A Lil' Step to..... Phuket - South Thailand


       
            Phuket Trip – Day 1

It’s Summer! Time to touch beaches…… Ya, tujuan liburan saya kali ini adalah Phuket, sebuah provinsi di daerah selatan Thailand. Phuket sudah sangat terkenal dengan udara tropisnya, pantai-pantai indahnya, kuliner khasnya, dan keramahannya. Lagi-lagi saya beruntung dapat tiket promo Air Asia. Hehe… Dan kembali saya menyandang backpack dipunggung menuju Soetta Airport.
Suasana Airport siang itu cukup ramai, karena memang pas lagi musim liburan sekolah kali ya…. Kali ini saya berangkat bersama Rebecca (lagi). Sebenarnya kami liburan bertiga dengan Angelina juga, tapi Angel sudah berangkat duluan ke Bangkok seminggu yang lalu. Jadi nanti kami ketemuan di Phuket International Aiport.
Flight kami sore itu delay selama 40 menit, katanya sih karena cuaca di Phuket sedang kurang bagus. Akhirnya kami take off jam 4.45 sore. Butuh waktu tempuh selama 3 jam dari Jakarta – Phuket, dengan catatn direct flight yaaa….. untungnya sekarang Air Asia ada direct flight ke Phuket, jadi ga perlu repot2 transit lg deh…. Hehe…
½ jam sebelum mendarat, cuaca diatas kota Phuket memburuk. Hujan dan turbulence mengguncang pesawat kami. Untungnya cuma selama 15 menit aja sih pesawatnya shaking, tp lumayan berhasil juga bikin si Rebecca mabuk udara! Hihihi….. Sampai di Phuket International Airport langit masih mendung, dan waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Kasian Angelina yang sudah menunggu kami sejak sore tadi…
Rencana awal, kami mau naik Airport Shuttle Bus dari bandara ke tempat kami menginap, tapi ternyata akibat flight tadi delay, kami ketinggalan bus. Dan jadwal keberangkatan bus selanjutnya masih 45 menit kedepan. Kelamaan! Selain udah kemaleman, laper, dan kondisi teman kami Rebecca sudah lemas akibat mabuk, kami pun memutuskan untuk mencarter minivan yang banyak ngetem disekitar pintu keluar arrival. Tawar menawar, akhirnya sepakat di harga THB 200 (Rp 60rb) untuk bertiga. Lumayan murah untuk ukuran sebuah private minivan, yang isinya cuma kami bertiga. Kami pun minta diantar ke Lub Sbuy Guesthouse, sebuah penginapan backpacker di kawasan Phuket Town. Seperti biasa, kami booking hostel ini melalui www.hostelworld.com. Kami booking kamar Japanese Room, sebuah kamar dengan tiga tempat tidur ala jepang, kipas angin, dan shared bathroom yang bersih. Cuma seharga +/- Rp.90 rb /org semalam, kami dapat tempat tinggal yang bersih dan strategis didekat terminal bus Phuket Town.
Malam itu sesampainya di hostel, kami langsung keluar cari makan. Sudah melapar sangat….. kami ketemu tukang jajanan sosis di perempatan jalan depan terminal. Isi dagangannya variatif, semuanya serba ditusuk. Mulai dari sosis, shrimp, baso, tofu, cumi, dll. Ada pork, beef, chicken, dan seafood. Harga per tusuk nya Cuma THB 5-10 saja! (Rp.1500-3000) Sate tersebut digoreng, kemudian makannya pakai saus khas Thailand dengan potongan timun segar. Hmmmm……maknyuuusssss! (saya aja sampai ngiler pas nulis ini krn ngebayangin enaknya sate sosis itu…) hehe…
Berdasarkan keterangan si bapak tukang sosis tersebut, kami melangkahkan kaki menyusuri Phuket Town yang sudah sangat sepi tersebut (padahal masih jam10 malam). Sekitar 10 menit jalan kaki, kami tiba di sebuah pasar malam di Ong Sim Phai Road, belakang Robinson Mall. Dipasar itu berjejer kios2 yang menjual berbagai makanan (mirip Jl.Alor di KL. Baca postingan saya sebelumnya). Kami memesan Tom Yam, Pad Thai, Crispy Vegie Noodle, dan tak lupa Thai Herbal Tea. Range harga di pasar ini di kisaran +/- Rp.30.000an /porsi.



