Monday, December 19, 2016

Wandering Indonesia... Found an Underwater Heaven!

Indonesia consists of 36% of main land and islands, and 64% of sea. So, besides having a range of beautiful landscapes and volcanoes, Indonesia also has countless water resources and underwater beauties. Not to mention the beautiful beaches stretch along the country, for Indonesia is the biggest archipelago country in the world. 

As an Indonesian, I am aware that my country is an epicenter of biodiversity, hosting a greater variety of marine life than anywhere else on earth. Having bunch of dive sites throughout the archipelago, Indonesia provides many kinds of diving style to try. From challenging drift diving, extensive reef diving, amazing night diving, unique muck diving, and stunning steep walls to enjoy. This fact makes me curious of knowing more of the underwater world and decided to take a diving license to explore deeper and longer.

Diving at Coral Garden, Tulamben.
 
Against the gravity in USAT Liberty Ship Wreck, Tulamben
And once I saw how underwater world looks like, I never stop craving for more dives in my life. Since I live in a beautiful Bali island, which surrounded by some popular dives area, I usually go for a dive trip every few months. Tulamben, Amed, Padang Bai, and Menjangan Island are the perfect option for recreational dive as well for beginner divers. For the adventure seekers and big fish lovers, Nusa Lembongan and Nusa Penida Island in Bali or small islands in south west Lombok are the answer. So far, my favorite dive sites are Tulamben with its Ship Wreck and Nusa Penida with its Manta Point. Diving with some Manta Rays surrounds me gives a special sensation and makes me more grateful for a chance to see such a beautiful giant fish yet friendly. 

Manta Ray at Nusa Penida

When I’m not diving, snorkeling and skin diving are my other water activities. With its pristine water, Bali and Lombok offer the easiest way to enjoy the underwater. You can get in a glass bottom boat, and enjoy the trip to the snorkeling spot by watching the underwater life beneath your feet. 

Reginald & Given; enjoy snorkeling at Tabuhan Island, East Java

Skin diving at Menjangan island
 
Free dive into an eternal silence in the blue sea
Of course Bali and Lombok are not the only underwater paradise in Indonesia. There are a lot more destinations that have different beauty to offer. East Indonesia is famous with its underwater heaven. From Karimun islands in East Java, Wakatobi islands in Celebes, Mollucas islands, Nusa Tenggara islands, until the famous Raja Ampat in West Papua islands. Not to mention, underwater of Weh island in the very west of Indonesia also surprisingly beautiful. All of them offer you the stunning underwater experience that you will never forget. 

Diving at Tulamben

Spare your time to enjoy the sea and underwater when you visit Indonesia. If you want to peep a bit of underwater beauty, take a snorkeling tour. By floating with mask and snorkel, you already can see the corals and colorful fish decorating the underwater world. If you are curious what lies down there and want to explore deeper, take a diving lesson to get a license. Or if you only have limited time, join in a Discover Scuba Diving trip. It allows you to dive up to 12 meters without holding the license. And trust me, once you get down there and see the underwater beauty, you will never see the world in the same way you see it before! 

Pose with Yellow Sea Fan
 
Lion Fish (photo courtesy by Reginald)

Underwater macro photography by Reginald
Beautiful empty beach at Tabuhan island


   
Menjangan island underwater (photo courtesy by Reginald)

Sunday, November 6, 2016

A Lil' Step to... Santorini! (Part II)

Nama Santorini tentulah tidak asing lagi di telinga, terutama buat para penggila jalan-jalan. Pertama kali saya mendengar nama Santorini adalah dari sebuah artikel majalah wisata sekitar tahun 2010 silam. Artikel tersebut memuat tentang salah satu destinasi impian untuk para honeymooners. Setiap sudut keindahan Santorini dituangkan dalam artikel sepanjang 4 halaman tersebut. Seperti terhipnotis oleh foto-foto landscape Santorini yang didominasi warna putih biru tersebut, saya pun berucap di dalam hati, “I will be there someday!”.

