A Lil' Step to... Paris! (part 1)

Musee du Louvre
Siapa yang tak kenal Paris? Kota cantik yang dijuluki sebagai kota romantis dengan sebuah menara yang menjadi iconnya, dan merupakan destinasi paling diminati di dataran Eropa. Ibukota negara Perancis ini terkenal sebagai kota mode dunia, asal berbagai merk fashion terkemuka mulai dari Louis Vuitton sampai Hermes. Juga terkenal dengan French fine dining nya, cara makan yang penuh dengan tata krama. Singkat kata, tak ada yang tak kenal Perancis dengan segala keindahannya. Dan beruntung kali ini aku berkesempatan mengunjungi Paris, meski dalam waktu singkat, namun sudah berhasil mengecap sedikit keindahan negeri asal Croissant itu.


Montparnasse Tower
Petualanganku kali ini (masih) dengan gaya backpacking, yang menerapkan filosofi "kalau bisa gratis atau murah, kenapa harus pilih yang mahal?". Mulai dari Walking Tour hingga akomodasi menginap selama 2 malam, aku dapatkan secara cuma-cuma (baca: Postingan sebelumnya). Diawali dari stasiun kereta Gare Montparnasse tempatku menitipkan backpack di loker, aku mulai membuka peta tua Paris ku. Kenapa tua? Ya karena itu adalah peta terbitan lama dari Vayatour (kantorku) yang tanpa sengaja aku temukan sekitar hampir dua tahun lalu di lemari rongsokan, tanpa tahu akhirnya akan terpakai juga - dua tahun kemudian. Menyusuri dinginnya pagi di Boulevard du Montparnasse, sambil mendongak kearah si gedung hitam yang menjulang setinggi 210m didepan stasiun. Ya, Montparnasse Tower adalah gedung tertinggi di Perancis dan merupakan tertinggi kesembilan di Uni Eropa. Gedung ini menawarkan indahnya panoramic view 360' kota Paris termasuk si cantik Eiffel, dengan tiket masuk sebesar €13 untuk dewasa. Namun kali ini aku tidak masuk ke Montparnasse, karena aku ingin merasakan naik ke puncak Eiffel terlebih dahulu dalam kunjungan pertamaku ke Paris ini. Mungkin lain kali jika aku kembali kesini, aku akan mencobanya.

Pantheon
Dari Boulevard du Montparnasse aku menuju ke Jardin du Luxembourg. Konon katanya taman-taman di Paris akan sangat indah pada musim semi, dimana hamparan bunga warna-warni memenuhi taman. Namun karena saat ini musim gugur, yang aku temukan di Jardin du Luxembourg hanya pepohonan yang mulai menguning dan daun-daun mati yang berserakan. Hmmm... tak begitu menarik disini, hanya mengambil beberapa foto didepan Palais du Luxembourg. Dinginnya udara pagi musim gugur membuat perut berteriak minta disiram segelas kopi panas. Jadilah aku mencari-cari Rue Soufflot yang katanya banyak terdapat cafe murah disepanjang jalannya. Dan benar saja, aku menemukan sebuah cafe kecil yang menjual Formule untuk sarapan seharga hanya €2, terdiri dari segelas Cappucino dan Pain au Chocolat. Di cafe-cafe Perancis sini banyak aku lihat menu paketan yang dinamakan Formule. Mulai dari Formule 1, 2, dst. Mungkin artinya kurang lebih Paket kali ya. Sambil mengunyah croissant coklat hangat aku melangkahkan kaki menuju Pantheon, sebuah bangunan cantik yang berfungsi sebagai tempat kremasi dan rumah abu bagi tokoh-tokoh terkenal ataupun pahlawan Perancis. Banyak nama-nama orang besar yang telah dikremasikan disini, sebut saja Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Victor Hugo, hingga sang arsitek Pantheon itu sendiri Jacques-Germain Soufflot. Sayangnya aku tidak bisa masuk kesana hari itu, karena aku datang terlalu pagi. Pantheon buka setiap hari jam 10:00-16:00, dengan admission fee €7.

Dari Pantheon lanjut menuju pusat inti kota Paris, ile-de-la-Cite, sebuah pulau alami yang terbentuk ditengah-tengah sungai Seine, dan merupakan awal sejarah berdirinya Perancis. Di pulau ini terdapat sebuah gereja gothic tertua di Perancis yaitu Notre Dame. Siapa yang tak kenal Notre Dame? Kecantikan gereja tua ini sudah terkenal keseluruh penjuru dunia. Saat menginjakkan kaki didepan Notre Dame, aku baru sadar bahwa ternyata aku sedang berdiri di Kilometre Nol, yang merupakan titik pusat Paris, bahkan Perancis itu sendiri. Wow... senyum-senyum sendiri, sedikit bangga sudah berkesempatan menginjak pusat negara Perancis. Thanks God!

