalanan kami menelusuri sudut kota Düsseldorf.
Tujuan utama ke Jerman kali ini memang terfokus pada kemeriahan suasana Pasar Natalnya. Bergerak dari satu spot ke spot yang lain, mata ini dimanjakan dengan kemerlip indahnya segala ornamen hijau-merah dan gold, serta hidung yang terbuai oleh harumnya bau makanan dan wine hangat yang memenuhi atmosfer. Selain menelusuri Christmas Market Bubbles, aku juga diajak menyusuri salah satu jalanan paling terkenal di kota Düsseldorf ini, yaitu Königsallee, sebuah boulevard di tepi kanal yang sarat oleh butik-butik terkenal merk dunia di setiap sisi jalannya. Kemewahan butik-butik di Königsallee ini membuatnya dijuluki sebagai "Champs-Élysées"-nya Jerman! Yah, memang bukan "gue banget" dah menyusuri jalanan luxury ini, tapi namanya juga diantar oleh seorang teman yang bertindak sebagai tuan rumah, why not kalau dicoba.

salah satu tipikal gedung di Jerman

Bangunan di Düsseldorf mayoritas besar-besar dengan bentuk kaku dan kokoh serta berwarna suram dimakan usia yang sudah tua. Aura yang terasa ditengah kota ini seperti dingin dan defensif, meskipun sedang berada ditengah keramaian, namun seolah gedung-gedung tua itu menunduk dan menatap dingin kearahku. Entah cuma imajinasiku saja atau aku sedang menahan dinginnya suhu di negara Sang Nazi Hitler tersebut. Haha...

Ada pengalaman kurang menyenangkan selama menyusuri jalanan di Düsseldorf ini. Tau donk kalau aku selalu membawa ransel saat traveling? Nah, si ransel gendutku ini tanpa sengaja menyenggol orang saat menyeberangi zebra cross di dekat kawasan Königsallee. Aku sudah berniat baik meminta apologize, tetapi yang aku dapatkan malah makian dan gerundelan berbahasa Jerman dari seorang laki-laki, plus mata melotot dan mulut mengsong-mengsong ngomel! Whatttt??? Lho, salahku apa tho? Kan cuma ransel yang nyenggol tanpa sengaja saat gerombolan manusia memenuhi zebra cross untuk menyeberang jalan. Menurutku itu hal yang wajar dan tanpa disengaja, tetapi kenapa si mas Jerman ini ngomel gajebo and misuh-misuh begini? Dan kejadian ini kembali terulang hingga 3x! Bayangkan, TIGA KALI aku dimaki dan diomeli warga Jerman karena masalah "kesenggol ransel" doank! Kontan dari situ aku menjadi hilang respect sama warga Jerman, terutama cowok-cowok nya, yang menurutku tampangnya dingin semua seperti Hitler! Gggggrrr.....

Promenade Rhine River
Puas menyusuri Pasar Natal, si tuan rumah mengantarkan kami menelusuri Rhine River mulai dari The Promenade hingga ke Burgplatz, dimana terdapat sebuah menara peninggalan kastil tua yang kini dijadikan sebagai Museum Navigasi. Lapangan Burgplatz ini sangat cozy untuk acara ngopi-ngopi menikmati sore hari, namun sayangnya sore itu hujan deras sehingga kami tidak bisa mencicipi suasana ngopi di cafe outdoor. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri Altstadt atau Old Town, sebuah area downtown dimana terdapat ratusan bar, yang oleh dunia dijuluki sebagai "The Longest Bar In The World". Well, sebenarnya penampakannya bukan seperti namanya, Bar Terpanjang di Dunia, melainkan karena area ini dipenuhi oleh bar-bar di setiap sudut jalanannya, menjadikan tempat ini terlihat selalu ramai dan tak pernah sepi di malam hari. Kalau kesini, jangan lupa untuk mencicipi beer asli Jerman, Altbier, yang konon hanya diproduksi di daerah Düsseldorf dan sekitarnya.
Burgplatz
Salah satu sudut 'The Longest Bar in The World'
Hujan yang tak berkesudahan hari itu membuat kami semua cepat lelah karena kedinginan. Setelah menyantap sepotong Turkse Pizza untuk makan malam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Duisburg dengan kereta. Sebetulnya tujuan kami ke Duisburg bukan untuk mengeksplore kota kecil tersebut, melainkan karena host Couchsurfing yang akan menampung kami bermalam saat itu tinggal di Duisburg. Jadilah kami berpisah dengan Danell, si Venezuelan guy yang sudah berbaik hati menemani kami seharian di Düsseldorf itu. Aku dan ketiga temanku meluncur ke Duisburg menggunakan kereta dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.

