Get Lost in the Nederlandse Spoorwegen


Belanda merupakan salah satu negara maju yang sistem transportasinya sudah tergolong canggih.  Tak hanya canggih, tapi juga sangat tepat waktu. Baik tram, bus, maupun kereta (transportasi darat) semuanya terjadwal dengan seksama. Jarang sekali ada kejadian kereta datang terlambat atau bus yang sampainya lelet. Di setiap halte bus & tram pun ada papan elektronik digital penanda jadwal kendaraan tersebut akan tiba, berikut jurusannya kemana. Alat pembayaran transportasinya pun tidak menggunakan cash yang dibayarkan pada kondektur atau kernet. Semuanya menggunakan metode flashcard/chipkaart, yang cara penggunaannya cukup ditempelkan pada mesin pemindai saat naik dan turun kendaraan. Ongkos jalannya akan terpotong otomatis dari saldo yang ada didalam kartu. Sama halnya dengan kereta, jadwal tiba dan keberangkatan kereta pun sangat tepat waktu. Terlambat 30 detik saja sudah bisa dipastikan ketinggalan kereta.
Cara beli tiket via vending machine

Bahkan saking canggih dan tepat waktu nya sistem transportasi darat disini, bisa bikin traveler ceroboh macam aku ini nyasar. Kejadian ini aku alami saat aku pertama kalinya naik kereta menuju Delft untuk mengikuti sebuah au pair outing. Aku diminta datang tepat waktu jam 11 siang pada hari Minggu itu. Sebelum berangkat aku sudah menyusun time planning agar tidak terlambat. Melalui website www.ns.nl dan www.9292.nl aku mengecek jadwal keberangkatan kereta ke Delft, berikut juga dengan jadwal tram nya. Semua rencana sudah tersusun rapi. Aku akan berangkat dari rumah jam 9:30, kemudian naik kereta yang jam 9:57, sampai di Delft jam 10:08, masih ada waktu untuk menunggu tram yang berangkat jam 10:20, kemudian dilanjutkan jalan kaki 5 menit ke tempat acara. Perkiraan matang yang telah disusun itu memungkinkan aku untuk datang 20-30 menit lebih awal.

Jadilah aku berangkat ke Rotterdam Centraal Station dengan diantar hostdad. Aku membeli tiket kereta di counter, dengan harga 6.50 euro (50 cent hanya dibebankan kedalam tiket yang dibeli melalui counter. Jika kita punya bank account dan kartu ATM, tiket bisa dibeli langsung di vending machine tanpa dikenai biaya tambahan 50 cent tersebut). Setelah beli tiket, aku mengecek jadwal keberangkatan kereta di papan elektronik digital yang menampilkan seluruh jadwal kereta. Tapi sempat bingung juga melihat banyaknya jadwal yang terpampang. Akhirnya, daripada bingung-bingung, aku bertanya pada bapak-bapak berseragam biru yang merupakan petugas stasiun.
                “Sir, could you show me which is the train to go to Delft? Coz I’m a bit confuse reading those lines.” Ucapku sembari menunjuk ke papan jadwal. Bapak2: “Oh, you can go to platform 9. Your train will be there. Oh, C’mon! Your train is two minutes left! Go, go go… Run!! Now!!“ si bapak ngomong dengan ekspresi terburu-buru.
Waduh! Apa katanya tadi? Tinggal 2 menit lagi? Wah, dengan lari tunggang-langgang aku mencari dimana platform 9 itu berada. Sempat terbersit, kenapa nggak platform 9 ¾ aja ya? Naik Hogwarts Express! Hihihi…. Akhirnya ketemu juga tuh platform 9. Dan memang saat aku tiba, sang petugas yang berdiri di samping kereta sudah membunyikan peluit, tanda kereta akan berangkat. Aku pun buru-buru naik dan mencari tempat duduk di gerbong kelas dua. Fiuuhhh… lega deh nggak ketinggalan kereta dan dapat tempat duduk pula. Walau perjalanan hanya makan waktu 11 menit menuju Delft, tapi lumayan juga kan dapat tempat duduk di window, bisa sambil jeprat-jepret.
10 menit… 11 menit… 12 menit… Lho? Koq kereta ini nggak memperlambat lajunya ataupun ngerem sama sekali sih? Malah keluar masuk terowongan gelap yang nggak bisa lihat apa-apa di kanan-kiri jendela. Waduh, mulai nggak enak perasaanku saat itu! Aku kemudian bertanya ke mas-mas Londo disebelahku, kemana tujuan kereta ini sebenarnya. Dia menjawab dengan alis berkerut, “we’re going to Amsterdam, don’t you know it?” JLEB!!! Dengan tampang polosnya aku hanya menjawab, “mmm… I think I take the wrong train. I need to go to Delft, not Amsterdam.” Dan si mas bule itu hanya tersenyum, “Oow, so you should take the next train which is come two minutes after this train left from Rotterdam Centraal.” Omaigaaattttt….. beneran kan salah naik keretaaa…. Menurut si mas itu, harusnya aku naik kereta yg datang dua menit kemudian setelah kereta tujuan Amsterdam ini berangkat, karena jalur platform nya sama-sama di jalur 9! Hmm… ternyata terjadi kesalah-pahaman antara aku dan bapak berseragam biru di stasiun tadi. Atau lebih tepatnya aku yang ceroboh, dengan asal naik kereta tanpa membaca papan keterangan jadwal yang tertera di setiap platform.
Oalaaahhh… yang niatnya mau datang tepat waktu malah jadi terlambat habis-habisan ini sih. Kereta yang aku naiki ini menuju Amsterdam Centraal Station, dengan transit 1x di Schipol. Total waktu tempuh sekitar 45 menit. Setiba di Amsterdam Centraal, aku buru-buru turun dan bertanya pada salah satu petugas, adakah kereta yang langsung menuju Delft. Dan ternyata tidak ada! Satu-satunya cara hanyalah aku harus kembali ke Rotterdam dan ganti kereta yang kearah Den Haag. Dan kereta selanjutnya yang menuju Rotterdam akan tiba 20 menit kemudian. Seketika aku memaki diriku sendiri atas kecerobohanku pagi itu. Dengan gontai aku menuju ke counter tiket dan membeli tiket one way ke Rotterdam. Dan untuk kedua kalinya aku memaki diriku sendiri, saat total harga tiket one way itu terpampang di layar kasir, 14.10 euro!!! What?? Lebih dari 2x lipat harga tiket ke Delft! Dengan muka lecek aku bertanya ke mbak Negro yang jaga counter, “are you sure 14.10 euro? Is it a one way ticket?” eh, si mbak malah dengan sewot menjawab, “Yes this is the price, what’s your problem? Do you wanna take it or leave it?” Iya deh mbak iya, jangan sewot donk, namanya juga anak kosan yang kaget lihat harga tiket sekali jalan aja segitu. Dengan makin berat hati aku menuju kembali ke jejeran platform kereta, setengah berharap ketemu serombongan anak yang membawa sangkar burung hantu menuju platform 9 ¾ (eh? Ini Belanda kali, bukan London!).
Rookzone / Zona Merokok / Smoking Area
Terduduk sendirian di platform 15 outdoor, ditengah tiupan angin musim gugur yang sedingin kulkas, aku menunggu keretaku datang. Aku perhatikan disekitar platform, ada beberapa laki-laki yang berkumpul di beberapa titik lokasi, sedang asyik menghisap rokok. Di tempat itu terdapat tulisan Rookzone. Oooh, jadi ini adalah lokasi dimana orang diperbolehkan merokok, selain dilokasi yang ada tulisan Rookzone nya, siapapun dilarang untuk merokok. Dan aku rasa di sepanjang area platform outdoor diperbolehkan merokok.

