The Miracle of Dreams Theory

Masih teringat jelas bagaimana dulu waktu kecil, aku sering memelototi sampul album foto yang bergambar Pegunungan Salju abadi Switzerland, atau gambar hamparan bunga tulip warna-warni di lembaran kalender yang tergantung didinding ruang tamu rumahku. Dulu aku tak tahu dimana tempat-tempat indah itu berada. Yang aku tahu, setiap kali aku ikut Ibu pergi ke kantor pos, aku selalu asyik sendiri melihat-lihat kartu pos bergambar sebuah menara miring dan menara lancip, yang setelah aku bersekolah baru aku tahu namanya Menara Pisa dan Eiffel. Saat sudah bisa membaca, Bapak selalu membelikanku majalah Bobo setiap minggu. Dan dari sanalah awal mula hobi kutu buku ku. Dari majalah Bobo pula lah aku tahu bahwa tempat-tempat indah yang selama ini aku lihat di kartu pos dan kalender itu ada di benua Eropa.  Dan ternyata tak hanya Eropa yang punya tempat-tempat eksotik, seluruh benua di muka bumi pun punya tempat-tempat spektakuler dengan ciri khas nya masing-masing.
Dulu, nggak pernah terbayang mau ke Eropa, Australia, bahkan Asia sekalipun! Hanya bisa memandangi gambar-gambar indahnya di majalah2 dan bergumam "kapan ya aku bisa ksna..." Hanya sebersit keinginan yang aku tahu itupun terlalu tinggi untuk seorang gadis biasa saja seperti aku. Bukan berasal dari keluarga tajir, membuatku menepis angan-angan untuk bisa ke berbagai tempat itu jauh-jauh. Yang aku pikirkan saat itu hanya sekolah, belajar, kuliah, lalu bekerja. Dan gambaran-gambaran Eiffel maupun hamparan tulip itu semakin memudar, namun tetap ada di dalam pikiran dan alam bawah sadarku.
Aku menjalani kehidupan normalku sebagai perempuan biasa yang bekerja sebagai mbak-mbak kantoran dengan penghasilan standar, yang harus pintar mengatur bagaimana untuk bisa survive sebagai anak kosan di belantara ibukota ini. Namun hobi jalan-jalan yang sudah tumbuh sejak SMA itu, makin hari makin menjangkit bak penyakit. Kalau dulu pas SMA, aku hanya hobi jalan-jalan disekitar kota tempatku tinggal. Naik gunung/bukit, kemping, ke pantai, jadi agenda jalan bareng teman-teman semasa sekolah. Sesekali aku juga ke Jogja atau Jawa Timur saat libur panjang kenaikan kelas. Kemudian beranjak ke masa kuliah, hobi jalanku mulai merambah ke dunia touring. Touring ke luar kota pun dijadikan agenda traveling rutin, meski tidak terlalu sering, mengingat kocek anak kuliahan yang nggak seberapa. Hingga akhirnya aku masuk ke dunia kerja, dimana aku sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri, hobi traveling pun makin menggedor jiwa petualangku.
Seiring dengan makin maraknya trend airlines Low Cost Carrier, aku pun mulai rajin berburu tiket. Dan menerapkan filosofi gila didalam benakku, "Bekerja setahun, menabung setahun, dan dihabiskan untuk traveling 3x setahun!" Haha.... Nekat? memang... Kalau nggak nekat, nggak adventurous donk. iya kan? Dan konsep flashpacking dan backpacking pun aku terapkan di tiap agenda travelingku. Mematok target tiap tahun, dengan perhitungan budget traveling yang kira-kira cukup, aku pun mulai merangsek keluar garis batas Republik Indonesia.
Ada sebuah kata-kata bijak yang aku dapat dari seseorang, bahwa "jika kau memiliki impian, gambarkanlah impianmu itu diatas sebuah kertas, dan pandanglah kertas itu setiap hari sebelum kau memulai aktifitasmu. Tanamkan itu dalam alam bawah sadarmu, dan jadikan itu motivasi untuk meraihnya." Semula aku hanya berpikir, masa sih sebuah gambar saja bisa menjadi pendorong motivasi? Namun akhirnya aku menuruti juga saran itu. Aku menggunting beberapa gambar tempat-tempat yang menurut aku indah dan merupakan destinasi impian bagi para traveler. Aku memilih acak gambar Eiffel, Keukenhof, Phi-phi Island, dan beberapa tempat lainnya di Asia, Australia, Eropa, dan tak lupa juga Indonesia. Aku tempelkan potongan-potongan gambar itu di balik sebuah kertas brosur film (benar-benar asal buatnya). Dan aku tiliskan kata-kata pemotivasi diantara tebaran gambar itu. Kemudian aku tempelkan kertas itu di meja kerjaku, yang mau tak mau aku pandangi tiap kali aku duduk didepannya. Entah karena kertas itu, atau karena aku tengah beruntung. Satu persatu destinasi impian itu pun tercapai, masih di kawasan Indonesia dan Asia memang... Namun aku sudah cukup bersyukur bisa punya kesempatan mewujudkan potongan gambar yang tadinya hanya sekedar angan-angan itu. Sayang kertas bersejarah itu terselip entah kemana saat aku pindah kantor. Meskipun tanpa kertas itu, kini aku tetap menanamkan keyakinan dalam alam bawah sadarku setiap hari, untuk bisa menginjak dataran Eropa yang sejak kecil telah menggelitik dunia khayalku itu.
