A Lil' Step to... Paris (part 2)

Ramalan cuaca Paris hari Sabtu itu dikabarkan mendung. Aku bangun pagi dan bersiap dengan baju perang untuk mengantisipasi cuaca yang kurang bersahabat. Memakai baju 3 lapis plus coat, legging+jeans, boots, serta kupluk+sarung tangan dan tak lupa payung aku jejalkan kedalam tas. Setelah sarapan, Aku dan Irina pamit ke yang punya rumah, dan mulai menembus dinginnya suhu pagi hari kota Bry-Sur-Marne, Perancis. Gerimis pun mengundang... damn!


antrian di sela-sela kaki Eiffel
Turun dari kereta, aku berjalan cepat menuju Eiffel, si menara yang kemarin gagal aku taklukkan karena antriannya yang 'me-naga' itu. Kali ini aku berharap dengan datang pagi bisa terhindar dari antrian 'ular naga panjangnya tak terkira'. But... Olalaaa... sampai di pelatarannya, sudah ada si ular naga yang meliuk-liuk disela-sela kaki Eiffel. Haiiizzz... Nggak mau donk ya jauh-jauh kesini masa harus kalah lagi sama antrian layaknya ular naga itu. Akhirnya aku nyelip diujung belakang antrian dan mulai mengantri selama 45 menit kedepan.
(-__-") Memang sih antrian tangga jauh lebih pendek daripada antrian lift. Tapi siapa juga sih yang mau susah payah naik tangga ke level 2 dan 3 Eiffel ditengah tiupan angin dingin begini? Aku sih milih amannya saja naik lift, walaupun lebih mahal dan antri panjang, yang penting terbebas dari rasa gemeteran pas naik tangga setinggi ratusan meter itu. Eiffel oh Eiffel... seistimewa apakah dirimu sampai orang rela mengantri ria berjam-jam hanya untuk naik ke puncak. Mungkin semacam kaul atau nazar kali ya "kalau ke Paris, wajib naik ke puncak Eiffel". Hehe...


Champ de Mars dengan background si hitam Montparnasee Tower
Mendung menggantung di atas Paris (view from the top of Eiffel)
Setelah antri hampir sejam disela-sela tiupan angin dingin musim gugur, akhirnya sampai juga... didepan loket! Berhubung usiaku diatas 24, maka tidak mendapatkan reduced fee alias harga diskon, dan bayar full fare €14 untuk sampai di puncak Eiffel, Level 1. Irina yang baru berumur 19, mendapat diskon Jeunes (Youth) €12,50. Setelah mendapat tiket, harus antri lagi sebentar untuk melewati mesin metal detector. Ada larangan membawa botol berbahan beling/kaca saat naik ke menara, mungkin maksudnya supaya nggak ada acara lempar-lemparan botol macam di stadion GBK saat Persija ketemu Persib kali ya! Masuk ke kaki menara Eiffel, tempat lift berada, rupanya harus antri lagi. Yeah, seperti ngantri mau naik Halilintar atau Kora-kora di Dufan pas libur sekolah Juni-Juli deh... Kapasitas lift bisa menampung sekitar 20 orang, yang berdiri berdesak-desakan saat lift mulai bergerak naik. Peringatan "Awas Copet" pun ada dimana-mana, termasuk di setiap level menara. Lift berhenti di Level 2, dan untuk naik ke Level 1 harus berganti ke lift utama. Disini pun antrian juga luar binasa, sodara-sodara! Aku memutuskan untuk eksplore sejenak ke seluruh penjuru Level 3 dan 2, dimana kita sudah bisa melihat pemandangan seluruh kota Paris. Namun seperti yang aku bilang, naik ke Eiffel belum afdol kalau belum sampai ke puncaknya. Udara pagi itu benar-benar bikin merinding sepanjang waktu, meski aku sudah berpakaian super lengkap. Sampai di puncak Eiffel, rasanya nyeesssss..... dinginnya angin menghantam muka, satu-satunya bagian tubuhku yang tidak tertutup. Sambil gemetaran, aku keliling di Level 1, mengabadikan setiap sudut kota Paris yang keseluruhan bangunannya berwarna pucat itu. Hanya satu bangunan yang mencolok berwarna hitam, menjulang diseberang Eiffel, dialah Montparnasse Tower. Tak betah berlama-lama dihantam angin dingin dan gerimis di puncak Eiffel, aku pun cepat-cepat turun. Cukup puas karena kali ini sudah berhasil mewujudkan satu lagi mimpi, naik ke puncak Eiffel.