Dan… Di sanalah saya berdiri. Di tepi dinding view point desa Oia, menyaksikan salah satu sunset terindah di muka bumi yang perlahan mulai terbenam di garis horizon di kejauhan. Akhirnya… Salah satu mimpi besar dalam hidup saya pun terpenuhi, menginjakkan kaki di Santorini. Bermula dari sebuah artikel di majalah gratisan yang saya baca di lobby kantor, berujung pada selembar tiket pesawat one way ke Santorini 4 tahun kemudian.



typical Santorini... Blue and white
Santorini merupakan sebuah pulau berbentuk bulan sabit di laut Aegean, Yunani. Pulau yang terbentuk dari sebuah letusan gunung berapi itu, menyisakan kaldera di sisi barat pulau yang dipenuhi oleh bangunan bercat putih dan beratap biru. Kaldera inilah yang menjadi daya tarik utama pulau Santorini. Meskipun sisi barat pulau Santorini menjadi komoditas pariwisata utama, namun ada tempat-tempat lain di Santorini yang memiliki keunikannya masing-masing. Dan saya pun berkesempatan mengunjungi beberapa diantaranya.

Pink Bougenville, mewarnai setiap sudut Santorini

Classic!

1. Fira


Merupakan kota utama di Santorini, dimana denyut nadi pariwisata berpusat disana. Kota kecil yang dijejali dengan toko-toko, restaurant, penginapan, yang semuanya saling tumpang tindih memadati tebing kaldera itu menjadi daya tarik besar dari Santorini. Suara langkah kaki di setapak berbatu berbaur dengan denting pisau garpu beradu serta celotehan wisatawan maupun lokal, riuh rendah mewarnai kepadatan gang-gang di sepanjang Fira downtown.


Yang menarik dari Fira adalah view kaldera yang dipadati jejeran restaurant dan villa yang menyajikan pemandangan spektakuler. Ratusan bangunan berdinding putih dan beratap biru yang memadati dinding kaldera merupakan salah satu "million dollars view" yang worth untuk dinikmati paling tidak satu kali seumur hidup. Gambar-gambar di kartu pos Santorini pun rata-rata mengambil landscape ini. Dan saya mengucap syukur untuk kesempatan menikmati view cantik tersebut.


Fira caldera by day

Fira caldera by night

Ortodox church
Santorini adalah salah satu destinasi bulan madu paling diincar di dunia. Maka tak heran begitu banyaknya pasangan traveler yang memenuhi pulau ini. Di seluruh penjuru mata memandang, pasti ada saja pasangan traveler yang bergandengan tangan menyusuri sudut-sudut kota. Sama halnya dengan saya. Saya pun bergandengan dengan mesranya selama menyusuri berbagai tempat di Santorini. Bedanya, yang saya gandeng adalah tripod kamera! Haha... Nasib seorang solo traveler!


the alleys


souvenir shops in Fira
Di Fira ini saya sering beli pita gyros di sebuah stand gyros bernama Obelix. Gyrosnya enak dengan bumbu meresap lezat di setiap helai dagingnya. Kalau pork souvlaki, paling suka beli di sebuah stand makanan cepat saji di jalan Martiou. Aroma lezat berbagai macam daging grill nya selalu mengundang setiap hidung yang menghirupnya ketika melewati stand makanan tersebut. Saat siang hari yang terik, paling enak menikmati semangkuk Greek frozen yogurt di Chillbox, dengan berbagai varian toppingnya. Yunani terkenal dengan kualitas yogurtnya, dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan makan yogurt hampir setiap hari selama di sana. 


the famous Obelix

I can't say "No" for this
Sebagai penikmat bir, saya tidak melewatkan kesempatan mampir di sebuah beer brewery untuk mencicipi Donkey Beer yang merupakan bir asli Santorini. Ada 3 macam Donkey Beer, berdasarkan tingkat kepekatan alkohol dan rasa. Yellow Donkey adalah yang paling ringan dengan rasa yang light dan alkohol rendah. Kemudian Red Donkey yang setingkat lebih strong dengan rasa malt yang lumayan pekat, dan ini merupakan favorit saya. Kemudian yang terakhir adalah Crazy Donkey, yang paling tinggi kadar alkoholnya, berwarna gelap dan rasanya pun sarat dengan hobs. Over all, Donkey Beer adalah tipikal bir tropis dengan sedikit rasa manis dan ringan. Cocok untuk dinikmati di segala suasana sambil memandangi indahnya view kaldera Santorini.