Sampai di 2011 terbersit keinginan untuk bisa kesana, bukan sekedar jalan-jalan melainkan stay disana. Tapi sempat bingung dan ragu, apa iya mungkin aku yang seorang gadis biasa saja ini bisa menginjak belahan bumi utara nan jauh disana? Selama ini, aku yang bekerja di sektor pariwisata ini hanya mampu mendengar cerita teman-teman yang pernah bertugas kesana, ataupun melayani klien yang berencana berlibur kesana. Namun keinginan untuk bisa mencicipi negara empat musim kian mendobrak pemikiranku. Maka dimulailah pencarian informasi seputar beasiswa hingga program cultural exchange ke negara-negara di Eropa. Berbagai cara telah kucoba, hingga akhirnya di 2012 aku membulatkan tekad untuk ikut program cultural exchane atau pertukaran kebudayaan. Dan dipilihlah Belanda sebagai destinasiku untuk belajar dan tinggal disana.
Berbekal berbagai informasi dan kemantapan hati, aku pun meminta restu orangtua, untuk rencana gila dikepalaku ini. Sempat orangtua hanya menanggapi rencana nekatku ini dengan pertanyaan "apa kamu serius?" Ya, mengingat aku hanyalah seorang gadis biasa yang berasal dari keluarga yang biasa saja, mungkin memang impianku ini sedikit kurang ajar. Hehe.... Tapi itulah aku, dengan berbagai impian yang semula memang dianggap nggak tahu diri, tapi akhirnya bisa aku wujudkan satu persatu. Dan sama halnya dengan impianku ke Eropa kali ini. Memang sedikit sinting bagi anak terakhir seorang pensiunan PNS ini untuk mimpi bisa tinggal di Eropa. Namun, orangtuaku akhirnya merestui tekadku itu dengan harapan semoga kali ini mimpi anak bungsunya ini pun akan terwujud.
Dimulailah semua prosedur di awal tahun, mulai dari pendaftaran hingga pemenuhan segala macam urusan dokumen dan administrasinya. Segala yang dibutuhkan untuk persiapan tinggal dan sekolah disana aku siapkan satu persatu. Cukup berliku dan makan waktu hingga setengah tahun. Bahkan sempat putus asa pula saat ada dua buah dokumen reference yang ditolak oleh pihak Belanda. Sempat pula merasa galau saat tak kunjung ada kepastian jadi atau tidaknya aku kesana. Hingga pada awal Juli lalu aku dihubungi oleh salah satu host-family dari Belanda, yang menyatakan bahwa merekalah yang akan menampung dan membiayai seluruh akomodasi dan proses belajarku selama disana. Wow…. Rasanya? Girang luar biasa hingga bicara pun terpatah-patah saat ngobrol dengan host-fam itu. Akhirnya sebuah titik terang itu pun muncul. Aku kembali bersemangat dalam mempersiapkan segala tetek-bengek dokumentasi guna mengurus visa, MVV, dan Residence Permit ku di Belanda. Kini yang tersisa hanya dua bulan waktuku untuk menikmati negara tropis ini, sebelum nanti akhirnya aku hijrah ke negara empat musim itu.
Perasaanku kini? Campur aduk, antara senang bukan main karena sebentar lagi bisa mewujudkan mimpiku ke Eropa, dan sedih karena harus meninggalkan comfort zone ku selama 25 tahun di Negara tropis ini. Namun aku telah membulatkan hati untuk ‘dare to breakthrough’ dengan keluar dari comfort zone, menanggalkan status karyawan tetapku disebuah perusahaan jasa pariwisata yang aku cintai. Mengutip dari sebuah kata-kata bijak "orang yang sukses adalah orang yang berani meninggalkan comfort zonenya dan dare to breakthrough!" Dan ini saatnya untukku. Kini, dua bulan yang tersisa akan kumanfaatkan untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang aku sayangi disekitarku. Melakukan apa yang belum sempat dilakukan, dan mengungkapkan apa yang selama ini belum sempat dikatakan. Memang sih, perjanjian kerjasamaku dengan pihak Belanda hanya satu tahun, namun aku berencana untuk extend sampai entah kapan. Sepertinya seru aja gitu bisa belajar bahasa disana kemudian bekerja disana, sukur-sukur bisa dapet jodoh orang sana pula. Hehe…
Mungkin beberapa bulan yang lalu, orang-orang mengira aku ini hanya pemimpi sinting dengan hayalan tingkat dewa. Namun nanti, aku akan membuktikan sebuah pembuktian nyata, akan teori “The Miracle of Dreams” itu. Bahwa sebuah mimpi yang kita tanamkan dalam hati dan kita yakini, akan bisa kita wujudkan tentunya dengan sebuah usaha, sebongkah harapan, dan untaian doa.
Kini, aku hanya bisa minta doa dari keluarga dan teman-teman, semoga pilihanku ini bisa berjalan lancar dan membuahkan hasil yang baik dikemudian hari. Pastinya aku akan sangat merindukan kalian semua nanti. Karena sebelumnya aku nggak pernah meninggalkan Indonesia lebih dari seminggu. Bakalan kangen berat sama suhu udara tropis dan masakannya. Hmmm…. 