Phuket  Trip – Day 2

Hari Sabtu pagi planning kami akan mengeksplore kota Phuket keseluruhan. Pertama-tama kami menyusuri Phang Nga Road menuju Phuket Old Town, sebuah district yang dipenuhi bangunan2 bergaya Sino Portuguese peninggalan jaman dulu. Di perempatan jalan tempat bertemunya Phuket Rd dan Phang Nga Rd, ada sebuah bangunan antik dengan Jam besar diatasnya. Lumayan oke buat foto2. Namun sayang, kota Phuket Town ini terlihat semrawut dengan juntaian kabel2 listrik dan telepon yang terpasang secara asal-asalan disetiap tiang listrik di sepanjang jalan. Benar-benar merusak pemandangan!

gerah liatnya :(
Sampai diujung jalan Phang Nga Rd, kami belok kanan menuju jalan Yaowart Rd, menuju sebuah tempat makan bernama “Local Food”. Namun sayang, kami datang kepagian, alhasil beberapa kios makanan belum membuka gerobak dagangan mereka. Sarapan kali ini kurang nendang menurut saya, rasa makanan ditempat itu kurang pas di lidah. Kami pun melanjutkan berjalan kaki kearah Thalat Dibuk Rd. Karena menurut peta ditangan kami, di jalan Dibuk ini ada sebuat Wat (kuil), yang rasanya patut untuk dikunjungi.
Kami pun tiba disebuah Wat yang terletak di belakang sebuah sekolah. Nama kuil ini Wat Puttamongkon. Bagi saya yang belum pernah melihat keindahan Wat Thailand sebelumnya, Wat Puttamongkon ini cukup indah arsitekturnya. Dengan didominasi warna emas dan merah sebagai cirri khas kuil Buddha di Thailand. Namun, Angelina yang sudah seminggu di Bangkok mengingatkan, masih ada Wat-wat lain yang lebih indah di seluruh penjuru Thailand ini. Hehe….. Pada saat kami ke Wat ini, sedang ada upacara kremasi. Kami pun buru-buru keluar komplek, ngeri euy! Tak lupa kami mencicipi sate pisang bakar siram vanilla fla yang dijual keliling didalam komplek Wat ini.

Phuket Old Town
Saat kami keluar komplek, ada seorang sopir tuk-tuk yang menawarkan kami keliling Phuket Town dengan harga murah. Setelah tawar-menawar, disepakati harga THB 250 untuk keliling kota mengunjungi spot2 wisata menarik dikota itu, termasuk Wat yang paling terkenal di Phuket, Wat Chalong!
Destinasi pertama kami adalah Big Buddha. Sebuah kuil dengan patung Buddha setinggi 18m dilereng bukit yang menghadap ke kota Phuket. Big Buddha ini terletak satu komplek dengan sebuah Wat cantik yang baru saja dibangun (atau direnovasi mungkin). Keseluruhan bangunan wat ini didominasi warna emas dengan bagian dalam yang dinding dan langit-langitnya dilukis dengan sangat indah.
@ Big Buddha
Puas foto2, kami lanjut ke Rang Hill – Phuket View Point. Tempat ini adalah puncak bukit dimana terdapat spot utama tempat melihat pemandangan seluruh kota Phuket dari ketinggian. Bahkan Andaman Sea pun terlihat jelas disini. Selanjutnya kami turun bukit menuju pusat kota Phuket untuk booking trip ke Phi-Phi besok hari Sabtu. Kami mendapat harga THB 900 /pax (Rp.270rb) untuk One Day Trip to Phi-Phi Island, sudah termasuk akomodasi antar-jemput, makan, cruise ship, dan alat snorkeling. Selain itu kami juga membeli paket One Day Tour ke Phang Nga Bay atau yang lebih dikenal dengan James Bond Island untuk hari Minggu. Harga per paketnya THB 700 /org, atau sekitar Rp.210.000 saja.

Phuket Town view
Selanjutnya kami menuju luar kota Phuket bagian selatan, ke kuil Wat Chalong. Diperjalanan kami diajak mampir ke Gems Store dan Toko cemilan terkenal yang bernama “Sri Bhurapa Orchid”. Disini, kita bisa membeli oleh2 makanan khas Thai, seperti manisan buah kering, permen asem, dan teng-teng kacang mede.
Tepat jam 2 siang, kami tiba di komplek Wat terbesar di Phuket; Wat Chalong. Cuaca sedang panas-panasnya saat itu, dan sialnya tak satupun dari kami pakai sunblock!! Kebayang donk gimana itemnya foto2 ditengah terik matahari ganas begitu….

Wat Chalong
Komplek wat ini terdiri dari beberapa bangunan kuil. Dibagian depan ada sebuah cerobong asap tempat pembakaran petasan, yang menyala tiap beberapa saat. Siap-siap tutup kuping deh tiap kali ada yang nyalain petasan disini, karena suaranya itu lho…. Bikin budeg siapapun yang lewat didepannya! Haha…