Setiba di Duisburg, hujan belum juga berhenti. Kami memutuskan ngopi-ngopi sebentar di sebuah cafe Italia didepan stasiun, sambil menunggu host CS tiba. Chris, sang host CS, adalah seorang asli Jerman yang ramah (terlalu ramah malah untuk ukuran orang Jerman! Haha...) Dia mempersilahkan kami berempat menginap dirumahnya selama semalam. Jujur, ini pengalaman surfing CS yang paling konyol yang pernah aku alami. Si host ini rupanya seorang yang doyan banget ngomong. Dia tidak ada hentinya ngajakin ngobrol meski kami semua sudah kelelahan dan mengirim sinyal-sinyal bertanda "STOP TALKING" kepadanya. Alhasil cara terampuh untuk membuatnya sadar bahwa kami sudah mengantuk adalah aku pura-pura ketiduran di sofa! Haha... Konyol memang, tapi ya inilah serba-serbi per-couchsurfing-an. Ada kalanya beruntung mendapatkan host yang baik hati dan enak diajak komunikasi, dan ada kalanya sedikit sial mendapatkan host yang 'weird' dan menyebalkan. Well, aku nggak bilang si Chris ini nggak baik ya... Dia baik, cuma cerewetnya over dosis dan pakai battery Alkaline pula, yang menyebabkan kami semua buru-buru angkat kaki dari apartmentnya pagi-pagi keesokan harinya! haha...
suasana kota Duisburg yang sepi
Pagi hari di Duisburg, aku dan teman-teman menyusuri kota kecil ini dengan berjalan kaki menuju stasiun. Sepanjang jalan, sambil mengunyah biskuit sebagai menu sarapan (maklum traveler kere), kami menyusuri jalanan dengan gedung-gedung besar nan tua di kanan kiri jalan. Seperti kota mati saja rasanya! Hanya kami berempat yang terlihat di jalanan, dengan daun-daun kering beterbangan tertiup angin dingin di sela-sela langkah kami, benar-benar membuat suasana makin dingin dan horor! Berasa ada sepasang mata Hitler sedang mengawasi kami dan siap menembakkan bedilnya ke kepala kami... DOR!! Hahaha... Lebay ah! Tapi memang benar, kota ini terlihat sangat suram dan dingin. Sangat terlihat tidak ramah. Well, ingin rasanya cepat-cepat kabur dari kota ini dan melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya, Köln.