Fave


Love it!
Untuk mencapai downtown Fira, saya menggunakan public bus dengan lama perjalanan sekitar 40-45 menit dari Perissa menuju stasiun bus central Stathmos Leoforion. Cukup jauh memang, tetapi tidak masalah bagi saya karena sepanjang perjalanan saya asyik memandangi lahan tandus pulau Santorini, perkebunan tomat cherry, rumah-rumah penduduk, serta bukit-bukit batu berbagai ukuran yang tersebar di pulau itu. Dan jangan salah, sopir dan kernet bus di Yunani itu gantengnya selevel dengan model-model di majalah Indonesia! Haha... Jadi ya lumayan dapat pemandangan bagus sepanjang perjalanan. :)


2. Firostefani & Imerovigli

Merupakan tetangga dari Fira, masih dengan landscape yang sama dengan jejeran bangunan putih biru menghadap ke volcano. Yang membedakan, Firostefani tidaklah sehiruk-pikuk Fira. Tidak banyak toko-toko souvenir dan restaurant menjejali gang-gang nya. Lebih banyak villa dan penginapan mewah yang menawarkan private pool dengan million dollars view menghadap sunset. 


Stairway to heavenly blue ocean

the path

what a view!
Imerovigli terletak di sebelah utara Firostefani. Merupakan area resort-resort luxury dan destinasi favorit para honeymooners berkantong tebal. Dari Imerovigli, kita bisa melihat Fira di sebelah kiri dan Oia di sebelah kanan. Sebuah spot sempurna untuk menikmati sunset dan landscape pulau sekaligus.


Blue and White

Please come in!
Untuk mencapai dua kota kecil ini, bisa dengan menaiki bus dari Fira. Tetapi saya memilih berjalan kaki blusukan di gang-gang sempit nan cantik sepanjang Fira sampai Imerovigli. Jarak sekitar 2-3km memang tidaklah jauh, hanya saja jumlah anak tangga yang naik turun itu yang bikin kaki lumayan cenut-cenut. Untungnya sandal jepit selalu tersedia di kala kaki ini mulai bosan menjelajah dengan trekking shoes. Pemandangan dan keunikan tiap desa yang saya lalui selama berjalan kaki itu sungguh membuat lupa betapa panasnya Santorini siang itu dengan suhu yang mencapai 41 derajat celcius. 


Ah leganya... sandalan! ;))

Sunset from Imerovigli

3. Oia

Niat semula adalah trekking sampai Oia (baca: Ia) dengan rute sepanjang kaldera di sisi barat. Dengan harapan akan menemukan cerukan tebing dengan lagoon untuk berenang, seperti tips yang saya baca di forum-forum backpacker. Namun efek kepanasan yang berujung kepala keliyengan pun membuat saya menyerah dan memilih naik bus saja dari Imerovigli ke Oia, yang ternyata jaraknya adalah sekitar 8km! Haha... Untung naik bus... Bisa ketinggalan sunset jika saya nekat jalan kaki ke Oia!


On the way to Oia
Pemandangan sepanjang perjalanan dari Imerovigli ke Oia cukup cantik. Rute bus melewati bukit-bukit berbatu dengan padang rumput tandus menyembul di sela-selanya serta lahan perkebunan tomat. Naik bus di Santorini itu mirip-mirip di Jakarta, jarang dapat tempat duduk alias gelantungan berdiri. Mungkin juga karena saat itu sedang high season, sehingga turis-turis berjubel memadati Santorini. 

Sampai di stasiun bus Oia, saya mengikuti arus wisatawan yang berbondong-bondong menuju downtown Oia untuk menikmati sunset. Berhubung matahari di musim panas mulai tenggelam sekitar jam 8:40 malam, dan saya tiba di Oia sekitar pukul 6:30, saya memutuskan untuk mencari posisi uenak di balik dinding pagar view point dan mulai selonjoran untuk tidur sebentar. Berbekal headset yang tersumpal di telinga dengan lagu-lagu jazz favorit, saya pun berhasil tidur-tidur ayam selama satu jam sebelum akhirnya terbangun oleh suasana hiruk pikuk wisatawan yang mulai memadati view point.


The famous Oia

Everyone wanted the golden sunset
Detik-detik terbenamnya matahari di gariz horizon sebelah barat berhasil saya abadikan di kamera. Namun kecantikannya hanya mampu terekam sempurna di ingatan. Semburat cahaya merah keemasan itu menyinari wajah setiap orang yang memandang takjub pada salah satu sunset terindah di muka bumi ini. Sungguh alam semesta ini begitu indahnya!


Here it is...