Singkat kata, setelah puas menggosongkan diri foto2 di komplek Wat Chalong itu, kami dibawa kembali ke kota oleh tukang tuk-tuk sewaan kami. Dengan tak lupa mampir ke toko Spa Aromatherapy “Mook Phuket” didekat pasar tradisional “Chatucak Phuket”; tujuan kami terakhir hari itu.
Di Chatucak sore itu, kami berwisata kuliner mencicipi makanan2 khas yang banyak dijual murah di pasar itu. Mulai dari sate sosis aneka rasa, sate seafood, aneka sushi warna-warni, Thai Crepes, dll. Setelah puas icip2, kami mulai mengeksplore pasar Chatucak Phuket ini. Kenapa namanya sama dengan Pasar Chatucak Bangkok? Ya karena pasar ini adanya cuma pas weekend dan hampir serupa dengan pasar yang di Bangkok itu.
Mayoritas barang2 yang dijual disini seputar fashion dan souvenir. Baju2 trendy dengan harga miring berjejer cantik di tiap kios. Modelnya serupa dengan baju2 yang banyak dijual di online shop di Indonesia, yang biasanya dengan embel-embel PO Korea. Hehe…  Kami dapat beberapa barang unik disini, diantaranya miniatur minuman keras bermerk Jack Daniels, Vodka, Black Label, dll. Harganya pun relatif miring dibandingkan dengan miniatur minuman yang biasa dijual di Duty Free Shop airport. Kami pun mendapat asesoris lucu2, serupa yg dijual di olshop Indonesia dengan embel2 PO-POan itu, dengan harga 5x lebih murah dari harga olshop!! Yippiiieeee……..
Maksud hati masih ingin menjelajah pasar tersebut, namun apa daya kaki kami sudah sangat kelelahan. Betis pun sudah berkonde gede-gede! Hehe… akhirnya kami naik ojek untuk pulang ke penginapan…. Hmmmm….hari yang melelahkan namun sarat pengalaman.


Phuket Trip – Day 3

Hari ini kami bangun kesiangan karena malamnya kecapean muter2 pasar Chatucak Phuket, padahal pagi ini kami akan dijemput jam8 pagi untuk One Day Trip ke Phi-phi Island. Untungnya si sopir penjemput mau berbaik hati menunggu kami siap. Kami semobil dengan sekitar 8 orang lainnya yang rata2 bule. Kami dibawa ke pier / pelabuhan yang jaraknya tak jauh dari kota Phuket.
Boat kami, Sea Angel Luxury, sudah tertambat rapi di pier tersebut. Suasana pelabuhan cukup ramai. Dan tepat jam8.30 boat Sea Angel pun bertolak. Tak lama, breakfast ringan pun dibagikan; teh dan kue. Kami kebagian tempat duduk di dek kedua, open air, jadi dijamin selama 2 jam kedepan bakal berangin-angin ria diatas dek kapal. Hehe… no wonder si Rebecca pun akhirnya K.O lagi ditengah perjalanan. Mungkin karena Becca tidak kuat dengan ayunan gelombang laut dan terpaan angina kencang, makanya doi mabuk laut dan teler.

otw to Phi-phi
Sepanjang perjalanan, laut mulai berubah warna. Dari biru keruh ke biru dongker, kemudian berganti warna ke biru terang hingga akhirnya ke warna paling indah, Turquoise, saat mulai memasuki kawasan Phi-phi island. Bukit2 Limestone pun mulai bermunculan dari permukaan laut. Makin lama makin banyak hingga membentuk sebuah kelompok pegunungan limestone yang tak lain adalah kawasan Koh Phi-phi Ley. ‘Koh’ berarti ‘pulau’ dalan bahasa Thai. Sedangkan Phi-phi Island sendiri terbagi menjadi dua wilayah: Koh Phi-phi Ley dan Koh Phi-phi Don. Phi-phi Ley adalah gugusan pulau yang tidak berpenghuni, dimana terdapat Maya Bay, sebuah laguna cantik yang pernah dipakai untuk syuting film ‘The Beach’ nya Leonardo Di Caprio. Sedangkan Phi-phi Don adalah pulau yang berpenghuni, dimana terdapat perkampungan, hotel2, resort, dan penginapan. Koh Phi-phi Don selalu ramai oleh para wisatawan yang ingin menghabiskan waktu liburan di Phi-phi.

Me, on a cruise :)
Boat kami perlahan-lahan melintasi gunung2 batu kapur / limestone indah. Kemudian melewati Maya Bay yang tersohor itu, namun sayang paket tour yang kami ikuti tidak menyediakan program untuk mampir ke Maya Bay; tempat syuting nya si ganteng Leo di Caprio. Hiks… alhasil kami hanya mampu mengagumi keindahannya dari jauh saja. Kemudian kami diajak melewati Viking Cave, sebuah goa2 dibawah gunung batu yang terbentuk akibat kikisan air. Konon goa itu disebut Viking Cave karena terdapat lukisan kapal Viking di dinding goa yang kini menjadi sarang ribuan burung wallet itu.