Sampai dibawah, hujan turun makin deras. Payung polkadotku yang sudah hampir reot akibat terpaan angin di Belanda, kali ini menjalankan tugasnya dengan baik di Paris. Aku lanjut menuju Trocadero, sebuah hall diseberang Eiffel yang merupakan spot terbaik untuk berfoto dengan Eiffel. Berjalan menembus hujan sambil mengunyah panini sandwich itu repot juga, karena sebentar-sebentar angin bertiup kencang mencipratkan air hujan ke arah rotiku. Yieeks! Panini yang semula hangat mengepul, tak lama berubah jadi dingin dan keras. Sampai di atas Trocadero hall, terlihatlah pemandangan menara Eiffel yang berdiri anggun, melambai-lambai genit minta difoto. Berfoto ditengah rintik hujan sambil berpayung ria pegang kamera yang notabene bukan waterproof camera itu benar-benar repot. Apalagi kamera DSLR milik Irina yang mati-matian dipayungin supaya nggak kehujanan, meski yang punya malah rela hujan-hujanan. haha... Selesai foto-foto di Trocadero (meskipun kurang puas karena hasil foto yang buruk ditengah hujan) aku menuju Montmartre, naik metro.
Eiffel view from Trocadero hall
Ada apa di Montmartre? Ada Moulin Rouge, si cabaret club dengan can-can dance nya yang terkenal itu. Kemudian ada gereja Basilique du Sacre Coeur, Landscape terkenal Paris setelah Eiffel dan Notre Dame. Sacre Coeur terletak di puncak sebuah bukit, dimana jika cuaca cerah kita bisa melihat pemandangan kota Paris dari puncak menara gerejanya. Naik metro dari Trocadero, turun di stasiun metro Anvers. Jalan sedikit keatas bukit, melewati gang kecil dengan jejeran toko-toko souvenir,, sampailah aku di pintu gerbang Basilique du Sacre Coeur. Satu kata yang tercetus ditengah rinai hujan siang itu... Cantik! Untuk mencapai gereja, kita harus menaiki anak tangga sejumlah... aku lupa! Pokoknya banyak, sampe ngos-ngosan pas sampai didepan gereja. Fiuuhhh....
stairway to heaven of Sacre Coeur
Altar utama dan kubah gereja Sacre Coeur
Masuk ke Sacre Coeur, tidak dikenakan biaya, namun jika kita mau menyumbangkan uang sukarela untuk biaya pemeliharaan gereja, kita bisa memasukkan uang di kotak-kotak persembahan di sudut pintu gereja. Di pintu masuk, terdapat papan peringatan "Be Quiet & NO PHOTO" dan disebelahnya berdiri seorang security berbadan super gede. Suasana didalam gereja hening, namun 90% bangku telah terisi baik oleh jemaat maupun turis pengunjung. Rupanya saat itu sedang ada misa, tapi sudah hampir selesai. Sehingga aku bisa tetap melipir disekeliling area dalam gereja, sambil curi-curi memfoto beberapa interior gereja. Karena fotonya ngumpet-ngumpet, hasilnya pun hampir nggak ada yang bagus, haha...