Mejeng didepan Kolner Dom :)
Kereta bergerak melewati jejeran rumah-rumah beratap tinggi khas Jerman, menuju selatan selama kurang lebih 45 menit. Memasuki pusat kota Köln, kereta menyeberangi jembatan Hohenzollernbrücke di atas Rhine River, yang merupakan salah satu icon kota Köln yang sering terpampang di kartu pos. Dari jembatan ini, sudah terlihat sebuah bangunan gothic tua yang menghitam dimakan usia, dengan menara-menaranya yang mencuat kokoh diantara bangunan disekitarnya. Ya, itulah Kölner Dom, sang icon kebanggaan kota Köln, salah satu gereja gothic tertua di Eropa.
Kolner Dom di malam hari
Stasiun kereta Köln HBF terletak persis disamping si gereja tua nan cantik Kölner Dom itu. Namun aku tidak buru-buru menyambanginya, melainkan terlebih dahulu ke hostel demi manaruh ransel. Jarak dari stasiun ke Pathpoint Hostel tidak begitu jauh, hanya perlu berjalan kaki 3 menit saja. Memasuki hostel, kami disambut dengan jejeran bendera-bendera kecil dari berbagai negara di pintu masuknya. Receptionist yang ramah memproses bookingan kami dan menyerahkan kunci, plus manawarkan sekeranjang kecil penuh kue-kue natal. Hmmm... pas banget lagi kelaperan (maklum backpacker kere! hehe) langsung comot saja beberapa Kokos cookies dan Spechulas. Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah: Masak INDOMIE Goreng!!! Ya, santap siang dengan menu Indomie goreng plus sambal ABC itu nikmatnya mengalahkan seloyang pizza maupun sepiring pasta! Kami masak di dapur hostel yang sangat bersih dan lengkap peralatannya. Para tamu hostel diperbolehkan memakai semua peralatan masak, dan kemudian membersihkannya kembali. Menjaga kebersihan secara independent sangatlah penting, karena di hostel ini apa-apa semua serba sendiri termasuk pasang seprai untuk kasur masing-masing. Di area dapur, terdapat sebuah dinding tempat para traveler menempelkan kertas berisi tulisan testimonial. Hampir dari seluruh benua aku lihat ada yang menginap disini, termasuk satu dari Indonesia beberapa bulan lalu, dan kemudian tentunya kami ber-empat, si gadis-gadis Indonesia ini. Hehe... Pathpoint hostel ini recomended deh. Selain rapi, bersih, fasilitas lengkap, juga sangat ramah pelayanannya. Letaknya pun sangat dekat dengan stasiun dan Kölner Dom, membuat hostel ini mendapat rating yang sangat bagus di hostelworld.com.
Pintu masuk hostel Pathpoint
dapur hostel yang bersih
Testimonial board
Female Dormitory Room, sangat bersih dan nyaman!
Aku hanya menghabiskan satu hari dan satu malam di Köln, dengan tujuan utama hanya mengeksplore Christmas Market dan Köln City Centre. Tentang betapa meriahnya christmas market sudah aku ulas di postingan sebelumnya. Namun tentang pengalaman (lagi-lagi) kurang enak selama disana, akan aku ceritakan disini, yang masih mengenai ketidak-ramahan orang-orang di Jerman. Selama berwisata kuliner di pasar natal itu, aku perhatikan sebagian besar penjual yang melayani pembeli tidak pernah mengucapkan kata-kata "You're Welcome" saat pembeli bilang "Thank You". Serta raut muka mereka yang rata-rata 'kencang' bak pakai masker putih telur itu, jarang sekali melayani pembeli dengan senyum renyah ramah tamah layaknya para penjual pada umumnya. Raut-raut muka sedingin Hitler tampak dengan tegas bak tentara melayani pembeli yang mengantre di depan kios mereka. Aku yang sudah terbiasa disapa dan dilayani dengan ramah oleh warga Belanda menjadi sedikit kecewa saat bertransaksi dengan para pedagang Jerman ini. Jika di Belanda para penjual slalu mengucapkan "Alstublieft" bernada ramah saat memberikan barang maupun uang kembalian, lain halnya dengan para pedagang Jerman yang dengan cueknya memberikan uang kembalian tanpa menjawab sapaan "Danke" dan senyumanku! Sial!
ke'tidakramah'an Jerman terlihat dari stasiun yang tidak menyediakan bangku di sepanjang peron nya :(
Tak hanya para pedagang yang bertampang jutek, para pengunjung pun (yang kemungkinan warga lokal) juga bertampang jutek. Contohnya, saat aku dan salah seorang teman hendak mengambil foto disebuah patung, ada seorang Ibu gendut dengan suami dan anaknya menghalangi angle kamera ku. Dengan sopan aku bilang ke si Bapak dan anak nya "Excuse me, I wanna take a picture. Could you please give me some space?" Si Bapak dan anak melipir ke samping memberikan tempat, tetapi si Ibu gendut masih tetap berdiri di tengah-tengah. Aku dengan sabar berdiri dan menunggu kalau-kalau si Ibu akan pindah posisi. Tapi yang ditunggu sepertinya nggak tahu ditunggu, si Ibu gendut dengan cueknya malah asyik mengunyah di tengah-tengah spot foto yang akan ku ambil. Sekali lagi aku menyapa dengan sopan ke si Ibu, tapi tahu apa yang terjadi selanjutnya??? Si Ibu malah dengan nyolotnya jawab "Why you didn't tell me before? Why you didn't just tell 'Excuse Me' hah?" dan dia menggerundel seribu bahasa dewa!! Aku yang shock diomelin si Ibu gendut hanya mampu menjawab dengan geram "Maam, I did it! I said 'Excuse Me' to you, even TWICE!!!". Dan si Ibu masih saja terus melotot dan menyinyirkan mulutnya, sampai si anak berkata padanya "Mom, she said it before but you didn't hear maybe". Dan kemudian si Ibu gendut pun ngeloyor pergi tanpa say sorry, diikuti suami dan anaknya yang tersenyum simpul. Aku masih berdiri shock dengan mulut menganga melihat kelakuan si Ibu jutek itu, kemudian aku menyumpah serapah dan bete sendiri gara-gara kejadian itu. Sampai-sampai aku bilang ke teman-temanku "Kagak bakal gue balik lagi ke Jerman!! Amit-amit dah ni negara kenapa isinya orang jutek semua?! Kemana-mana bawaannya ngeri diomelin orang mulu! Gue gak betaaaaahhhhh disiniiiii.....huwaaaaa....."
Namun untungnya ke-bete-an itu hanya berlangsung sesaat karena aku kembali sibuk berwisata kuliner. Hehe... Perut kenyang hatipun senang... :)
Daging panggang terpanjang! 50cm saja :D
Gluhwein, wine panas yang laris manis saat winter
cantiknya suasana malam di pasar natal
Menyusuri kota Köln di malam hari, berniat ingin mengabadikan foto jembatan Hohenzollernbrücke yang sangat indah dengan lampu-lampu melengkung nya. Tapi sayang si jembatan nan anggun itu terhalang oleh jembatan lainnya, sehingga kurang bagus untuk difoto. Alhasil kami hanya menyusuri sungai Rhine menuju Museum Chocolate, kemudian berputar ke arah Köln City Centre yang dipenuhi dengan pertokoan dan butik-butik kenamaan. Suasana di City Centre ini cukup meriah dengan hiasan lampu-lampu natal yang
menggantung di sepanjang jalan. Dan aku juga melihat counter Dunkin Donuts di salah satu sisi jalan. Hmmm... kangen juga dengan si donat gemuk itu! Sayang di Belanda tidak ada Dunkin... Apalagi J.co! Hehe...
Puas menyusuri malam di Köln, kami kembali ke hostel dan packing karena besok pagi harus check out dan langsung menuju Köln-Bonn Airport untuk terbang ke negara selanjutnya, Czech Republic! Kesan selama 3 hari di Jerman... Seru. Puas menjajal berbagai jenis makanan berporsi jumbo, puas keliling ke berbagai pasar natal, meski mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan orang Jerman. Hehe... So far, Jerman oke lah... Meski aku tidak yakin apakah akan kembali lagi kesana atau tidak. Dan kalaupun akan kembali ke Jerman, aku mengincar Berlin dan Bavaria. Amin! (diaminkan saja dulu ya. hehe)
Kami berempat :)