Maya Bay
Akhirnya sampailah kami di sebuah spot untuk snorkeling, dimana warna airnya yang bukan lagi biru melainkan hijau terang, turquoise! Sangat indah…. Namun sayang Rebecca masih mabuk laut berat sehingga tidak dapat bergabung dengan kami untuk berenang dan snorkeling. Saya dan Angel pun tidak buang2 waktu lagi, kami langsung nyebuuurrr….. Wow, seru! Variasi ikan2 disini lumayan banyak, dengan berbagai warna dan ukuran. Namun sayang terumbu karang disini benar2 sudah hancur. Sungguh amat disayangkan sekali ditempat seindah ini terumbu karangnya tidak ikut dirawat. Jadi para wisatawan hanya bisa menikmati keindahan ikan2nya saja tanpa diimbangi dengan habitat terumbu karangnya. Namun bagi yang bisa menyelam, jangan khawatir, Phi-phi masih punya beberapa spot menarik dan oke banget untuk diving.

Snorkeling here @ Koh Phi-phi Ley
Selesai snorkeling (yang hanya 1 jam saja, gak puas!!) kami dibawa ke Phi-phi Don untuk santap siang. Sampai di pier, kami berjalan melintasi pasar yang menjual banyak macam kerajinan tangan dan souvenir untuk oleh2. Santap siang kami disajikan buffet all you can eat dengan menu Western, Asia, dan Arabian. Hmmm……nikmat! Rebecca pun akhirnya pulih dari mabuk lautnya.
Selesai makan siang, kami diberi waktu bebas mengexplore Phi-phi Don sampai jam 2 siang. Kami memutuskan untuk bermain-main di Tonsay Bay. Sebuah pantai melengkung yang landai, dengan jejeran kursi pantai memenuhi sepajang sisi pantai. Namun kursi pantainya gak gratis, bayar THB 100 per kursi. Hehe… kami yang backpackeran ini memilih spot dibawah pohon saja, dengan menggelar kain pantai, kami menikmati suasana terik siang bolong dipantai itu secara gratissss…. Angel dan Becca memutuskan untuk berenang. Secara Becca dari tadi kan belum menyentuh air laut karena mabuk. Hehe… saya sih Cuma tidur-tiduran saja leyeh-leyeh dipinggir pantai, dibawah pohon, dengan muka ditutupi topi pantai….
@ Tonsai Bay
   


“rasanya seperti terbang…..melayang-layang…..sinar terang dimana-mana…..hangat…..kepala jd ringan….mmmm….udara cenderung panas….tp nyaman sekali….serasa di….surga!” Tiba-tiba ada suara… “Sis! Sisca! Bangun woy!! Kita ketinggalan kapal!!!” What The ****!!! Oh, GOD……saya ketiduraaaaannnn…..tadi itu ternyata mimpiiiii…..mimpi melayang-layang di surga! Haha…  dan ternyata sudah jam 2! Saya diomelin teman2 karena harusnya saya yang jagain barang dan jagain waktu, supaya mengingatkan yang lain untuk gak terlambat kembali ke kapal. Hihi… map ya teman….abis enak banget sih tidur dibawah pohon – pinggir pantai – siang bolong gitu!

@ Koh Phi-phi Don Market
Kami berlari-lari ke pier, berharap semoga kapal kami belum berangkat. Thanx God, kapalnya masih bersandar manis di dermaga, meski dengan kondisi ¾ penuh. Kami kembali dapat tempat duduk di dek terbuka yang tadi. Namun kali ini kami memilih untuk duduk di bawah roof, karena niatan kami mau tidur selama perjalanan pulang. Setelah kapal perlahan-lahan meninggalkan deretan limestone indah itu, kami pun terlelap…
Jam 4 sore kami tiba kembali di dermaga kota Phuket. Kami diantar pulang dengan minivan yang tadi pagi menjemput. Namun tak lupa kami membeli oleh2 berupa foto kami masing2 yang dicetak diatas piring keramik pajangan seharga THB 100 saja. J
Malam harinya, kami kembali menyusuri jalanan sepi Phuket Town untuk mencari makan malam. Kami berjalan kearah Phuket Old Town, kemudian sesampainya di pertigaan dekat Communication Centre, kami belok kiri ke perempatan Ranong Rd.
Saat kami menyusuri Ranong Rd yang sudah mulai sepi, tak disangka-sangka kami menemukan sebuah travel agent yang memasang iklan didepan rukonya “ONE DAY TOUR PHI-PHI ISLAND, ONLY THB 700” What the?! Agent ini menawarkan harga paket tour yang THB 200 lebih murah dari yang sudah kami booking kemarin! Dengan fasilitas dan spot2 destinasi yang sama persis! Hmmm…..jadi pembelajaran bagi kami, bahwa lain kali harus lebih jeli dalam memilih travel agent. Karena ternyata harga tour di kota ini cukup bersaing ketat.
Malam itu kami memutuskan makan frozen food di 7eleven. Bedanya jaringan Sevel di Indonesia dengan di luar negeri adalah: hanya Indonesia yang menyediakan tempat duduk buat nongkrong dan kongkow-kongkow! Di luar negeri, semua Sevel yang saya lihat dan kunjungi tidak ada yang menyediakan tempat duduk, karena memang konsepnya hanya minimarket fast service. Jadi kalau beli makanan di Sevel, ya siap2 makan berdiri diluar atau duduk dipinggir jalan. Seperti yang kami lakukan malam itu, kami makan di trotoar depan sebuah sekolah. Hehehe…
Diperjalanan pulang ke hostel, kami menemukan sebuah toko kue kecil dipojokan jalan Ratsada Rd setelah hotel Tavorn. Tokonya mengingatkan kami pada toko kuenya Shan Chai di film Meteor Garden! Hahaha…. Terletak disebelah taman kecil yang rapi, cake shop ini sepertinya nyaman banget buat nongkrong. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan menyantap sepotong Cheese Cake lezat sambil menikmati Chinese Tea hangat. Suasana didalam toko sangat homey dan cozy, bikin betah. Sang ibu pemilik toko pun sangat ramah dan welcome. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9.30 malam, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri Phuket Rd menuju Surin Circle, sebuah ringroad dengan monumen jam ditengahnya. Lumayan oke buat foto2 di siang hari, namun kami tetap saja narsis biarpun sudah hampir tengah malam. Hehehe… puas foto2, kami pulang ke hostel melewati Ocean & Robinson Mall.