Pemandangan sepanjang perjalanan
Jam 10:07 kereta yang menuju Rotterdam tiba. Sebelum naik, sekali lagi aku melihat kearah papan petunjuk diatas platform, memastikan bahwa ini kereta dengan tujuan yang benar. Akupun kemudian menikmati 45 menit perjalanan kembali ke Rotterdam dengan asyik jeprat-jepret pemandangan yang aku lewati disepanjang perjalanan. Mulai dari hamparan padang rumput berisi sapi-sapi yang sedang merumput, kuda-kuda yang sedang ditunggangi pemiliknya keliling perkebunan sayur, hingga jejeran rumah-rumah kaca tempat berbagai sayuran organik ditanam. Kereta yang aku naiki ini namanya NS Intercity (NS: Netherlands Spoorwagen; Perusahaan kereta api milik pemerintah. Kalau di Indonesia KAI kali ya). Gerbongnya tingkat 2, atas dan bawah. Terdapat dua kelas, yaitu kelas 1 dan 2. Kondisi gerbong kelas 1 nyaman dengan bangku empuk berwarna biru dongker dan tempat duduk 2-1. Gerbong kelas 2 pun nyaman, dengan bangku warna pink violet dan tempat duduk 2-2, berhadap-hadapan dengan sebuah meja ditengah.
Gerbong kelas 1
 
Gerbong kelas 2
Tiba di rotterdam, aku langsung naik ke kereta dengan tujuan Den Haag Centraal, yang akan terlebih dahulu singgah di Schidam kemudian baru Delft. Aku tiba di tempat acara tepat jam 12 siang, saat sesi pertama telah selesai. Untungnya masih diperbolehkan masuk oleh reception nya. Hehe… Pelajaran yang bisa dipetik, lain kali harus lebih teliti dalam mengecek jadwal kereta dan kalau masih kurang yakin bisa bertanya pada petugas stasiun. Namun bertanya pun juga harus hati-hati, jangan sampai salah persepsi seperti yang aku alami. Karena terkadang orang-orang Belanda ini grammar bahasa Inggris nya suka ngaco, itu yang bikin salah tanggap. Untungnya, setelah pengalaman pertama naik kereta yang ujung-ujungnya nyasar itu, aku selebihnya aman-aman saja berkereta kesana-kemari. Intinya ya harus teliti dan tepat waktu. :)
Harus lihat ini disetiap platform :)

Comments

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)