Tips:
- Mau traveling murah meriah? Jangan ragu bawa/beli Indomie buat sarapan. Harga Indomie di Jerman relatif terjangkau, hanya €0.29. Kan lumayan bisa masak sendiri di hostel, jadi irit biaya makan. Dan jangan lupa juga untuk mencoba berbagai jenis makanan khas Jerman seperti: Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. Dijamin puas kulineran di Jerman! Dan siap-siap menggendut setelahnya. Hahaaa... :D
- Total pengeluaran selama 3 hari di Jerman (Transportasi + Makan + Menginap) hanya €70. Yakin tuh??? Yakin dooonk... Tiket kereta dari Belanda ke Jerman saja cuma €17.5, transportasi selama di Jerman cuma €15.2, biaya hostel cuma €15, sisanya buat biaya makan. Irit bukan berarti kami kelaparan lhooo... :)
Sampai jumpa di cerita selanjutnya... Praha! ;)

Comments

  1. kakaa ajak aku donk.
    Salam Backpacker dr Indonesia. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo sini sinii.... :)

      Tunggu aku kembali ke Tanah Air, kita ngebolang bareng! ;)

      Salam Backpacker dari Eropa :D

      Delete
  2. Haiah,, jadi lo dapet saingan org cerewet(si host CS itu),,, biasanya elo yg gk berenti ngomong,, hehehhe,, miss uuu *peyuk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... iya niiihhh.... :D
      cerewetnya dia jauuuuhhh ngelebihin gue!
      miss u too Liaaaaa *hugssss*

      Delete
  3. Kolner dorm nya keren banget foto nya ..... jadi mesti nabung yg banyak nich, biar bisa jalan2 ke eropa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Kolner Dom emang breath taking banget... :)
      semangaaatttt nabung nya yaaa... \(^^)/
      ditunggu kedatangannya ;)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)