Phuket Trip – Day 4

Pagi Jam 8 kami sudah dijemput oleh minivan dan seorang pemandu wisata yang kocak dan rame, Ms.Nok-nok namanya. Hari ini tujuan tour kami adalah James Bond Island, sebuah pulau yang pernah menjadi tempat syuting film James Bond 007; The Man with the Golden Gun. Tempat ini terletak di privinsi Phang Nga, sebuah taman nasional dengan pulau2 yang menyembul di Laut Andaman.
Untuk mencapai Phang Nga, kami menuju kearah utara, hingga melewati jembatan penghubung antara Phuket island ke mainland Thailand. Waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan darat. Ditengah perjalanan kami mampir ke Wat Tham Suwanakhuka (Buddha Cave Temple). Dari namanya sudah bisa dibayangkan bahwa kuil ini terletak didalam goa. Dengan spot utama berupa patung reclining Buddha (Buddha Tidur) sepanjang 15m.

Pintu masuk Wat Suwanakhuka
Bagian dalam Buddha Cave Temple
Dari kuil goa ini kami menuju ke Surakul Pier untuk mengarungi Andaman Sea dengan menggunakan longtail boat. Berbeda dengan Phi-phi, air laut di Andaman Sea taman nasional ini berwarna coklat keruh. Mengingatkan saya pada sungai2 besar kita di Kalimantan; Barito, Mahakam, dan Kapuas. Ya, kami seolah sedang menyusuri sungai2 di Kalimantan! Namun pemandangan sedikit demi sedikit berubah saat kami memasuki wilayah kepulauan Phang Nga. Gunung2 batu kapur dengan berbagai bentuk menyembul dari permukaan laut. Bahkan menurut mitos yang dipercaya warga Thailand, gunung2 ini mewakili bentuk2 binatang. Memang benar sih, setelah kami perhatikan dengan seksama, ada yang bentuknya seperti gajah, anjing, dll. Hehe…

@ Longtail Boat on Andaman Sea
Akhirnya sampailah kami di James Bond Island, sebuah pulau yang di brosur2 wisata terlihat eksotik. Namun ternyata aslinya ga sebagus yang di gambar brosur, majalah, dan internet. Hmmm…. Tp lumayan lah buat nambah2in pengalaman kami menjejakkan kaki di tempat2 terkenal. Hoho….. di pulau yang bernama asli Koh Khao Ping Kan ini, terdapat sebuah pulau berbentuk paku yang menancap ditengah laut, pulau paku ini bernama Koh Tapoo. Nah, Koh Tapoo inilah icon James Bond Island tersebut… di pulau utama sendiri, terdapat sebuah dinding kapur sangat tinggi yang seolah-olah dipotong rata dan disandarkan ke sisi tebing. Potongan dinding kapur inilah yang dinamakan Khao Ping Kan.