ratusan lilin di depan altar Maria
Tadinya aku ingin naik ke Crypte (menara) gereja setinggi 300 anak tangga. Namun mengingat cuaca yang kurang bagus untuk memfoto pemandangan dari ketinggian, maka aku putuskan untuk masuk ke Dome (dungeon) saja. Masuk Crypte maupun Dome dikenakan biaya. Aku membayar €3 untuk masuk ke Dome, ruang bawah tanah gereja Sacre Coeur. Tadinya aku pikir akan masuk kedalam lorong-lorong gelap dengan suasana ala vampir Volturi atau kelelawar. Eh nggak tahunya Dome ini bukan lorong, melainkan ruangan super besar berbentuk melingkar, dengan altar kuno ditengah-tengah. Ruangan ini sepertinya biasa dijadikan tempat prosesi Jalan Salib pada masa Pra-Paskah. Terlihat dari deretan Pemberhentian Salib dari sisi kiri menuju sisi kanan altar. Suasana didalam Dome sangat sepi, hanya ada aku, Irina, dan 6 orang lain yang sepertinya sudah selesai mengelilingi ruang bawah tanah itu. Terasa sedikit horor saat aku melewati sisi kiri altar dimana terdapat area gelap tanpa pencahayaan didepan Pemberhentian Jalan Salib yang menceritakan saat Yesus wafat disalib. Euuuhh... cepat-cepat aku keluar dari Dome saat sadar bahwa hanya tinggal aku dan Irina saja disitu!
Mesin pembuat wine tradisional
Aku keluar area gereja menuju pelataran samping yang ramai oleh stand-stand bazaar. Rupanya hari itu bertepatan dengan festival Vineyard Montmartre, sehingga disepanjang jalan sekitar gereja dipenuhi stand-stand yang menjual wine, buah-buahan, umbi-umbian hasil kebun, makanan tradisional, dan madu. Tapi tentu saja stand wine adalah yang paling mendominasi dan paling ramai dikunjungi. Ada sebuah stand yang amat sangat ramai dikunjungi. Ternyata stand ini adalah satu-satunya stand yang menjual Vin Chaud (hot wine) atau kalau di Belanda & Jerman sebutannya Gluhwein. Satu sloki kecil seharga 4euro, dan sepertinya cukup menghangatkan suhu tubuh ditengah dinginnya rintik hujan saat itu. Hmmm... pantesan ramai banget ya! Aku menyusuri Rue du Chevalier de la Barre yang dipenuhi toko-toko souvenir, menuju Rue du Mont Cenis dimana terdapat banyak cafe kecil disisi jalannya. Menemukan sebuah cafe kecil bernama Cafe Moreno di sudut jalan Mont Cenis, aku memesan segelas Le Chocolat Viennois sambil menunggu hujan reda.
jejeran cafe & toko souvenir di sisi jalan