Comments

  1. Say sudah di Belanda? Di kota apa? Ketemuan yuk kalo ada waktu.. Aku di Den Haag..

    www.ourcapucino.blogspot.nl

    ReplyDelete
  2. hai... sudah di Rotterdam nih
    boleh kpn2 ktemuan :)
    emailnya apa?
    salam kenal yaaa :D

    ReplyDelete
  3. Hahaha....oalaaah...ini kamu thoh! Lucu ya secara ga sengaja kita kenalan & ketemu! ;D
    Welkom! Enjoy Holland girl :)

    Salam,
    Kameraungu ;)

    ReplyDelete
  4. mbak, sy amilia, mau nanya cranya buat dapetin program student exchange gmna ya?
    liat infonya dr mana? trus ikut program itu mesti pelajar mbak? org umum bisa gak mbak?
    sy rencana mau ikut program itu juga.
    trims mbak
    ini no hp sy y mbak: amilia: 085760710617
    di tunggu infonya ya mbak
    wish i can follow ur step mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Amilia :)
      Salam kenal juga...
      bisa inbox ke email saya fransisca.widi@gmail.com untk tahu lebih lanjut soal program yg saya ikuti.
      btw, itu hati2 taro no.hp di tempat umum. lbh baik di hide saja utk menghndari hal2 yg tdk diinginkan.
      krn jaman skrg byk spam n penipuan melalui no.hp yg terekspose. okay ;) (saran aja sih)

      Salam,
      Fransisca

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)