@ James Bond Island - Phang Nga Bay
Selesai foto2, kami menuju sebuah desa nelayan terapung yang bernama Koh Panyee. Desa ini mengingatkan saya pada Derawan! Dan ternyata, sang tour guide menjelaskan bahwa sejarah desa ini awal mulanya dibangun oleh orang2 Indonesia! Wow… kontan saja saat tour guide memperkenalkan kami ke seluruh peserta lainnya bahwa kami orang Indonesia, kami bangga dooonk….. hehehe….  Secara, nenek moyang kamilah yang dahulu mendirikan tempat ini 200 tahun yang lalu. Bahkan jika kita perhatikan, wajah2 para penduduk Koh Panyee ini mirip sekali dengan wajah orang Jawa dan Sumatera!
Di Koh Panyee, kami makan siang dan berkeliling pulau kecil itu. Jam 2 tepat kami bertolak meninggalkan sisa peninggalan nenek moyang kami di negeri orang ini… hmmm…. Koh Panyee, bukti nyata bahwa Nenek Moyangku memang Seorang Pelaut!!
Diperjalanan pulang, kami mampir toko perhiasan dan toko makanan kering. Sesampai di hostel, kami langsung ambil koper dan diantar oleh minivan ke Ranong Rd, tempat ngetemnya bus kearah Patong Beach. Ya, kami memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan kami di Patong, pusatnya kehidupan hingar bingar di provinsi Phuket.
Bus yang dimaksud, sebenarnya adalah truk yang dimodifikasi sehingga bisa mengangkut penumpang hingga 50 org. Bus jurusan Phuket – Patong ngetem didepan Sevel sebelah Phuket Backpacker Hostel. Kami naik bus terakhir hari itu dengan tarif THB 25 /org. Sepanjang perjalanan sore itu ke Patong, kami banyak mengabadikan kegiatan sehari-hari para warga yang kami lewati. Cukup menarik tinggal beberapa hari di kota Phuket Town yang sepi dan jauh dari hingar bingar geliat pariwisata seperti Patong yang akan kami datangi ini. Di Phuket Town yang sepi, layaknya Denpasar – Bali, kami dapat mengamati kebiasaan dan kehidupan sehari-hari penduduk lokal. Termasuk kebiasaan tidak mencabut kunci kontak saat memarkir motor! Wow, gak takut dicuri apa ya? Ternyata menurut keterangan warga setempat, kota ini memang sudah sangat aman, sehingga curanmor sangat langka terjadi. Hmmm…. Apa kabar Indonesia ya? Kapan curanmor di negeri kita bisa diberantas…..?

Phuket - Patong Bus
Sampai di Patong, kami disambut dengan gedung2 tinggi yang tak lain adalah hotel-hotel berbintang. Jalanan pun ramai dengan deretan toko2 dan passenger path yang penuh oleh turis2 bule. Mirip daerah Kuta atau Legian. Lalu lintas pun ramai berseliweran, hingar bingar kehidupan perkotaan sudah tercium. Hmmm…. Selamat tinggal Phuket Town yang damai, selamat datang Patong yang ramai! J
Kami turun tepat didepan hostel yang sudah kami booking kemarin via www.hostelworld.com, Coast Star Mansion. Hostel ini terletak di Rat U-thit Rd, tak jauh dari Jungceylon Mall. Hostel ini menempati lt. 2-4, diatas sebuah restaurant, dengan receptionist yang ramah. Kami dapat harga cukup murah disini. Kalau dirupiahkan hanya Rp.70.000 /org untuk kamar tipe dorm, dengan 2 ranjang tingkat, kamar mandi didalam, tv, kulkas, dan fan. Well, lumayan oke dengan kelengkapan fasilitas yg kami dapat. Kalau mau pakai AC tinggal tambah THB 100 /hr. Akses internet pun gampang, ada wi-fi yg bsa diakses dr kamar masing2, dan ada pula 2 buah pc computer yg bisa dipakai di lobby, gratis!! Berbeda dengan hostel yang kami tempati sebelumnya; Lub Sbuy Guesthouse, dimana wi-fi nya hanya bisa dijangkau di lobby saja, dan untuk mengakses internet di pc akan dikenakan biaya THB 10 / 15mnt. Hmmm….. kebayang kan betapa enaknya nginap di Coast Star Mansion ini…. Ehhehehe…
Malam itu kami rencananya mau wisata kuliner di Banzaan Market, kemudian dilanjutkan explore Bang La Rd. Dengan berjalan kaki, kami menyusuri Rat U-thit Rd yang ramai dengan bule2 seliweran. Sampai di Jungceylon Mall, kami menyeberangi mall menuju bagian belakang dimana si Banzaan Market ini berada. Hmmm…..aroma wangi daging panggang langsung menyambut kami saat kami memasuki area Banzaan Night Market yang dipenuhi para pedagang makanan kaki lima yang berjejer menjajakan dagangan. Ada banyak macam makanan disini, mulai dari yang halal sampai yang aneh. Harga pun relatif murah, makan nasi campur cuma Rp.15rbuan /org. Minumnya apalagi kalau bukan air jeruk segar yang langsung bikin adem badan di malam yang gerah itu.