What?!
Ketika matahari sudah sepenuhnya terbenam, saya terkejut menyaksikan lautan manusia yang mulai bergerak meninggalkan view point. Lautan manusia itu terlihat bagai semut yang mengaliri gang-gang sempit menuju halte bus Oia. Suasana padat dan ramai, membuat saya malas untuk ikutan nyempil di antara ratusan wisatawan. Saya pun memutuskan berhenti di sebuah tavern/resto kecil menghadap ke kaldera. Menikmati seporsi Moussaka ditemani segelas sangria dengan pemandangan kelap-kelip lampu di sepanjang kaldera, menutup indahnya sore itu di Oia.

Oia by night

lovely hand crafted cross


4. Perissa

Bagian timur dan tenggara pulau Santorini terdiri dari pantai-pantai berpasir hitam, yaitu Kamari, Perivolos, dan Perissa. Daerah ini terkenal dengan wisata kuliner seafood serta pantainya yang landai. Beberapa hotel dan resort pinggir pantai menawarkan suasana pantai yang landai dan bisa dipakai untuk leyeh-leyeh ataupun berenang. Jejeran sunbeds berpayung jerami terlihat cantik menghiasi pantai di Kamari, Perivolos, dan Perissa. Hostel-hostel murah pun banyak tersebar di kawasan ini. Jika mau liburan lumayan lama di Santorini, Perissa bisa jadi alternatif pilihan akomodasi untuk mendapatkan suasana pantai yang lebih tenang dan berbeda dari kawasan sepanjang kaldera barat seperti Fira, Firostefani, hingga Oia.



Perissa Beach
 Selama di Santorini, saya menginap di sebuah youth hostel di kawasan pantai Perissa. Selain murah meriah, kawasan ini juga sepi dari hiruk pikuk wisatawan. Harga makanan dan penginapan pun jauh lebih murah di banding dengan area kaldera sisi barat pulau. Sebuah pilihan tepat bagi traveler on budget seperti saya yang hanya menggunakan kamar tidur selama beberapa jam di malam hari, karena sepanjang hari hingga malam saya gunakan untuk blusukan kesana kemari.

Saya tidak banyak menghabiskan waktu di pantai Perisa. Hanya sekedar berjalan-jalan pagi di sepanjang bibir pantai berpasir hitam, merasakan deburan ombak menghempas perlahan di sela-sela jemari kaki saya. Banyak terlihat anak-anak kecil bermain pasir di temani orang tua mereka yang asyik berjemur. Perissa memang cocok untuk wisata keluarga, dengan pantai landai dan bebas dari tangga naik turun dan tebing curam. Seafood tavern pun berjejer dengan rapi di sepanjang boulevard pantai dengan aroma seafood bakar yang menggoda selera siapapun yang melewatinya.


The Black Sand Beach

5. Akrotiri

Bagian barat daya pulau Santorini memanglah tidak seramai bagian kaldera sisi barat pulau. Namun Akrotiri yang masih less-developed itu mempunyai daya tarik tersendiri, baik bagi para pecinta situs arkeologi maupun pemburu pantai cantik. Di Akrotiri, terdapat sebuah situs arkeologi seluas 1,2 hektar yang bisa di eksplore oleh para pecinta sejarah. Namun saya yang jiwanya anak pantai ini lebih memilih trekking ke bukit-bukit di sepanjang tepi laut untuk menemukan dua pantai yang lumayan kece, Red Beach dan White Beach!

Air laut yang biru tampak kontras dengan bebatuan bergradasi warna kemerahan di Red Beach. Pantai Red Beach ini berpasir sedikit, selebihnya berupa bebatuan kecil (pebbles). Baik pasir maupun bebatuannya berwarna orange tua kemerahan. Dinding tebing batu yang menaungi pantai ini pun berwarna merah. Banyak bule-bule yang berjemur di bawah payung pantai sewaan, ada juga beberapa turis Asia yang asyik foto-foto, saya pun menggelar kain pantai saya di bawah naungan bayang-bayang tebing batu merah dan mulai selonjoran sambil menikmati bekal makan siang saya.