Notredame tampak depan
Dari depan terlihat ada 3 portal untuk masuk kedalam gereja, yang kesemuanya dihiasi dengan berbagai relief dan patung yang indah, yang merupakan sisa-sisa keanggunan seni gothic pada arsitektur gereja. Pintu masuk ada di portal paling kiri, dan pintu keluar lewat portal kanan. Pintu yang ditengah tertutup, mungkin hanya digunakan untuk acara besar keagamaan saja (aku nggak gitu tahu soal ini). Masuk Notre Dame gratis tidak dipungut biaya, namun saat masuk ada peringatan dilarang berisik dan menggunakan flash pada saat memotret. Karena sampai saat ini Notre Dame masih digunakan untuk tempat ibadah. Dan di gereja ini pulalah disimpan relic-relic keagamaan bersejarah, salah satunya Mahkota Duri yang pernah dipakai Yesus Kristus pada saat perarakan menuju Golgota. Belakangan aku baru tahu dari guide bahwa setiap Jumat pertama tiap bulan, The Holy Crown of Thorn ini dipertontonkan secara khidmat kepada khalayak umum di Notre Dame, sekitar pukul 3-4 sore. Dan kebetulan hari itu adalah Jumat pertama dibulan Oktober, maka tak heran banyak sekali pengunjung di Notre Dame hari itu. 
Pilar-pilar cantik didalam gereja