suasana Banzaan Night Market
Selesai cicip2 di Banzaan kami menuju sebuah pasar di sebelah kiri Jungceylon. Pasar ini menjual baju2 dan souvenir. Namun harap berhati-hati saat belanja disini, rata2 pedagangnya kurang ramah dan ngotot. Saat kami menawar kaos dengan harga THB 100 (harga rata-rata kaos disana) kami ditertawakan dan dimaki-maki! Huuffttt….. akhirnya kami memutuskan untuk belanja di Patong Otop Market saja besok. Daripada belanja disini yang para pedagangnya tidak ramah dan harganya pun lebih mahal.
Kami pun melipir ke Bang La Road, sebuah jalanan sepanjang +/- 700m yang notabene merupakan pusat nightlife di Patong. Kami pun penasaran donk pengen nyicipin area yang tersohor itu…. Saat kami tiba diujung jalan, kami langsung disodori brosur2 oleh beberapa pria yg mangkal disana. Rupanya mereka menawarkan paket nonton “Tiger Show”!! wow…. Tau donk Tiger Show apaan…. Itu show yang menampilkan adegan2 erotis pria dan wanita, khusus untuk dewasa. Kami menolak dengan halus tawaran mereka. So far sih mereka sopan ya, gak maksa-maksa gitu…

Bang La Road @ Night
Suara musik hingar bingar disepanjang jalan, bar-bar berlampu warna warni tampak dipenuhi orang2. Bahkan beberapa bar menyajikan para penari semi striptis yang meliuk-liuk di tiang di atas meja-meja! Itu belum seberapa, ada pula sebuah bar yang memajang seorang wanita sangat cantik bak boneka, disebuah jendela kaca. Wanita itu akan melambai pada pria-pria yang lewat, memancing mereka untuk masuk dan mencoba beberapa service yang mereka tawarkan. Woooowww…… tak Cuma itu, ada pula toko baju yang khusus menjual kostum2 penari semi striptis, kostum cosplay, dan G-String genit untuk pria! Hmm…bisa dibayangkan bukan suasana malam di jalanan ini seperti apa? Hehe…

Pemandangan umum di sepanjang Bang La Road ;)
Niat hati sih pengen masuk di salah satu bar dan mencicipi sebotol dua botol bir, sambil nonton penari2 yang asyik joget diatas meja. Namun entah kenapa perut saya tiba2 melintir dan mulas luar biasa! Mungkin karena tadi saya makan masakan khas Thailand yang berbumbu sangat pedas. Atau mungkin juga sebuah teguran dari Yang Di Atas, supaya saya tidak masuk ke tempat ‘lampu merah’ itu. Hihihi….. gak tau juga ya, yang pasti saya langsung merengek pulang ke hostel saat itu juga. Maaf ya teman-temanku Angel n Becca, ga jadi ajojing deh kalian gara-gara aku…. Hehe…



Phuket Trip – Day 5

Bangun siang dan nyantai2 sampai perut keroncongan tengah hari. Ya, hari itu rasanya kami malas sekali mau keluar hostel, karena cuaca Patong sedang panas luar biasa! Hari itu kami minta extend menginap 1 malam lagi di hostel yang sama. Namun ternyata kami harus pindah ke kamar sebelah, karena kamar dorm yang kami tempati sudah di booking orang hari itu. But we were very lucky!! Kami dipindahkan ke sebuah kamar luas dengan double bed plus extra bed, tv, kulkas, kamar mandi didalam, lemari besar, dan meja rias. Wow…kami bisa jumpalitan dikamar segede ini! Ditambah lagi kamar baru kami ini menghadap langsung ke jalan, dan jendelanya bisa dibuka lebar2. Sejuk deh…. Dan berapa harganya??? HANYA +/- Rp.55.000 /org lhooo…. Bahkan lebih murah dari kamar kami sebelumnya! Horeee…..
Jam 1 siang kami keluar menuju Patong Otop Market. Sebuah pusat belanja yang khusus menjual baju2 dan souvenir untuk oleh2. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari hostel. Cukup berjalan kaki sekitar 5menit, sampailah kami di pasar yang terletak diseberang Hard Rock Café tersebut. Setelah mengaduk-aduk pasar dan mendapatkan oleh2, terutama kaos gambar gajah khas Thailand dengan harga THB 100 / pc (gemas rasanya kalau ingat tadi malam kami sempat dimaki-maki pedagang di pasar yg satunya itu), kami beranjak ke 7eleven mencari makan siang. Kami makan frozen food seharga cuma THB 35, plus Thai Ice Tea yang sangat nikmat itu. Yang belakangan jadi minumam favorit saya! Hehehe…..
Sore nya, kami jalan2 ke Patong Beach yang terletak dibelakang hostel. Langit sore itu berawan, sehingga oke banget kalau mau berenang dan main ombak tanpa takut gosong. Saya dan Becca sibuk main ombak, sementara Angel tertidur pulas diatas pasir. Niatnya sih pengen lihat sunset di Patong, tp cuaca yang mendung menghalangi niat kami. Akhirnya kami hanya nimbrung main sepak bola bersama pemuda2 lokal, warga asli Thai. Yang lucunya tak kami ingat satupun namanya, karena nama mereka susaaaahhh… hahaha…. Lumayanlah, nambah temen.