Sacre Coeur nan cantik!

 Menjelang sore, matahari bersinar cerah di sela-sela kerimbunan awan mendung yang masih betah memayungi Montmartre. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung kuabadikan pemandangan kota Paris dari atas ketinggian Sacre Coeur. Sempat pula menyaksikan iring-iringan karnaval musik dengan kostum Perancis abad pertengahan, berkeliling di sepanjang area festival. Dan benar saja, si matahari ternyata nggak lama-lama mampir di Sacre Coeur, mendung kembali berarak membuat suasana menjadi semakin dingin. Aku memutuskan untuk mengikuti peta mencari Moulin Rouge dengan rute sengaja melewati area pemakaman Montmartre Cemetery. Hah? Koq malah lewat kuburan? Hehe... Iya sengaja. Karena penasaran sama area pemakaman di Perancis yang konon katanya bagus dan klasik. Itu lho, mirip-mirip di video clip lagunya Ungu yang Demi Waktu. :p
Jalanan di Montmartre dengan jejeran flat di kanan-kiri nya


Menyusuri beberapa kilometer Rue Lammark yang dikanan-kirinya dipadati jejeran flat/apartment yang klasik, kemudian Rue Damremont yang ramai oleh toko-toko serta beberapa butik. Jujur, menyusuri area Montmartre dengan berjalan kaki itu sangat menyenangkan. Boleh dibilang, Montmartre adalah tempat favoritku di Paris. Areanya cozy, tenang, klasik sekaligus berkelas, dan letaknya yang berada di ketinggian membuatnya terlihat istimewa. Kemudian sampailah aku di depan area pemakaman Montmartre Cemetery. Dan benar saja, jejeran nisan paling depan saja sudah cantik, apalagi yang bagian dalam pasti lebih klasik. Namun sayang si Irina menolak mentah-mentah saat aku ajak masuk ke pemakaman untuk hunting foto. Katanya,
   "Are you crazy Fransisca? Taking pictures of those graves?? Though they looked so cute I don't wanna get inside the cemetery in this gloomy day. No, thank you."
Haha... Rupanya dia masih waras dengan memilih nggak masuk kedalam area kuburan di sore yang mendung dan gerimis itu. Ya bener juga sih ya, kurang kerjaan juga kalau dipikir-pikir, iseng ke kuburan sore-sore cuma buat foto! :D
Salah satu sudut Montmartre Cemetery, cantik kan pemakaman ini?
Tak jauh dari Montmartre Cemetery, akhirnya sampailah aku di Boulevard de Clichy, tempat Moulin Rouge berada. Bangunannya yang berwarna merah dengan sebuah windmill diatasnya terlihat mencolok diantara jejeran cafe di kanan-kirinya. Tujuanku kesini bukan untuk nonton kabaret show ataupun Tari Can-can, melainkan hanya untuk melihat lokasi sebuah club kabaret terkenal yang dibangun tahun 1889 itu. Tempat ini pulalah yang menjadi setting utama di film Moulin Rouge! yang dibintangi Nicole Kidman. Didepan Moulin Rouge, ada sebuah bundaran besar setinggi 50cm dengan diameter sekitar 2,5 meter yang mengeluarkan angin dari dalamnya. Sepertinya semacam cerobong udara untuk sebuah ruangan atau apapun itu yang ada dibawahnya. Pernah lihat film Step Up 3? Saat Luke pertama kali mencium Natalie di atap gedung, diatas sebuah cerobong angin. Ya seperti itulah rasanya saat berdiri diatas spot ini, berasa ditiup angin hangat dari bawah. Kalau pakai rok, akan terlihat seperti foto Marilyn Monroe dengan gaun putih tertiup angin yang terkenal itu. Hehehe... Spot ini selalu ramai dijadikan spot foto favorit dengan latar belakang Moulin Rouge.
Piramida terbalik didalam Le Carrousel
Hari semakin sore, aku pun lanjut menuju Musee du Louvre untuk mengabadikan foto pyramide nya di malam hari. Naik metro dari Blanche dan turun di Palais Royale Musee du Louvre. Aku mengeksplore bagian dalam Le Carrousel du Louvre yang berada di bawah tanah, tempat dimana terdapat akses masuk ke Museum Louvre. Didalam Le Carrousel ini layaknya sebuah mall, mirip-mirip seperti Grand Indonesia, dengan jejeran butik ternama kelas berat (aih, bahasanya!). Dan disini terdapat sebuah piramida terbalik yang ketaknya tepat berada dibawah bundaran taman Place du Carrousel diluar sana. Kita juga bisa melihat maket keseluruhan bangunan di areal Louvre hingga mencapai Jardin des Tuileries, baik yg upperground maupun yang underground. Keseluruhan suasana didalam Le Carrousel ini terkesan mewah dan modern.
cahaya sore menjelang malam yang cantik