Red Beach

The trekking track
Di sebelah Red Beach ini ada pantai lain yang sangat kontras warna nya, yaitu White Beach. Sesuai namanya, White Beach ini berpasir sedikit putih dan tebing batu kapur di belakangnya pun berwarna putih. Sayang nya White Beach hanya bisa dicapai dengan boat dari Red Beach maupun Akrotiri. Belum ada akses untuk pejalan kaki saat itu. Untuk mencapai kedua pantai unik ini, bisa lewat jalur laut. Nah, cocok nih buat yang tidak suka berjalan jauh apalagi tanjakan dan turunan berbatu, bisa menumpang boat/yacht dari Akrotiri beach langsung ke Red Beach dan White Beach, dengan membayar sekitar 5 untuk perjalanan bolak-balik. Namun siap-siap untuk diturunkan di air laut dangkal setinggi paha atau pinggang jika naik boat, karena boat-boat tersebut tidak bisa menepi di pantai dikarenakan banyak terdapat batu-batu karang. Sedangkan untuk yang suka tantangan, bisa berjalan kaki di jalur bebatuan menanjak. Dari Akrotiri bus stop bisa langsung jalan kaki ke kanan dan ambil jalur di sepanjang pantai hingga membelah perbukitan batu. Saran saya, pakai sepatu trekking untuk menghindari terpeleset atau tersandung bebatuan. Bawa saja sandal jepit untuk main-main air di pantai nya.

Pardon my selfie! :))
Sebetulnya masih banyak tempat-tempat menarik yang bisa dilihat di Santorini. Namun karena keterbatasan waktu yang saya miliki, saya tidak sempat mengeksplorasi semua sudut pulau cantik tersebut. Saya hanya menghabiskan 4 hari 3 malam di Santorini. Karena belasan kota lain di berbagai negara sedang menunggu kunjungan saya selanjutnya dalam summer trip kali itu. So, ikuti terus kelanjutan cerita blusukan saya di Eropa Tengah dan Timur dalam cerita-cerita saya selanjutnya! Stay tuneee…. ;)


Santorini oh Santorini...

Saturday, November 5, 2016

A Lil' Step to... Santorini! (Part I)

Suhu sore itu lumayan hangat sekitar 20an derajat celcius ketika saya menggendong ransel menuju Copenhagen airport, international departure gate. Sembari tak henti senyum-senyum sendiri karena membayangkan besok pagi akan melihat sunrise di pulau impian, Santorini! Ya setelah beberapa tahun menggantungkan impian di dalam kalbu untuk menginjakkan kaki di sebuah pulau cantik di Yunani, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi utama saya ketika memutuskan untuk merantau ke Eropa. Meskipun banyak yang berpendapat Santorini itu terlalu mainstream, saya tidak peduli. Kita punya mimpi kita masing-masing. Saya punya mimpi menginjakkan kaki di Santorini Yunani, sama halnya dengan orang-orang yang punya mimpi menginjakkan kaki di Paris Perancis. Yunani memang tidak hanya Santorini, sama halnya Perancis tidak hanya tentang Paris atau Belanda tak hanya tentang Amsterdam dan Volendam. Kita semua pasti punya mimpi yang berbeda. :) So, live it!

Blue and white Santorini


Santorini in a budget? It’s possible, asal nggak rewel dan manja!

Perjalanan saya menuju Santorini kali itu menggunakan direct flight dari Norwegian Air. Hanya butuh waktu 3,5jam untuk tiba di Thira Airport, Santorini. Berhubung saya ambil flight jam 9 malam, saya tiba di Santorini sekitar tengah malam, dimana public bus untuk ke downtown sudah tidak tersedia. Dan saya tahu itu. Makanya saya sudah mempersiapkan diri untuk menginap di emperan Thira Airport malam itu. Sayangnya, Thira Airport tidak begitu proper untuk dipakai bermalam. Maklum airportnya sangat kecil dan space yang tersedia pun tidak banyak untuk tiduran. Saya memanfaatkan bangku ruang tunggu untuk menginap malam itu. Untungnya saya bukan tipe orang yang rewel atau repot ketika berurusan dengan tidur. Berbekal tas ransel sebagai bantal, celana panjang dan jaket, serta eye mask untuk tutup mata, saya pun berhasil tidur-tidur ayam di ruang tunggu airport. Hanya satu hal yang bikin saya tidak nyenyak tidur malam itu, angin laut! Letak airport yang persis di tepi laut dan ruang tunggu yang pintunya terbuka lebar tanpa sensor otomatis, sukses membuat angin laut bebas menyambar-nyambar saya dengan kekuatan yang saya pikir badai. Hahaha... Untung Tolak Angin selalu tersedia di tas. Malam itu pun aman terlalui tanpa masuk angin. :)