Patong Beach
Play soccer with local guys
Malam harinya, kami kembali menyantap aneka makanan aneh2 di Banzaan Night Market. Saya berdoa dalam hati, semoga apapun itu yg masuk kedalam perut saya tidak membuat saya mulas lagi! Haha…. Kami memutuskan malam itu tidak menginjak Bang La Road, bukan karna kapok, tapi karna persediaan Bath kami mulai menipis! Hihihi…. Akhirnya kami hanya muterin Jungceylon Mall sambil beli beberapa produk Boots yang notabene tidak ada di Indonesia. Oia, diperjalanan pulang ke hostel, si Angel dan Becca mampir ke tukang buah Duren. Karena ada rules yang tidak memperbolehkan si Duren masuk ke semua hotel maupun hostel, merekapun menyantap si Duren tersebut ditempat. Saya sih kebetulan tidak suka duren, jadi ya tugasnya foto-fotoin mereka saja! Hehe…

para penggila duren :D


Phuket Trip – Day 6

Pagi-pagi jam 6, kami sudah menggulung seprei dan siap-siap. Bukan mau check out, melainkan mau pindah tidur ke pinggir pantai, mumpung ini hari terakhir di Patong! Berbekal Popmie, air mineral, dan sebotol Bir Chang yang kami beli di minimarket 24jam, kami menyusuri Bang La Road yang tiba-tiba berubah sangat sepi sekali dipagi hari. Ya, suasananya berbeda 180’ dengan malam hari. Sepanjang jalanan ini hanya ada kami bertiga yang masih selimutan kain pantai, berjalan sambil ngantuk menuju pantai.

Sunrise :) taken from Coast Star Mansion

Bang La Road di siang hari :D sepiiii ciiinnnn......


Tiba dipantai pun, masih sepi. Hanya ada beberapa bule yang jogging dan jalan2. Kami mencari pasir yang teduh dan mulai menggelar seprei dan bekal kami. Sarapan popmie dengan bir pagi-pagi? Cuma anak2 sinting macam kamilah yang cuek melakukannya dibawah tatapan heran beberapa bule yg lewat. Hahaha…. Setelah itu? Ya tiduuurrr……

Morning in Patong - Peacefully

Sunshine @ Patong (with a 'great' background) haha :))

Jam 11 siang, matahari mulai terik dan membangunkan tidur pulas kami. Hmmm…. Tidur pulas dipinggir pantai seperti itu memang benar-benar…. Sesuatu banget!! Suasana pantai sudah mulai ramai, kamipun beranjak kearah Thaweewong Road atau yang lebih dikenal dengan Patong Beach Road. Sampai di Holiday Inn, kami belok kiri memasuki Ruamjai Road menuju Hard Rock Café, kemudian langsung menuju hostel. Karena jadwal check out kami jam 12, kami pun buru2 mandi dan packing.
Berhubung airport transfer kami baru datang jam 4 sore, kamipun menitipkan koper & ransel kami di lobby, kemudian ke Banzaan Food Court (lagi-lagi Banzaan hihihi) untuk makan siang. Masih ada waktu sebentar, kami sempat membelanjakan Bath terakhir kami di Jungceylon. Beli apa? Kalau saya sih beli Nestea Thai Milk Ice Tea sachet, untuk nantinya bisa saya buat sendiri pas di Indo. Yummiiiee …
Minivan penjemput akhirnya tiba di hostel jam 4. Selain kami bertiga, ada beberapa bule dan seorang gadis Indonesia juga ternyata didalammya. Minivan mulai bergerak meninggalkan keramaian kota Patong di sore yang cerah itu. Kami melewati garis pantai Patong yang sore ini airnya berwarna biru keemasan tertimpa cahaya matahari sore. Minivan terus bergerak hingga mencapai Kalim Beach, pantai berbatu-batu karang disebelah Patong Beach. Perlahan-lahan mata saya tertutup oleh kantuk, namun dalam tidur saya tetap dapat melihat keindahan pantai-pantai bagian selatan Thailand ini. Hmmmm….. 6 hari yang terasa sangat singkat. Dalam hati saya berjanji, saya akan menginjakkan kaki kembali di pasir pantai Patong ini. Good Bye Phuket, see u in my next trip!

Airport staff nya pun Banci!! haha...


Comments

  1. sooo inspiration tulisannya :D

    mau tanya nama travel buat pesen Phi-Phi Island sama paket One Day Tour ke Phang Nga Bay atau yang lebih dikenal dengan James Bond Island dong mbak.. Murah sekali sepertinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir :)
      untuk tour operatornya, kebetulan saya lupa namanya apa krn namanya memakai nama Thailand.
      saya pun nemuinnya jg random. sepertinya diatas sudah saya jelaskan patokan tempatnya ya? tour operator tsb ada di jalan Ranong Road.
      Kalo Vita pas lg di Phuket, bisa jalan kaki aja liat2 bbrp tour operator dsna n bandingkan harga satu sama lain, ambil yg paling oke menurut Vita. Okay? :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inspirational Travel Quotes

Shop Hop in Netherlands!

Explore Australia for a year? Why not! :)