Rose Window
Memasuki gereja ini, mata langsung terpaku pada langit-langit gereja yang sangat indah. Pilar-pilar besar melengkung cantik dihias dengan banyaknya chandelier yang memancarkan sinar lembut, membuat suasana didalam gereja menjadi remang-remang. Peringatan "SILENT & NO Flash" terpampang didekat pintu masuk. Terlihat deretan kursi yang sebagian terisi oleh beberapa wisatawan yang menyempatkan diri berdoa. Aku memutari bagian dalam gereja, terlihat ratusan lilin kecil didepan patung Bunda Maria, kemudian ada sebuah chandelier raksasa "The Great Chandelier" yang sudah tidak terpakai, terpajang dibagian samping altar utama. Banyak ruang-ruang kecil disekitar altar, termasuk bilik pengakuan dosa dan sakristi. Dan ternyata, aku juga menemukan beberapa tomb alias makam beberapa tokoh penting, terletak dibagian belakang altar. Dari bagian dalam gereja ini kita juga bisa melihat keindahan seni stained glass yang terukir pada beberapa Rose Window disetiap sisi gereja. Setelah puas menjelajahi bagian dalam gereja, aku melangkahkan kaki keluar menuju South Tower yang juga dibuka untuk umum. Namun saat melihat antrian mengular untuk masuk menara, aku mengurungkan niat untuk naik ke menara dan berjumpa dengan Gargoyle-gargoyle yang terkenal itu.
Gargoyle di sudut menara
Lanjut menyusuri jalanan kecil Rue de Arcole disamping kanan Notre Dame, terdapat banyak cafe-cafe yang cukup nyaman untuk ditongkrongin. Aku memilih salah satu cafe bernama Le Quasimodo, tahu donk siapa itu Quasimodo... Si Bongkok penarik lonceng Notre Dame di dalam cerita novel karangan Victor Hugo. Cafe ini kecil namun nyaman. Tujuanku ke cafe ini sebenarnya hanya untuk sekedar cari toilet. Maklum sudah nahan pipis dan nggak nemu toilet di Notre Dame tadi, jadilah aku mampir ke cafe ini pesan secangkir kopi dan croissant. Tapi olala... kopinya kecil banget di cangkir espresso! Haiyaaah.... ini mah sekali glek juga habis. Hehe...
Lanjut lagi menuju tepi sungai Seine River, bermaksud menemukan Sainte Chapelle yang konon katanya terkenal akan keindahan stained glass window nya. Tapi ditengah jalan, perut tergoda oleh deretan sandwich dan panini yang seolah melambai-lambai memanggil setiap orang yang lewat! (ah, hanya efek perut lapar saja...) Rata-rata harga sandwich mulai dari €4 dan croissant jumbo €3.50. Aku tergoda melihat lelehan keju diatas croissant jumbo isi ham yang baru dikeluarkan dari oven. Hmmm.... harum dan rasanya maknyuuussss meleleh didalam mulut! (OMG... ngiler ngebayanginnya). Si Cheese Ham Croissant ini dihargai €3.80 dan sumpah ini enak banget dan gede banget. Aku memutuskan untuk memakannya 2x, kusimpan setengahnya untuk makan siang. Hehe... backpacker ya bo! Musti irit biar survive. :)
Cheese ham croissant yummiii....
Sainte Chapelle terletak bersebelahan dengan Palais de Justice. Namun lagi-lagi antrian pun terlihat mengular. Berhubung aku tidak punya banyak waktu karena sudah ada appointment untuk ikut dalam free tour jam 11 siang, maka aku memutuskan untuk melewatkan keindahan interior Sainte Chapelle untuk kunjungan berikutnya. Aku langsung menuju Saint Michel fountain yang terletak tak jauh dari Sainte Chapelle ini, meeting point free tour ditetapkan disini. Air mancur Saint Michel Fountain ini sebenarnya menurutku bukan seperti air mancur beneran, melainkan lebih ke air terjun mini yang memancar dari sela-sela batu dibawah kaki patung Saint Michel. Dari sinilah free tour itu dimulai. Aku kebagian rombongan yang dipimpin oleh seorang guide asal New Zealand, namanya Alex. Dia cukup fasih berbahasa Inggris, namun aksen nya membuat semua kata-kata menjadi kurang jelas ditelingaku. Haha, yasudahlah ya... Namanya juga free tour, nggak boleh protes kalau service nya nggak 100%.
Saint Michel Fountain
Perjalanan diawali dengan menyusuri tepi Seine River melewati Place Dauphine - Statue Henry IV - Pont Neuf - Church St.Germain l'Auxerrois - Musee du Louvre - Rue de Rivoli - Palais Royal - Jardin des Tuileries - dan berakhir di Place de la Concorde, tempat berdirinya sebuah obelisk yang didatangkan langsung dari Mesir pada abad ke 19 yang merupakan hadiah dari pemerintah Mesir kepada Perancis. Jika dilanjutkan, kita bisa menyusuri Champ Elysees dari obelisk ini menuju ke Arc de Triomphe. Setelah menyusuri kesemua tempat itu selama 3jam berjalan kaki, aku memutuskan untuk mengeksplore bagian lain kota Paris tanpa guide, hanya berbekal peta tua ku. Dari Place de la Concorde, terlihat menara Eiffel menyembul dari balik pepohonan. Aku mengikuti arah menara itu berada, menyeberangi Seine River lewat Pont de la Concorde, mengagumi sebentar bangunan L'Assemblee Nationale - Ministere des Affaires Etrangeres et Europeennes (hadoh namanya susah!) - Kantor pusat Air France - dan jembatan cantik Pont Alexandre III. Setelah melewati Museum Quai Branly, sampailah aku di hadapan menara cantik icon kota Paris, Eiffel Tower! Mendongak keatas menatap susunan besi tua yang menjulang setinggi 324m, aku hanya bisa mengucap syukur atas pencapaian mimpi masa kecilku untuk melihat Eiffel. Terharu... sedikit melankolis memang saat aku menyadari bahwa aku tengah berdiri ditempat yang dulunya hanya sekedar mimpi, kini berhasil aku wujudkan menjadi nyata. Rasanya? hmmm... sumringah! hehe...
Eiffel... finally!
Niatnya mau naik keatas puncak Eiffel, tapi melihat antrian yang bukan mengular lagi judulnya, tapi "me-naga" itu, bikin males luar biasa. Aku putuskan besok saja pagi-pagi aku datang lagi kesini dan mulai antri dari pagi. Akhirnya karena keterbatasan waktu, mengingat aku sudah janjian sama host couchsurfing untuk ketemuan di Arc de Triomphe sore itu jam 5, aku langsung ke Gare Montparnasse mengambil ransel. Menyeberangi Champ de Mars dengan sedikit terburu-buru, namun masih sempat melihat-lihat sekilas festival patung beruang dari berbagai negara "United Buddy Bears", aku menuju stasiun metro Duplex. Tiba di Gare Montparnasse sekitar jam 4:50 sore, suasana stasiun sedang ramai-ramainya orang pulang kantor. Butuh waktu 3menit untuk jalan dari metrostation Montparnasse Bienvenue ke stasiun kereta Gare Montparnasse. Naik turun eskalator yang padat dan sibuk, berkali-kali orang mengucapkan "Pardon" saat melewatiku. Belakangan aku baru tahu kalau saat naik eskalator sebaiknya kita berdiri di sisi kanan, karena jalur kiri biasa digunakan untuk orang-orang yang sedang tergesa-gesa dan untuk menyalip orang didepannya. (yaelah bahasanya salip-menyalip kaya sopir metromini aja!). Pantesan dari tadi banyak orang yang 'pardon-pardonin' aku, ternyata aku cuek berdiri nyantai di jalur kiri - jalurnya orang rush hour! haha....
Arc de Triomphe
Setelah ambil ransel di loker penitipan barang (bayar €5.50 untuk loker kecil, muat 2 ransel uk.sedang) aku tergesa kembali ke metrostation Bienvenue Montparnasse menuju ke Charles de Gaulle Etoile metrostation. Suasana metro pada jam-jam sibuk seperti saat itu benar-benar kurang nyaman. Jangan ngarepin duduk deh, bisa berdiri pegangan aja udah untung. Dan hati-hati copet! Diseluruh penjuru Paris ini aku sering melihat warning "Beware of Pickpocket". Sepertinya copet di Paris lebih banyak daripada di Belanda ya? hehe... Charles de Gaulle Etoile metrostation merupakan stasiun terdekat dari Arc de Triomphe. Tinggal jalan kaki sedikit, kalau mau ngesot juga bisa, sampai deh didepan landmark berbentuk kotak bolong tengah'e itu. Monumen ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang gugur pada masa Revolusi Perancis. Bahkan dibagian dalam Arc de Triomphe ini terdapat sebuah makam seorang pejuang yang tak diketahui identitasnya, Tomb of the Unknown Soldier.
Di salah satu sudut Place Charles de Gaulle (lapangan tempat berdirinya Arc de Triomphe), aku bertemu dengan host couchsurfing yang akan menampungku selama 2 malam kedepan. Namanya Etienne Marquet, seorang Perancis asli yang sangat baik, dengan bahasa Inggris yang cukup excellent. Bahkan aku bisa mengerti ucapannya dengan jelas, berbeda dengan Alex si guide tour tadi pagi yang ucapannya sangat susah dimengerti. Etienne tinggal diluar kota Paris, tepatnya di Bry-Sur-Marne di zone 4, sebuah komplek perumahan yang tenang karena jauh dari hiruk pikuk pusat kota Paris. Untuk menuju Bry-Sur-Marne kami naik kereta RER C selama kurang lebih 30menit. Kami menghabiskan sore itu dengan masak bareng bersama temanku Irina, seorang gadis Argentina yang kali ini jadi my partner in crime for Paris trip! Hehe... Kami menutup malam itu dengan dinner dan percakapan yang hangat, ditemani segelas red wine dan alunan musik jazz. Hmm... Lovely!