Keluar dari Le Carrousel, aku menghabiskan waktu di sekitar pyramide Louvre sampai benar-benar bercahaya di malam hari untuk diabadikan. Menjelang malam, host CS menelpon untuk mengajak hang out bareng bersama surfer CS lainnya. Kebetulan pas banget malam minggu, jadi ya oke oke saja buatku untuk kongkow di bar sampai malam. Kami memilih salah satu pub di Rue Saint Denis bernama The Hall's Beers Pub. Disepanjang jalan ini banyak berjejer bar dan pub yang cukup happening di malam hari. Jadilah kami ber-empat, aku, Irina, host CS ku Etienne, dan seorang surfer CS dari Korea bernama Aaron, menghabiskan malam disana saling bertukar cerita traveling dan pengalaman, hingga tak terasa waktu bergulir melewati tengah malam.
Night at Museum :)
Arc de Triomphe dengan The Blinking Eiffel di sebelahnya
Dan memang, julukan La Ville des Lumieres atau The City of Lights sepertinya cocok untuk Paris yang memang terlihat indah di malam hari. :)
La Ville des Lumieres
Hints:
- Jika bertemu penjaja souvenir asongan kulit hitam (negro) di sekitaran Trocader, Louvre, maupun Sacre Coeur, berhati-hatilah. Bukan mau rasis atau menjudge mereka tidak baik ya, namun dari berbagai sumber yang aku dapat (termasuk dari warga Paris itu sendiri) kita sebaiknya jangan membeli souvenir dari mereka. Memang sih mereka mencari uang, namun terkadang ada yang "nakal" sambil mencopet. Maka jika datang ke tempat-tempat wisata di Paris dan bertemu mereka (biasanya bergerombol) be aware saat ditawarin gantungan kunci atau apapun itu. Jika mereka menawarkannya seorang diri, nggak perlu khawatir. Tapi jika mereka datang secara bergerombol dan seolah mengintimidasi kita untuk membeli dagangan mereka, harus waspada. Karena bisa jadi mereka berkomplot untuk mengalihkan perhatian dan kemudian mencopetmu! Daannn... yang perlu digarisbawahi, banyak diantara mereka adalah imigran gelap dari Afrika. So, if you buy something from an ilegal person, it means that the thing you bought will be illegal too. Dan pastinya kita nggak mau donk ya berurusan sama hal-hal yang menyangkut hukum seperti itu. So, be careful and smart. Memang souvenir yang dijual mereka harganya jauh lebih murah dari di kios ataupun toko souvenir. Tapi resikonya juga harus dipikirkan, antara kemungkinan dicopet atau membeli barang dari seorang imigran gelap yang notabene bermasalah dalam hukum.
- Paris cantik di malam hari! Jadi sempatkan waktu untuk hunting foto di saat Paris bermandikan cahaya lampu kekuningan. It's beautiful! Waktu yang tepat untuk bisa menikmati kota bermandikan cahaya adalah mulai jam 8 malam (saat musim gugur-semi) atau jam 9:30-10 malam (saat musim panas). Bagi para pecinta kemeriahan cahaya malam, pasti sangat menunggu-nunggu moment dimana menara Eiffel berkelap-kelip (it called The Blinking Eiffel) setiap satu jam sekali selama beberapa menit. Atau menyusuri sepanjang jalan Avenue de Champs Elysees di malam hari untuk merasakan sensasi yang berbeda.
- Bagi yang suka menghabiskan malam, Paris memiliki banyak happening place di malam hari. Salah satunya di Rue Saint Denis. Bar atau Pub selalu ramai di malam hari. Mungkin di Indonesia, pergi nongkrong ke bar/pub akan dikaitkan dengan konotasi negatif. Tetapi di negara barat, budaya minum di bar/pub sudah umum dan dijadikan sebagai salah satu gaya sosialita, dan jauh dari konotasi negatif. Di bar/pub orang bisa duduk bertemu kolega atau berkumpul bersama sahabat, sekedar sharing time dan minum. Bukan sebagai tempat hura-hura, mabuk, atau mencari 'ayam' seperti yang selama ini orang Indonesia pikirkan saat mendengar kata-kata "pergi ke bar/pub".
It's Europe, baby! So change your mind set, and just blend into this kind of culture. ;)
- Toko souvenir bisa ditemukan di sepanjang jalan Rue de Rivoli (samping Louvre), jalanan di sekitar Sacre Coeur, maupun di sekitaran setiap spot wisata terkenal di Paris. Sepanjang Avenue de Champs Elysees juga terdapat banyak toko dan butik untuk memuaskan selera belanja. Harga bervariasi dan rata-rata harga sudah dibanderol di tiap labelnya. Sehingga agak sulit untuk tawar menawar.
Salah satu toko souvenir di daerah Montmartre

Comments

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)