Ruang tunggu Thira Airport


Pagi hari jam 5:30an saya terbangun oleh suara orang-orang yang rupanya adalah sopir-sopir bus dan taxi yang mulai berdatangan untuk menjemput tamu-tamu dari flight pertama pagi itu. Rupanya saya tidak tidur sendiri di ruang tunggu airport itu. Ada pasangan traveler dari Singapore, seorang wanita dari Denmark, dan seorang pria dari Amerika. Kami semua traveler yang tiba pada tengah malam dan memutuskan untuk menunggu bus pertama keesokan harinya. Setelah ngobrol sejenak dengan mereka, perhatian saya teralihkan oleh sinar kekuningan pertama yang jatuh di air laut. Oh... Sunrise di Santorini! Puas memandangi bulatan oranye yang perlahan menyembul dari horizon, saya pun melangkahkan kaki menuju bus pertama yang akan bertolak ke downtown Santorini, Fira.


first light in the horizon
Bus yang saya tumpangi berhenti di terminal Stathmos Leoforion central bus station di desa Fira. Karena saya menginap di sebuah hostel murah di bagian tenggara Santorini, tepatnya di Perissa Beach, saya harus ganti bus untuk menuju ke sana. Rencana awal yang saya susun beberapa bulan sebelumnya, saya akan menginap di sebuah exclusive backpacker hostel di pusat desa Fira, seharga €20/malam. Namun karena pertimbangan untuk menekan biaya selama perjalanan satu bulan, saya memutuskan untuk menginap di Perissa saja dengan tarif €5/malam. Lumayan hemat bukan? Memang sih konsekuensi nya, saya harus naik bus selama kurang lebih 40 menit setiap kali menuju dan dari downtown Fira. Tetapi harga bus PP pun cuma sekitar €4, tetap lebih murah pengeluaran perharinya jika tinggal di Perissa.

Saya menginap di sebuah youth hostel di kamar berkapasitas 20 orang dengan bunkbed. Haha, terdengar seperti sebuah camp barak tentara ya! Tapi ternyata ruangannya lumayan luas dan tidak terlalu sumpek pada malam hari. Namun jangan coba-coba berdiam diri di kamar saat siang hari kalau tidak mau megap-megap di ruangan tanpa AC tersebut. Suhu Santorini pada saat saya disana sekitar 38-41 derajat celcius setiap harinya. Terbayang kan betapa panasnya? Hostel ini tidak menyediakan sarapan. Jadi saya menyetok sarapan berupa croissant dan roti, serta berbotol-botol air minum. Setiap orang mendapat jatah satu lemari yang lumayan besar untuk menyimpan ransel dan persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. Di sekitar hostel ada banyak tempat makan yang harganya jauh lebih murah ketimbang di downtown. Saya seringkali membeli Pita Gyros atau Souvlaki, take away untuk bekal makan siang saat blusukan di Santorini. Itulah fungsinya membawa lunch box dan botol minum. Traveler on budget seperti saya ini tidak bisa makan di restaurant setiap saat jika mau survive traveling selama sebulan. 


Youth Hostel Anna (pict credit to hostelworld)

Mix Dorm Room €5/malam (pict credit to tripadv)


Selesai check in di hostel, saya membeli sarapan dan membungkus makan siang. Totebag pun sudah ready dengan lunch box, air minum, sun block, topi, sandal jepit, kipas, tissue, dan map. Saya siap untuk mengeksplorasi pulau Santorini selama beberapa hari ke depan!





Eh, Indonesia juga?!

Siang itu saat saya tengah menunggu bus di sebuah halte di pinggir jalan berdebu dekat pantai Perissa, terlihat dua orang gadis berparas Asia berjalan mendekat ke halte tempat saya duduk. Mereka tersenyum sepintas kepada saya. Saya pun basa-basi menyapa mereka dengan menggunakan bahasa Inggris, lalu iseng bertanya “where are you girls from?” dan mereka menjawab “Singapore”. Oh, tetangga… Pikir saya. Saya pun dengan sok akrab bilang “Hey… we are neighbor then! I’m from Indonesia!” sambil tersenyum manis. Eh tau-tau salah satu dari mereka menjawab “Oh? Kita juga orang Indonesia koq. Cuma tinggal di Singapore”. Oalaaahhhh… ternyata jauh-jauh ke Santorini bisa ketemu orang Indonesia juga tho! Hahaha… Kedua gadis ramah ini, Satha dan Erika, adalah pramugari sebuah maskapai ternama di Singapore. Mereka sedang memanfaatkan libur singkat di antara jadwal terbang mereka, dengan mengunjungi Santorini.