Hints:
- Jika tiba di Paris pagi hari dan mau langsung jalan-jalan keliling kota, ada baiknya menitipkan backpack atau luggage di locker penitipan barang. Leave luggage locker ini terdapat disetiap stasiun kereta di kota Paris (stasiun kereta lho ya, bukan stasiun metro). Tarifnya mulai dari €5.50 untuk loker paling kecil seukuran dua ransel sedang. Dan locker terbesar bisa muat koper ukuran besar. Cara pakai locker ini, harus menggunakan recehan logam sejumlah tarif per locker. Masukkan uang recehnya ke pintu locker, maka pintu akan otomatis terkunci dan mengeluarkan pass-card untuk membuka locker itu kembali nantinya. Ingat, sekali kamu memasukkan barang dan menguncinya, maka pass-card hanya bisa digunakan 1x juga untuk membukanya. Jadi sebelum mengunci pintu locker, pastikan tidak ada barang yg tertinggal didalamnya. Karena kalau kamu membukanya 2x, maka tarifnya pun 2x lipat. Bagaimana jika tidak punya recehan? Jangan khawatir, disana disediakan mesin tukar uang recehan. Tinggal masukkan uang kertas kedalam mesin dan... cring cring cring... logam pun berjatuhan kedalam wadah. Praktis bukan?
- Saat berada di stasiun, baik metro maupun kereta, usahakan berdiri di sisi kanan kalau nggak mau ditabrak sama orang yang lagi buru-buru. Tapi kalau kamu memang sedang terburu-buru mengejar jadwal kereta misalnya, bolehlah ikutan jalan cepat di sisi kiri. Sambil jangan lupa bilang "Pardon" saat akan menyalip orang (haiyah, bahasa itu lagi). Pardon artinya sama dengan "Excuse Me".
- Selalu letakkan tas menghadap kedepan (tas tangan/selempang). Jika menggunakan ransel, jangan taruh barang berharga di ransel. Copet di Paris terkenal cerdik dan lincah. Salah satu contoh yang dijelaskan oleh Alex si tour guide, adalah sekelompok wanita yang pura-pura tuli di sekitar jembatan Pont Neuf. Mereka berpura-pura tuli dan menyodorkan selembaran charity untuk meminta sumbangan. Jangan ditanggapi dan teruslah berjalan saat kamu bertemu mereka. Karena jika kamu berhenti dan menanggapi mereka, maka salah satu dari mereka akan mengalihkan perhatianmu dan yang lainnya akan mencopetmu dengan cepat.
Warning!!

Comments

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)