Akhirnya siang itu kami barengan pergi ke downtown naik bus dan jalan sebentar di seputaran Fira, sebelum akhirnya saya pamit memisahkan diri karena mau lanjut blusukan ke desa-desa selanjutnya. Tak lupa kami saling bertukar kontak social media, dan hingga kini kami masih berteman.



Teman2 baru, Erika dan Satha :)

Salah satu keuntungan bersolo traveling ya gini, bisa dapat teman-teman baru dengan mudah. Karena kalau pergi sendiri saya pasti gatel pengen ngajak ngomong orang lain hahaha… Beda halnya kalau kita pergi bersama teman-teman, pasti akan cenderung ngobrolnya dengan teman sendiri ketimbang sama orang asing kan. Tapi kalau sendirian, mau nggak mau harus ngomong sama orang asing, daripada gila ngomong sendiri. Apalagi kalau kamu tipe orang cerewet seperti saya! :)



Hemat nggak selalu kere kan?

Berhemat saat sedang traveling on budget itu memang perlu, tapi tidak harus kere juga kan. Saya bisa menghemat dalam hal akomodasi, transport, dan belanja ketika saya backpackingan. Tetapi soal makanan, saya yang termasuk suka kulineran ini nggak mau menyia-nyiakan kesempatan mencicipi makanan khas lokal. Meskipun bukan dengan cara duduk cantik dinner di restaurant atau café mahal dengan view jutaan dollar, saya masih bisa menikmati kuliner di stand-stand makanan atau restaurant yang terjangkau kantong saya. Intinya, cobain! Jangan sampai menyesal karena pergi ke suatu tempat tapi tidak mencoba makanannya.

Trik hemat saya selama di Santorini adalah sarapan sesuatu yang bisa dibeli di mini market dekat hostel. Pilihannya beragam, mulai dari roti, cold sandwich, buah-buahan, susu, dan yogurt. Belanja untuk sarapan di mini market sangatlah murah, hanya 2-4 sudah kenyang. Masih bisa beli air minum 1,5l pula untuk bekal blusukan siang harinya. Tak lupa saya juga beli croissant dan apel untuk bekal snack selama perjalanan. Karena rata-rata eksplorasi saya di Santorini berupa trekking dan jalan kaki, maka bekal air minum yang cukup dan snack sangatlah membantu jika mendadak lapar sebelum jam makan.


Sarapan & snack favorit selama di Santorini

Untuk lunch, saya lebih sering membeli take away Pita Gyros atau Souvlaki (hampir setiap hari). Selain mengenyangkan, makanan itu juga praktis karena bisa saya masukkan di lunch box untuk bekal makan siang. Tak lupa buah, seperti apel dan pisang, selalu setia menyertai lunch box saya. Saat lunch time, saya memilih spot-spot ciamik untuk duduk dan menikmati pemandangan Santorini sembari makan. Bisa di bawah pohon, di pinggir tebing, atau pun di tepi pantai. Yang penting selama tempat itu free untuk duduk-duduk, saya bebas leyeh-leyeh selonjoran sambil makan siang. See? Lunch with the view was not always cost you a lot! ;)


Obelix's Pita Gyros for lunch

Nah, untuk dinner, bolehlah agak fancy sedikit (meski nggak bisa setiap hari juga). Saya biasanya makan malam ‘agak bener’ sedikit alias makan memakai piring dan cutleries. Ada resto-resto dan café yang tidak terlalu meroket harganya baik di Fira, Oia, maupun Perissa. Asal pintar-pintar melirik daftar menunya sembari lewat. Di Oia contohnya, saya makan malam dengan pemandangan ciamik lampu-lampu caldera bak kunang-kunang, di sebuah tavern kecil dengan harga yang cukup bersahabat. Saya makan Greek salad dan Moussaka serta segelas Sangria, tak lebih dari 12. Porsinya pun cukup mengenyangkan dan Moussaka nya enak! Di Perissa, saya makan salad, ayam panggang, kentang, serta sebotol bir hanya seharga 9 saja. Plus disuguhi nonton pertandingan sepak bola Piala Dunia gratis dari layar besar yang terbentang di dalam restaurant. Jadilah malam itu saya dinner sambil nonton bola bersama room mates.

Pork Souvlaki
whole plate for only €7


Naik bus vs share cost taxi

Cara paling gampang dan murah keliling santorini adalah naik public bus. Namun kendalanya, timetable bus terkadang sering meleset alias tidak on time. Patokannya, bus lewat di halte tiap 30-45 menit sekali. Selain itu, bus dari dan ke downtown biasanya selalu penuh penumpang terutama saat high season, jadi siap-siap untuk berdiri sepanjang perjalanan ya! Namun naik bus di Santorini juga cukup mengasyikkan. Bisa dapat teman baru yang ketemu di halte saat sama-sama menunggu bus atau sama-sama gelantungan di dalam bus. Hehe…


Percaya nggak si ganteng itu adalah kernet bus? :))

Kalau sedang malas menunggu bus dan sedang diburu waktu mengejar jadwal keberangkatan pesawat atau ferry, kita bisa cari barengan ke sesama traveler untuk naik taxi dan share cost. Seperti siang itu saat saya tengah menunggu bus tujuan pelabuhan Santorini. Bersama saya ada 3 cowok asal Kanada yang juga sedang menunggu bus. Namun bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba juga, sedangkan waktu kian menipis untuk berhasil menuju pelabuhan berjarak hampir 11km itu sebelum jadwal ferry kami berangkat ke Athens. Diskusi sebentar, akhirnya kami memutuskan memanggil taxi dan patungan bayar ongkos ke Pelabuhan. Untuk sebuah taxi jenis van, per orang membayar 5,5. Not bad at all, mengingat perjalanan ke pelabuhan dapat ditempuh dengan waktu sangat singkat karena si pak sopir ngebut nyetirnya! Haha… Jadilah kami tidak ketinggalan ferry. Cara yang cukup efektif daripada menunggu bus bertarif 2,40 yang tidak bisa dipastikan jam kedatangannya itu.



Lewat udara atau laut?

Nah, biasanya orang sering bertanya nih enaknya lewat jalur udara atau laut ya menuju dan dari Santorini. Jawabannya, depends. Tergantung kebutuhan, budget, dan ketersediaan waktu. Kalau mau meminimalis waktu tempuh, pesawat jawabannya. Kalau mau budget dan tidak sedang terburu-buru, ya naik ferry. Saya menggunakan kedua jenis transport tersebut. Terbang dari Copenhagen langsung ke Santorini adalah pilihan tepat karena sangat meminimalis waktu ketimbang harus mampir Athens dan melanjutkan dengan ferry. Sebaliknya, ketika meninggalkan Santorini menuju Athens, saya menggunakan ferry. Selain karena sedang tidak terburu-buru, saya juga ingin merasakan pengalaman menyeberangi laut Aegean dan melewati kepulauan Cyclades. Selain itu, saya dengar ferry di Yunani itu sangat nyaman dan bagus. Saya pun tak ingin menyiakan kesempatan mencoba naik ferry di Yunani, sekaligus ingin tahu apa bedanya dengan ferry-ferry di Scandinavia. Untuk kelas ekonomi, saya membayar tiket sekitar €38. Dengan fasilitas ruang penumpang luas ber-AC dan kursi sofa juga tersedia.

Economy class
Rombongan band anak SD

view desa Oia dilihat dari ferry

Perjalanan mengarungi laut Aegean menuju Athens memakan waktu 8 jam, dengan dua kali stopover di pulau lain. Kapal ferry besar itu lengkap dengan area pertokoan, café, dan stand makanan siap saji. Jadi jangan takut kelaparan di tengah perjalanan. 8 jam perjalanan itu tidaklah terasa panjang karena di dalam kapal, saya bertemu serombongan grup penari dari salah satu universitas di Athens. Kami berbagi meja dan saling bertukar cerita. Juga serombongan murid-murid SD yang rupanya adalah grup orchestra junior. Kedua rombongan ini rupanya baru saja menghadiri sebuah pentas seni tahunan di Santorini. Sepanjang perjalanan saya dihibur oleh suara-suara merdu instrument music yang dimainkan anak-anak berbakat tersebut. Saya memanfaatkan 8 jam perjalanan itu untuk menulis laporan jurnalistik saya, dan tak lupa mewawancara beberapa dari para penumpang itu sebagai narasumber. Sembari menikmati jejeran pulau-pulau bertabur bangunan cat putih di laut Aegean, saya menuliskan perjalanan ini ke dalam jurnal yang pada akhirnya mampu saya selesaikan hari ini. :)


Writing onboard